Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Reksa Dana

Reksa Dana

Menyelamatkan Industri Reksa Dana

Investor Daily, Kamis, 12 Desember 2019 | 12:15 WIB

Sering tak disadari, industri reksa dana bukan cuma menentukan maju mundurnya industri pasar saham. Industri reksa dana juga berfungsi sebagai pemecah ombak (breakwater) dan pelampung pengaman (lifebouy) bagi pasar saham saat menghadapi krisis.

Reksa dana bisa menyelamatkan pasar saham yang sedang crash. Reksa dana dapat mengubah gelombang yang menghantam pasar saham, menjadi riak-riak kecil saja. Juga bisa membuat para investor tetap mengambang saat pasar saham karam.

Itu sebabnya, industri reksa dana harus dijaga, dirawat, dan didorong agar tumbuh dan berkembang. Sebab, semakin kuat industri reksa dana, akan semakin imun pula pasar saham dari ancaman krisis.

Maka kita sungguh prihatin terhadap kasus reksa dana yang marak belakangan ini. Dalam sebulan terakhir, masyarakat dikejutkan oleh aksi jual paksa (forced sell) saham yang menjadi underlying asset reksa dana, oleh para manajer investasi (MI).

Masyarakat makin terkejut ketika ada MI yang gagal bayar (default), diikuti rush pencairan (redemption) besar-besaran oleh para investor. Terlebih setelah sejumlah produk reksa dana ditutup atau dibubarkan.

Kasus reksa dana yang membelit sejumlah MI beragam, dari menempatkan dana kelolaan pada saham emiten terafiliasi, menjanjikan keuntungan pasti (fixed return) pada instrument investasi yang sifatnya terbuka seperti saham, hingga menempatkan dana kelolaan melampaui porsi yang digariskan OJK.

Kasus reksa dana yang mencuat saat ini adalah buah kesalahan segelintir MI, baik karena salah kelola produk, maupun akibat salah manajemen. Tapi gara-gara ulah mereka, indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sedang dalam tren bullish dan bersiap menikmati dampak positif aksi ‘poles saham’ (window dressing) akhir tahun, kini terseok-seok.

Sejumlah investor reksa dana bermasalah ibarat makan buah simalakama. Jika tidak mencairkan reksa dananya, mereka khawatir akan terjadi sesuatu pada portofolionya. Tapi jika mencairkan, ia harus menanggung kerugian karena nilainya turun.

Penurunan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tidak main-main. Hanya dalam tempo sebulan (Oktober- November 2019), total NAB industry reksa dana menyusut Rp 8,85 triliun dari Rp 553,27 triliun menjadi Rp 544,42 triliun. Penurunan NAB reksa dana, terutama reksa dana saham, dikhawatirkan berlanjut jika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak bertindak komprehensif.

OJK sudah menjatuhkan sanksi kepada para MI bermasalah, seperti PT Narada Aset Manajemen, PT Pratama Capital Asset Management, dan PT Minna Padi Aset Manajemen. Langkah yang ditempuh OJK antara lain membubarkan reksa dana bermasalah, memberlakukan suspense terhadap MI bermasalah, dan memberhentikan direksi MI bermasalah. Langkah lainnya adalah mewajibkan manajemen dan pemegang saham mengikuti uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) ulang.

OJK juga mengharuskan MI memperbaiki standard operating procedure (SOP) pemasaran serta melaksanakan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/ GCG).

Namun, sanksi-sanksi itu sepertinya belum cukup. OJK harus memeriksa lebih jauh produk-produk reksa dana saham yang anjlok terlampau dalam. Puluhan produk reksa dana disebutsebut ambles lebih dari 50% selama Januari-November 2019.

Kita patut menduga ada yang tidak beres pada produk reksa dana yang turun terlalu tajam. Tanpa syak wasangka berlebihan, kita juga mendorong OJK melakukan pemeriksaan menyeluruh. Jangan-jangan ada unsur fraud (penipuan) secara sengaja dan sistematis?

Bukan apa-apa. Industri reksa dana, sebagaimana industri pasar modal dan industri finansial pada umumnya, dibangun atas dasar kepercayaan. Kepercayaan masyarakat, khususnya para investor, harus terus dirawat dan dijaga.

Demi menjaga kepercayaan pasar, OJK sebaiknya tidak membubarkan secara masif reksa dana bermasalah. OJK perlu memberi kesempatankepada industri reksa dana yang saatini mengalami penurunan NAB untuk memulihkan diri dan konsolidasi.

Tak kalah penting, OJK perlu terus memberikan edukasi kepada nasabah reksa dana bahwa mereka tidak perlu panik dan mencairkan dananya karena hal itu justru bakal merugikan mereka. Apalagi pemerintah menjamin dana nasabah jika terbukti ada fraud.

Kecuali itu, OJK harus terus-menerus mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur tawaran dengan imbalhasil tinggi dan instan. OJK perlu pula mewajibkan para MI menginformasikan secara detail setiap produk reksa dana di website, berikut penjelasan underlying asset-nya.

Investor reksa dana yang kini berjumlah 1,39 juta single investor identification(SID) dari total 2,6 juta SID di pasar modal, harus ditingkatkan. Dengan begitu, industri reksa dana mampu berperan sebagai pemecah ombak saat pasar saham diamukgelombang.

Pada akhirnya, kita tidak berharap sama sekali bahwa kasus yang menimpa sejumlah MI adalah puncak ‘gunung es’ yang dihadapi industri reksa danadi Tanah Air selama ini.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA