Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia.

Bursa Efek Indonesia.

Menunggu Window Dressing

Investor Daily, Senin, 2 Desember 2019 | 16:21 WIB

Pasar saham disebut-sebut masih dalam tren bullish. Harga saham diperkirakan masih akan rebound, apalagi Desember adalah musim window dressing. Para manajer investasi biasanya melakukan pembelian besar-besaran untuk memperbaiki portofolio mereka.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat di atas 6.400. Namun, akibat berbagai faktor, indeks bergerak turun. Pekan lalu, indeks sempat terjerembab di bawah 6.000 dan ditutup naik tipis ke level 6.011 pada hari Jumat (29/11/2019) atau naik 0,9% dari hari sebelumnya. Dibanding penutupan perdagangan akhir Desember 2018, indeks turun 2,95%. Sedangkan selama setahun terakhir, yoy, indeks terpangkas 1,5%.

Nilai kapitalisasi pasar yang sempat di atas Rp 7.500 triliun, pada pekan lalu tinggal Rp 6.900 triliun. Banyak saham yang kehilangan nilai kapitalisasi, bahkan hingga ratusan triliun. Kapitalisasi saham PT Bank Central Asia Tbk, misalnya, sempat mencapai Rp 830 triliun. Pekan lalu, nilai saham berkode BBCA itu sebesar Rp 762,7 triliun. Nilai PT BRI Tbk yang pernah di atas Rp 550 triliun, pekan lalu tinggal Rp 494,5 triliun.

Pemodal asing lebih banyak menjual daripada membeli. Jika pembelian besar-besaran saham PT Danamon Tbk sebesar Rp 49,6 triliun tidak diperhitungkan, net selling asing di BEI sudah mencapai Rp 8,4 triliun.

Banyak faktor yang membuat asing lebih banyak melepas daripada membeli. Dari faktor teknikal, perang dagang AS-RRT tak henti-hentinya menjadi pemicu. Aksi Presiden Donald Trump yang gemar nge-tweet acap menghempaskan pasar dalam ketidakpastian. Cuitan Trump selalu digunakan pelaku pasar untuk menaikkan dan menurunkan harga saham sesuai tujuan yang hendak dicapai.

Jatuhnya harga saham juga disebabkan oleh forced-sell. Sejumlah manajer investasi ditengarai mengalami masalah akibat penutupan sejumlah reksa dana. Untuk menutup kerugian, manajer investasi meminta eksekusi saham-saham yang menjadi underlying untuk menekan kerugian. Menjual paksa saham tertentu pada harga rendah menyebabkan indeks terjungkal dan terjadi efek domino.

Saham-saham lain ikut anjlok karena forced-sell melanda big cap atau saham berkapitalisasi besar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diimbau untuk lebih cermat dalam mengawasi kinerja manajer investasi. Sejumlah manajer investasi diketahui melakukan investasi yang bertentangan dengan peraturan OJK.

Tidak sulit untuk melihat fenomena ini. Banyak saham berkinerja fundamental bagus ikut terseret turun. Dalam situasi yang karut-marut, pihak tertentu, termasuk manajer investasi, memanfaatkan peluang untuk ikut menekan harga saham dengan target buy low.

Dari sisi fundamental, umumnya emiten masih mencetak laba bersih. Tahun ini, laba bersih emiten diperkirakan naik sekitar 10% setelah tahun lalu meningkat 9%. Sedangkan tahun depan, kenaikan tingkat laba yang sama masih diraih emiten.

Umumnya emiten yang tercatat di BEI adalah market leader di bidangnya, minimal top two atau top three. Dengan jumlah penduduk yang besar dan peluang kenaikan pendapatan yang cukup besar, perusahaan berbasis konsumsi akan mengalami kenaikan laba pada tahun-tahun akan datang.

Membeli saham harus memiliki horizon yang panjang, minimal sepuluh tahun. Dalam sepuluh tahun terakhir, hanya empat tahun indeks mengalami penurunan, yakni pada tahun 2013, 2015, 2018, dan 2019. Enam tahun lainnya, indeks meningkat signifikan. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, rata-rata indeks naik 13,7%.

Dalam tiga tahun terakhir, indeks relatif bergerak datar. Pada akhir 2017 dan 2018, IHSG ditutup pada level 7,052 dan 7.023. Kondisi ini menunjukkan, indeks berpeluang besar untuk meningkat di masa akan datang. Apalagi, kinerja emiten bakal membaik seiring dengan perbaikan ekonomi lima tahun ke depan.

Pemodal yang cerdas akan melihat harga saham berdasarkan valuasi yang tepat. Perhatikan price earning ratio (PER) saham-saham big cap berkinerja bagus dan berprospek cerah. Sektor infrastruktur, misalnya, akan mendapatkan banyak proyek pada lima tahun ke depan.

Proyek infrastruktur yang sudah dikerjakan akan dijual kepada pemda. Kedua pihak akan mendapatkan keuntungan. Pemda akan mendapatkan infrastruktur jalan dan KRL yang sudah dibangun, sehingga memudahkan pengaturan konektivitas. Adapun BUMN akan mendapatkan uang tunai untuk memperbaiki struktur keuangan sekaligus menambah kemampuan untuk mengerjakan proyek baru.

Penurunan harga saham perlu dilihat sebagai big sale di akhir tahun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA