Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden RI Joko Widodo (tengah) didampingi: Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua OJK Wimboh Santoso, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen, membuka perdagangan saham awal tahun 2020, Jakarta, (2/1/2020). Pada awal pembukaan perdagangan, IHSG berada di level tertinggi 6.317,01 dan terendah di 6.305,39. Sebanyak 104 saham menguat dan mendorong IHSG ke zona hijau. Sedangkan 94 saham melemah dan 135 saham diam di tempat. Investor Daily/David Gita Roza

Presiden RI Joko Widodo (tengah) didampingi: Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua OJK Wimboh Santoso, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen, membuka perdagangan saham awal tahun 2020, Jakarta, (2/1/2020). Pada awal pembukaan perdagangan, IHSG berada di level tertinggi 6.317,01 dan terendah di 6.305,39. Sebanyak 104 saham menguat dan mendorong IHSG ke zona hijau. Sedangkan 94 saham melemah dan 135 saham diam di tempat. Investor Daily/David Gita Roza

Menjaga Kepercayaan Pasar

Senin, 6 Januari 2020 | 12:04 WIB
Investor Daily

Para pelaku pasar memasuki tahun 2020 dengan optimisme di dada. Mereka yakin, harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini akan meningkat signifikan. Jika kepercayaan pasar mampu dijaga, keyakinan pasar itu bisa terwujud. Pada akhir 2020, indeks akan menembus 7.243, naik 15% dari penutupan perdagangan saham 2019.

Meski ada yang buntung karena kesalahan dalam mengelola portofolio dan juga menjadi korban praktik manipulasi pelaku pasar, investasi saham dalam rentang waktu minimal sepuluh tahun, jauh lebih menguntungkan dibanding investasi di bidang mana pun.

Dalam sepuluh tahun terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG), rata-rata, naik 14,3% setahun. Sedangkan dalam rentang sepuluh tahun sebelumnya, 1999-2009, indeks rata-rata naik 27,4% setahun.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah investor terus bertambah. Saat ini, jumlah investor sudah di atas 2,3 juta. Dari jumlah itu, 1,2 juta adalah investor saham. Sekitar 1,6 juta adalah investor saham sekaligus reksa dana. Dengan kemajuan aplikasi digital, jumlah investor milenial, berusia di bawah 30 tahun, sudah di atas sejuta orang.

Perkembangan jumlah emiten tidak terlalu cepat meski dalam tiga tahun terakhir ada emiten baru di atas 35 setiap tahun. Pada tahun 2019, ada 58 emiten baru yang dicatatkan di BEI dengan nilai IPO Rp 14,7 triliun.

Pada perdagangan saham di BEI, Jumat (3/1/2020), jumlah emiten 668 dengan nilai kapitalisasi Rp 7.291 triliun. Hari itu, perdagangan saham di BEI ditutup pada level 6.323. Walau pelan, inklusi keuangan mulai meluas.

Masyarakat mulai melirik pasar modal sebagai salah satu lahan investasi. Kehadiran sejumlah sekuritas yang menjual saham dan reksa dana lewat internet dan menyediakan aplikasi di smartphone untuk top up dan trading ikut mendongkrak jumlah investor. Tapi, di sini juga bahayanya.

Saat membuka perdagangan saham di BEI, Kamis (2/1/2020), Presiden Jokowi mengingatkan pelaku pasar untuk menjaga kredibilitas pasar modal. Ia meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan manajemen BEI untuk membersihkan pasar modal dari praktik kotor jual-beli saham. Pasar modal harus bebas dari para manipulator guna membentuk sebuah pasar yang berintegritas.

Presiden RI Joko Widodo (tengah) didampingi: Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua OJK Wimboh Santoso, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen, membuka perdagangan saham awal tahun 2020, Jakarta, (2/1/2020). Pada awal pembukaan perdagangan, IHSG berada di level tertinggi 6.317,01 dan terendah di 6.305,39. Sebanyak 104 saham menguat dan mendorong IHSG ke zona hijau. Sedangkan 94 saham melemah dan 135 saham diam di tempat. Investor Daily/David Gita Roza
Presiden RI Joko Widodo (tengah) didampingi: Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua OJK Wimboh Santoso, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen, membuka perdagangan saham awal tahun 2020, Jakarta, (2/1/2020). Pada awal pembukaan perdagangan, IHSG berada di level tertinggi 6.317,01 dan terendah di 6.305,39. Sebanyak 104 saham menguat dan mendorong IHSG ke zona hijau. Sedangkan 94 saham melemah dan 135 saham diam di tempat. Investor Daily/David Gita Roza

Pernyataan keras juga disampaikan Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Saat menutup perdagangan saham di BEI, Senin (30/12/2019), Menkeu mengingatkan OJK dan BEI untuk membersihkan pasar modal dari predator agar investor terlindungi.

Saat mendampingi Presiden Jokowi membuka perdagangan saham awal tahun, Kamis (2/1/2020), Menkeu menekankan pentingnya penerapan good corporate governance (GCG) di pasar modal, terutama oleh emiten, perusahaan sekuritas, dan manajer investasi. Pelaksanaan GCG yang buruk merugikan investor.

Oleh sejumlah pelaku pasar, peringatan Presiden dan Menkeu dinilai cukup keras. Kata “manipulator” dan “predator” cukup memukul pelaku pasar. Mereka khawatir, pernyataan ini menjadi kontraproduktif dalam upaya mendongkrak jumlah investor dan memajukan pasar modal.

Kata “manipulator” dan “predator” mengacu pada praktik sejumlah pelaku pasar yang “menggoreng” saham. Emiten berkapitalisasi kecil biasanya menjadi sasaran. Oleh pelaku “penggorengan”, harga saham dikerek naik meski tidak ditopang kinerja fundamental yang memadai. Hal itu bisa dilakukan karena mereka menguasai mayoritas saham emiten yang menjadi sasaran “penggorengan” Pada saat harga saham sudah melambung, para “penggoreng” pelanpelan melepas untuk meraup capital gain. Praktik ini merugikan investor yang tidak ikut dalam “orkestra” permainan goreng-menggoreng saham. Harga saham yang sempat melambung jauh pada akhirnya tersungkur dengan korban investor yang awam dalam investasi. Inilah praktik manipulasi yang “memangsa” pemodal kecil.

Teguran keras Presiden diapresiasi. Begitu pula peringatan Menkeu. Namun. Dalam praktiknya, praktik yang merugikan investor sulit dibuktikan. Karena para pelaku tidak bisa diketahui oleh otoritas pasar modal maupun OJK hanya lewat bid dan offer karena yang muncul hanya kode saham.

Ini adalah tantangan bagi otoritas pasar modal dan OJK untuk menertibkan pasar modal. Perlu ada mekanisme yang memungkinkan BEI dan OJK mengetahui siapa pelaku manipulasi dan predator. Para pelaku yang terbukti melakukan manipulasi dan menjadi predator harus dihukum seberat-beratnya. Misalnya, izin usaha sebagai perusahaan sekuritas dan manajer investasi dicabut. Jika mekanisme ini tidak diatur, para pelaku pasar akan merasa diri menjadi objek fitnah.

Kita mengapresiasi pernyataan Presiden dan Menkeu. Untuk menjadi tujuan investasi di tengah persaingan dunia yang kian sengit, pasar modal Indonesia harus bebas dari manipulasi, apalagi praktik predator atau pemangsaan terhadap para investor. Untuk menjadi tujuan investasi, pasar modal Indonesia harus kredibel.

Pada akhir tahun 2019, Bloomberg mengeluarkan hasil survei yang menunjukkan bahwa Indonesia menjadi tujuan utama investasi saham dan obligasi di antara negara pasar berkembang atau emerging market. Survei dilakukan terhadap 57 investor global yang memiliki portofolio investasi di berbagai Negara di dunia.

Perkembangan pasar modal Indonesia masih sangat tergantung pada investor asing. Lebih dari 50% transaksi di BEI adalah order pemodal asing. Tahun 2019 lalu, net buying asing cukup signifikan, mencapai Rp 49,2 triliun, setelah pada 2018 terjadi net selling asing sebesar Rp 50,75 triliun. IHSG yang pada tahun 2009 di level 2.534, pada akhir 2019 sudah mencapai 6.299 atau naik 149% atau rata-rata 14,3% setahun.

Jika dana asing masih terus mengalir ke pasar modal Indonesia, kenaikan indeks hingga 15% tahun ini bukan hal mustahil. Apalagi, pasar modal Indonesia kian bersih dari praktik manipulasi. Laba emiten tahun ini dan tahun 2021 diperkirakan akan naik signifikan. Oleh karena itu, menjaga kepercayaan pasar merupakan tugas semua pihak, baik para pelaku pasar maupun pihak otoritas pasar modal dan OJK.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN