Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Menggalang Dana dari Pasar Modal

Selasa, 29 Agustus 2017 | 10:05 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Pasar modal Indonesia masih menjadi sumber penggalangan dana (fundraising) yang menjanjikan. Buktinya, dana yang berhasil digalang dari pasar modal domestik terus meningkat, baik melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, emisi obligasi korporasi, maupun lewat penerbitan saham baru untuk menambah modal (rights issue).

 

Selama tahun berjalan (year to date/ ytd) atau sejak Januari hingga Agustus 2017, mobilisasi dana dari pasar modal dalam negeri mencapai Rp 153,65 triliun, naik 42% dibanding periode sama tahun silam. Bila kondisinya tetap kondusif, penggalangan dana dari pasar modal tahun ini bisa menjadi yang terbesar sepanjang sejarah, mengalahkan tahun lalu senilai Rp 195 triliun.

 

Besarnya dana yang dijaring dari pasar modal tahun ini mengindikasikan para penggalang dana, di satu sisi, dan para pemilik dana (investor), di sisi lain, sama-sama optimistis bahwa prospek perekonomian nasional tetap cerah. Ini sekaligus menunjukkan bahwa para pencari dana maupun pemilik dana menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap pasar modal dalam negeri.

 

Tingginya kepercayaan para investor terhadap pasar modal domestic bisa dimaklumi. Pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) memecahkan rekor ter tinggi di level 5.915,36. Indeks saham berpeluang rally menuju level 6.000-6.200 pada pengujung tahun ini dengan beberapa koreksi sehat. Selama tahun berjalan, IHSG sudah tumbuh 11,45% dengan price to earning ratio (PER) rata-rata 14,3 kali yang masih tergolong rendah.

 

Optimisme terhadap prospek perekonomian di dalam negeri juga sangat wajar. Pertumbuhan ekonomi nasional telah direvisi menjadi 5,2% dalam APBN-P 2017 dibanding 5,1% dalam APBN. Bahkan, dalam RAPBN 2018, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%.

 

Tak kalah penting, APBN kini semakin terkelola dengan baik (manageable). Karena itu pula, lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s (S&P) pada Mei lalu memberikan peringkat layak investasi (investment grade) untuk utang pemerintah, mengikuti jejak lembagalembaga pemeringkat internasional lainnya.

 

Kita berharap mobilisasi dana dari pasar modal domestik terus meningkat. Besarnya dana yang dijaring dari pasar modal dalam negeri bakal menentukan ‘bobot’ pasar modal itu sendiri. Semakin besar dana yang digalang, akan semakin tinggi citra dan gengsi pasar modal di dalam negeri.

 

Begitu pula sebaliknya. Harus diakui, kontribusi dana pasar modal terhadap produk domestik bruto (PDB) masih minim. Dengan asumsi tahun ini penggalangan dana dari pasar modal mencapai Rp 200 triliun, berarti rasio dana pasar modal tak sampai 2% terhadap PDB nasional senilai Rp 12.406 triliun.

 

Paling penting, besarnya dana yang digalang pasar modal bakal turut menentukan arah dan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional. Semakin banyak perusahaan yang menggelar IPO saham, menerbitkan obligasi, dan melangsungkan rights issue, semakin besar pula sumbangsih pasar modal dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional Setiap tahun, ribuan triliun rupiah digelontorkan perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa (listed company), baik berupa belanja modal (capital expenditure/capex) untuk ekspansi bisnis, maupun dalam bentuk belanja operasional (operating expenditure/opex) untuk menjaga kesinambungan perusahaan.

 

Saat ini terdapat 555 perusahaan tercatat (listed company) di bursa saham domestik. Kian besar capex dan opex dikucurkan listed company, kian besar peluangnya dalam membuka lapangan kerja, meningkatkan penerimaan pajak, dan menghasilkan intermediasi ekonomi bagi sektor riil.

 

Selain turut menggairahkan sektor riil, mobilisasi dana di pasar modal berdampak langsung terhadap distribusi pendapatan masyarakat di Tanah Air melalui nilai tambah portofolio saham, obligasi, reksa dana, dan produk-produk derivatifnya. Saat ini terdapat sekitar satu juta investor di pasar modal dalam negeri.

 

Atas dasar itulah kita mendorong otoritas bursa saham (BEI), otoritas pasar modal (Otoritas Jasa Keuangan/ OJK), dan pemerintah secara keseluruhan menjaring lebih banyak listed company atau penerbitan obligasi korporasi. Dengan memperbanyak listed company, pemerintah sejatinya bukan hanya mendorong mediasi dan pertumbuhan ekonomi, tapi juga memperkuat fundamental ekonomi nasional. Tak bisa dimungkiri, listed company punya peluang lebih besar untuk bertahan, tumbuh, berkembang, dan menghasilkan keuntungan karena mereka wajib menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG).

 

Bila ditopang perusahaan-perusahaan mapan, perekonomian nasional akan tumbuh lebih pesat dan inklusif. Ekonomi bakal benar-benar tumbuh berkualitas, bukan sekadar bertumbuh, bukan pula pertumbuhan semu, rawan kesenjangan, dan hanya dinikmati segelintir orang.  (*)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN