Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Warga sedang melintas di perumahan Puri Saka Panjang, Bogor, Jawa Barat.  Foto ilustrasi:Beritasatu Photo/Uthan AR

Warga sedang melintas di perumahan Puri Saka Panjang, Bogor, Jawa Barat. Foto ilustrasi:Beritasatu Photo/Uthan AR

Menggerakkan Mesin Ekonomi

Senin, 22 Februari 2021 | 11:34 WIB
Investor Daily

Penularan pandemi Covid-19 yang melonjak tajam selama satu setengah bulan pertama 2021 me maksa berbagai pihak untuk merancang ulang prediksi pertumbuhan ekonomi 2021. Selama mobilitas manusia dibatasi, selama itu pula ekonomi akan bergerak terbatas. Apalagi data pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2020 tidak seperti prediksi sebelumnya.

Pada kuartal IV-2020, ekonomi mengalami kontraksi 2,19% dan ekonomi tahun pandemi itu minus 2,07%. Bertumbuh minus selama tiga kuartal bertu rutturut, Indonesia berada di fase reses ekonomi. Setelah bertumbuh 2,97% pada kuartal I-2020, ekonomi Indonesia kontraksi 5,32% pada kuartal II dan 3,54% di kuartal III.

Meski masih minus dan dalam resesi, ekonomi Indonesia sudah menunjukkan sedikit perbaikan. Dalam infografis terlihat jelas pertumbuhan ekonomi tahun 2020 membentuk simbol Nike. Setelah mencapai titik terendah di kuartal II, ekonomi Indonesia membaik dengan kont raksi yang tidak sedalam kuartal sebelumnya.

Diharapkan, laju pertumbuhan ekonomi kuartal I-2021 lebih baik dibanding kuartal sebelumnya meski masih minus. Tahun ini, prediksi laju pertumbuhan 4,5-5,5% kembali dipertanyakan. Bank Indonesia (BI) yang pernah memproyeksikan pertumbuhan 4,8-5,8% meninjau kembali prediksinya. Penurunan angka penularan pandemi merupakan prasyaratbagi semua prediksi. Untuk menurunkan dan menghentikan angka penularan Covid-19, solusinya bukan cuma vak sinasi.

Hari ini, makin banyak orang berpendapat bahwa vaksinasi bukan satu-satunya game changer. Karena setelah divaksi nasi pun belum ada hasil kajian yang menyatakan bahwa imunitas yang ditimbulkan oleh vaksinasi bisa bertahan seumur hidup. Yang ada baru spekulasi bahwa vaksin hanya memberikan imunitas enam hingga 12 bulan. Kondisi ini mengingatkan kita bahwa game changer sesungguhnya adalah gaya hidup. Saat ini dan ke depan, perilaku yang harus menjadi gaya hidup kita se mua adalah “pelaksanaan protokol kesehatan”.

Setiap orang harus tetap memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan. Gaya hidup dengan menerapkan “3M” ini baru boleh mengendur setelah ada kepastian bahwa imunitas kelompok sudah terbentuk dan imunitas itu bisa bertahan seumur hidup, atau minimal lebih dari satu-dua tahun.

Dalam kondisi seperti inilah ekonomi dicoba untuk didorong dengan berbagai stimulus, baik stimulus fiskal dari pemerintah, stimulus moneter dari BI,maupun stimulus keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ketiga otoritas sesungguhnya sudah memberikan stimulus, namun dinilai belum cukup oleh para bankir dan pelaku bisnis.

Selama daya beli masyarakat masih rendah dan kelas menengah-atas belum berbelanja, ekonomi belum bergerak. Berbagai produk sekunder baru ada permintaan riil jika kelas menengah-atas sudah mulai berbelanja.

Pada tahun 2020, pemerintah sudah mengalokasikan stimulus hingga Rp695,2 triliun dan teralisasi Rp 579,8 triliun atau 83,4%. Sedang pada 2021, stimulus dinaikkan beberapa kali hingga Rp 688,3 triliun. Ada kemungkinan dana program Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) dinaikkan lagi.

Selain menurunkan suku bunga acuan dan berbagai stimulus moneter, BI telah mengucurkan quantitative easing (QE) hingga Rp 750,38 triliun. Dalam satu setengah bulan terakhir, QE sudah belasan triliun dan BI 7-day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan sudah diturunkan hingga 3,5% atau terendah sepanjang sejarah bank sentral. BI juga melonggarkan ketentuan down payment (DP) atau uang muka kredit dan pembiayaan kendaraan bermotor dan rasio loan to value dan financing to value (LTV/FTV) kredit atau pembiayaan properti.

Sebelumnya, pemerintah memangkas pajak penjualan barang me wah (PPnBM) kendaraan bermotor berkapasitas mesin 1.500 cc ke bawah dengan kandungan lokal minimal 70%. Setelah melakukan sejumlah relaksasi, OJK merelaksasi ketentuan kredit dan pembiayaan, antara lain melalui penurunan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) yang dikaitkan dengan LTV ratio, profil risiko, dan batas maksimum pemberian kredit (BMPK).

Kebjakan OJK berlaku bagi kendaraan bermotor, rumah tinggal, dan sektor kesehatan. Berbagai stimulus dan relaksasi ketentuan kredit yang diberikan pemerintah, BI, dan OJK di sektor otomotif, properti, dan kesehatan diapreasaisi para bankir dan pelaku bisnis. Meski demikian, relaksasi bukan satu-satunya faktor yang bisa mendorong kredit.

Dalam kondisi pandemi, DP 0% bisa memperburuk kualitas kredit jika tidak dilakukan dengan hati-hati risiko kredit   harus tetap menjadi perhatian utama di tengah permintaan yang masih melemah akibat turunnya daya beli masyarakat mene ngahbawah dan kelas menengah-atas yang belum merasa nyaman untuk belanja.

Para bankir dan pelaku bisnis meminta tambahan stimulus dan subsidi, serta insentif pajak. Ada sejumlah jenis pajak yang diturunkan tarifnya dan dibebaskan. Bagi masyarakat mene ngahbawah, tambahan dana stimulus sangat penting untuk menambah daya beli.

Sedang penambahan kuota pembangunan rumah bersubsidi lewat PT BTN Tbk, baik melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Subsidi Selisih Bunga (SSB), maupun Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) dari pemerintah, akan mendongkrak penjualan rumah masyarakat menengah-bawah. Ada sejumlah sentimen positif yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pertama, paraturan pelaksanaan UU Cipta Kerja sudah hampir semuanya rampung dan mulai diimplementasikan. Ada 45 peraturan pelaksanaan PP dan empat peraturan pelaksanaan perpres yang sudah rampung. Kedua, stimulus dan relaksasi akan terus berlanjut.

Dalam kondisi kontraksi ekonomi akibat pandemi, stimulus akan terus diberikan hingga ekonomi bergerak. Ketiga, vaksinasi berjalan bagus dan pengendalian penyebaran pandemic Co vid-19 menunjukkan tren membaik. Pemberlakuan pembatasan kegiatan ma syarakat (PPKM) mikro bakal terus menekan angka positif Covid.

Kondisi ini akan membangkitkan rasa nyaman kelas menengah-atas untuk berbelanja. Mesin ekonomi akan bergerak cepat jika pandemi bisa diatasi, paling tidak ada tanda-tanda perbaikan. Dan tanda-tanda itu sudah terlihat..

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN