Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peti kemas. Foto ilustrasi: IST

Peti kemas. Foto ilustrasi: IST

Mesin PDB Kita

Selasa, 7 Mei 2019 | 09:46 WIB

Di bawah ekspektasi dan konsensus pasar, perekonomian Indonesia pada kuartal I-2019 tumbuh 5,07% secara tahunan (year on year/yoy) atau dibandingkan kuartal I-2018. Namun dibanding kuartal IV tahun silam, ekonomi nasional pada kuartal I tahun ini turun 0,52%. Dalam ancar-ancar para ekonom, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019 mencapai 5,1-5,2%.

Menko Perekonomian Darmin Nasution juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi I-2019 mencapai 5,1%. Bahkan, dalam prediksi Bank Indonesia (BI), pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019 bakal mendekati level 5,2%.

Tak pelak, pasar langsung menjatuhkan ‘hukuman’. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sejak awal perdagangan terseret pelemahan bursa saham regional, tak mampu keluar dari zona merah, hingga ditutup turun hampir 1% ke level 6.256,35 pada Senin (6/5).

Nilai tukar rupiah juga melemah. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, mata uang NKRI terkunci di level 14.308 per dolar AS, turun 26 poin dari hari sebelumnya. Level tersebut merupakan yang terendah sejak 12 Maret tahun ini. Ekspektasi para ekonomi dan bank sentral bisa jadi terlampau tinggi. Sebab, seperti dikemukakan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sejak awal memperkirakan pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) kuartal I-2019 berkisar 5,05%. Berarti realisasi pertumbuhan PDB sedikit di atas perkiraan Kemenkeu.

Meski di bawah ekspektasi pasar, pertumbuhan PDB kuartal I-2019 tidak buruk, bahkan merupakan yang terbaik secara periodik dalam empat tahun terakhir. PDB kuartal I-2015, 2016, 2017, dan 2018 masing-masing hanya tumbuh 4,83%, 4,94%, 5,01%, dan 5,06%.

Pemerintah juga beralasan, sejumlah komponen di sisi pengeluaran melemah akibat siklus dan perlambatan ekonomi global, misalnya investasi dan ekspor.

Kita tentu berharap apa yang dikemukakan pemerintah benar adanya. Sebab, dengan begitu, perekonomian nasional ke depan punya peluang besar untuk tumbuh lebih pesat dan lebih berkualitas. Dengan begitu pula, kesejahteraan rakyat Indonesia bakal meningkat, angka kemiskinan menurun, dan angka pengangguran berkurang.

Terlepas dari kadar ekspektasi yang berbeda antara para ekonom dan pemerintah, pertumbuhan PDB kuartal I-2019 menorehkan rapor yang kurang sedap. Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah-langkah taktis, bukan mustahil pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali tergelincir di bawah target APBN sebesar 5,3%.

Dalam empat tahun terakhir, pertumbuhan PDB tak pernah mencapai target. Dalam APBN 2015, asumsi pertumbuhan ekonomi dipatok 5,8% yang kemudian direvisi menjadi 5,7%, namun realisasinya cuma 4,88%. Dalam APBN 2016, 2017, dan 2018, pertumbuhan PDB diasumsikan masing-masing 5,3%, 5,1%, dan 5,4%. Tapi yang terealisasi hanya 5,02%, 5,07%, dan 5,17%.

Rapor PDB kuartal I-2019 yang perlu digarisbawahi di antaranya adalah masih tingginya ketergantungan kepada konsumsi rumah tangga. Karena didominasi konsumsi rumah tangga, pertumbuhan PDB Indonesia tidak ditopang fundamental yang kuat. Saat inflasi menerjang atau nilai tukar rupiah terhuyung, pertumbuhan PDB terkoreksi, jumlah penduduk miskin melambung. Elastisitas pertumbuhan PDB terhadap lapangan kerja tidak maksimal.

Dari tahun ke tahun, konsumsi rumah tangga menyumbang 55-57% terhadap struktur PDB dari sisi pengeluaran, diikuti investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 32-33% dan ekspor 18-19% (dikurangi impor minus 17-18%). Kontribusi konsumsi pemerintah hanya 6-7%, disusul konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) sebesar 1-1,4%.

Pada kuartal I-2019, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,01%, PMTB tumbuh 5,03%, ekspor minus 2,08%, konsumsi pemerintah tumbuh 5,21%, konsumsi LNPRT tumbuh 16,93%, dan impor minus 7,75%. Membaiknya konsumsi rumah tangga antara lain didorong penjualan eceran serta upah riil buruh tani dan buruh bangunan. Bantuan sosial (bansos) dari pemerintah juga berperan besar dalam menyokong ko kuartal I-2019. Secara siklikal, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2019 tidak terlalu mengejutkan. Apalagi kuartal I adalah masa-masa menjelang pemilu.

Kondisi itu pun tercermin pada konsumsi LNPRT yang tumbuh paling tinggi. Lagi pula, selain ditopang inflasi yang rendah, pada periode itu tidak ada kenaikan harga yang diatur pemerintah (administered price). Dari sisi lapangan usaha, struktur perekonomian Indonesia juga tidak banyak berubah, masih didominasi industri, perdagangan, dan pertanian. Industri pengolahan, industri tekstil dan pakaian jadi bertumbuh cukup kuat pada kuartal I-2019 sebesar 18,98% dibandingkan 7,46% pada periode sama 2018.

Sebaliknya, industri batu bara dan pengilangan migas mengalami kontraksi atau minus 4,19%, padahal pada periode sama 2018 masih tumbuh 0,66%. Yang perlu mendapat ‘catatan kaki’ justru kinerja PMTB yang tumbuh melambat (hanya tumbuh 5,03% dibandingkan periode sama tahun lalu 7,94%). Juga ekspor yang mengalami kontraksi masing-masing 2,08% (yoy) dan 7,04% (kuartalan), baik akibat ekspor jasa maupun ekspor barang. Kontraksi PMTB dan ekspor mengingatkan kita pada jargon yang kerap dilontarkan pemerintah bahwa investasi dan ekspor bakal menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini.

Kita berharap semoga mesin pertumbuhan itu bakal langsung ‘ngacir’ pada kuartal-kuartal berikutnya. Dengan begitu, tak ada alasan untuk mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional melambat gara-gara gejolak ekonomi global.

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN