Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengendara mobil listrik sedang mengisi baterai di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Foto ilustrasi: Investor Daily/EMRAL

Pengendara mobil listrik sedang mengisi baterai di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Foto ilustrasi: Investor Daily/EMRAL

Mobil Listrik Made in Indonesia

Kamis, 13 Januari 2022 | 14:27 WIB
Investor Daily

Tak perlu diragukan, Indonesia punya kemampuan memproduksi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) atau mobil listrik murni untuk memasok kebutuhan dalam negeri dan juga pasar ekspor.

Dengan dukungan sumber daya alam (SDA) bahan baku baterai lithium yang melimpah, Indonesia berpeluang menjadi produsen utama kendaraan listrik di kawasan Asean. Namun, untuk menuju ke sana, harus melalui jalan berliku.

Jalan pintas untuk memproduksi mobil listrik sendiri di Tanah Air sudah ditempuh melalui rencana mengakuisisi perusahaan mobil listrik yang sudah ada. Upaya ini dijalankan oleh Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan membidik StreetScooter Engineering (StSE), perusahaan kendaraan listrik ringan (electric light commercial vehicle/ eLCV) milik Deutsche Post DHL Group (DPDHL).

Sayangnya, peluang mengakuisisi StreetScooter sudah tertutup. Perusahaan mobil listrik asal Jerman tersebut sudah diambil alih oleh Odin Automotive, perusahaan otomotif yang berbasis di Luksemburg. Padahal, pemerintah Indonesia telah mengirimkan tim untuk meninjau langsung ke kantor StreetScooter di Aachen, Jerman. Tapi nyatanya, StreetScooter jatuh ke pangkuan perusahaan yang sahamnya juga dimiliki investor asal Singapura itu.

Aksi korporasi IBC untuk mengakuisisi StreetScooter tidak berlanjut lantaran sudah melewati jadwal yang ditargetkan oleh Deutsche Post pada akhir November 2021. Kegagalan ini tak lepas dari adanya penentangan sejumlah pihak di dalam negeri yang menganggap rencana akuisisi StreetScooter sebagai aksi investasi rugi, tidak masuk akal, dan tidak layak untuk membangun ekosistem kendaraan listrik.

IBC merupakan perusahaan yang sahamnya dimiliki empat BUMN, yakni MIND ID, PT Aneka Tambang, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero). IBC dibentuk untuk mengelola industri baterai terintegrasi dari hulu sampai ke hilir di Tanah Air.

Rencana aksi korporasi IBC itu sebenarnya sebagai bagian membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia yang dimulai dari pengolahan nikel menjadi bahan baku baterai listrik. Kemudian, menguasai teknologi untuk membangun kendaraan listrik di Indonesia.

Aksi korporasi IBC ini merupakan momentum yang tepat untuk memperkuat hilirisasi ekosistem baterai yakni dengan mempercepat produksi mobil listrik yang teknologi dan pasarnya sangat menjanjikan. Rencana aksi korporasi IBC juga bisa disebut sebagai langkah tepat dalam konteks untuk menangkap peluang pertumbuhan pasar kendaraan listrik dunia.

Langkah tersebut cukup strategis. Jika membangun industri dan merek sendiri akan butuh waktu dan investasinya mahal, sehingga opportunity di depan mata bisa hilang. Namun sangat disayangkan, rencana akuisisi tersebut gagal hanya karena faktor nonteknis. Jika investor Singapura saja mau mengeksekusi rencana akuisisi StreetScooter, itu artinya perusahaan tersebut punya masa depan yang cerah.

Bukan hanya memproduksi mobil listrik, Indonesia juga akan punya pabrik baterai yang pertama di kawasan Asia Tenggara. Beberapa investasi baterai listrik yang telah masuk Indonesia adalah LG Chem Ltd senilai US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp 142 triliun.

Kemudian, CATL asal Tiongkok juga berniat menanam modal US$ 5,2 miliar atau Rp 75,4 triliun di proyek ini.

Apabila StreetScooter jadi diakuisisi IBC, maka akan tercipta hilirisasi dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas. Artinya, Indonesia tak lagi mengekspor barang mentah atau setengah jadi, melainkan langsung ekspor mobil listrik.

Rencana pemerintah membangun ekosistem kendaraan listrik didukung oleh sumber daya alam berupa bahan baku pembuat baterai kendaraan listrik. Indonesia juga punya banyak industri otomotif. Produksi nikel sulfat sebesar 50 ribu-100 ribu ton per tahun yang bisa digunakan di dalam negeri dan ekspor.

Indonesia bisa menjadi produsen prekursor dan katoda global dengan output tahunan 120 ribu-240 ribu ton untuk diekspor dan digunakan di dalam negeri.

Berdasarkan peta jalan (roadmap) Kementerian ESDM, Indonesia akan berhenti menjual motor konvensional pada 2040 dan setop menjual mobil konvensional pada 2050.

Sementara Kementerian Perindustrian menargetkan produksi kendaraan listrik di da lam negeri, termasuk listrik murni dan hybrid, untuk jenis roda empat dan roda dua, bisa lebih dari 2 juta unit pada 2025. Target tersebut terdiri atas 400 ribu unit roda empat dan 1,76 juta unit roda dua. Lalu, pada 2030 produksi meningkat menjadi 600 ribu roda empat dan 2,45 juta unit roda dua.

Target produksi kendaraan listrtik itu menyesuaikan target pemerintah un tuk menur unkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% pada 2030. Jika Indonesia berhasil memproduksi kendaraan listrik mencapai 600 ribu roda empat dan 2,45 juta unit roda dua, maka akan menghemat bahan bakar minyak impor secara signifikan.

Selama ini kita masih mengimpor bahan bakar minyak (BBM) sekitar 400 ribu barel per hari. Ji ka berhasil memproduksi kendaraan listrik, devisa bisa dihemat US$ 2 miliar per tahun. Selain penurunan emisi dan penghematan devisa, target produksi kendaraan listrik juga untuk mewujudkan mimpi menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen utama otomotif dunia.

Dalam dua atau tiga tahun lagi mobil listrik bakal banyak bermunculan dari Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena saat ini sudah banyak produsen yang bakal memproduksi mobil listrik di dalam negeri, mulai dari hybrid hingga murni listrik.

Peluang pasar kendaraan listrik yang makin besar di dalam negeri tak luput dari incaran pabrikan otomotif dunia. Mereka berlomba-lomba masuk lebih dulu dengan mendirikan pabrik. Salah satunya adalah Hyundai Motor Company (HMC), yang akan menjadi perusahaan industri otomotif pertama di Indonesia yang melakukan proses produksi kendaraan listrik pada Mei mendatang. Hyundai menanamkan modal di Indonesia sebesar US$ 1,5 miliar, salah satunya untuk mendirikan pabrik mobil di Bekasi, Jawa Barat.

Melalui anak usahanya di Indonesia, PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI), pabrikan otomotif asal Korea Selatan itu akan memproduksi 1.000 unit kendaraan listrik per tahun pada tahap pertama. Saat ini Hyundai sudah menjual dua mobil listrik di Indonesia, Ioniq EV dan Kona EV, namun kedua produk ini masih diimpor dari Korea Selatan.

Selain itu, Hyundai juga telah be kerja sama dengan LG untuk mendirikan pabrik baterai lithium-ion NCMA di Karawang, Jawa Barat. Kapasitas pabrik ini 10 GWh per tahun dan mampu menghasilkan komponen buat lebih dari 150 ribu mobil listrik per tahun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN