Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perkembangan realisasi  investasi.

Perkembangan realisasi investasi.

Momentum Pemulihan Ekonomi

Selasa, 4 Mei 2021 | 15:46 WIB
Investor Daily

Melegakan. Di tengah ketidakpastian ekonomi akibat bayang-bayang pandemi Covid-19, stabilitas perekonomian domestik, terutama di sektor keuangan, tetap terjaga. Stabilitas sektor keuangan berperan sangat vital dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Terpeliharanya stabilitas sektor keuangan antara lain tercermin pada modal perbankan yang masih kuat, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di level 24,18% per Maret 2021. Begitu pula gearing ratio industri pembiayaan, masih kokoh di posisi 2,03 kali. Sedangkan risk-based capital (RBC) industri asuransi jiwa dan asuransi umum jauh di atas ambang batas (threshold).

Perbankan juga memiliki kecukupan likuiditas yang memadai. Per 21 April 2014, rasio alat likuiditas dibanding non core deposit (AL/NCD) dan rasio alat likuiditas dibanding dana pihak ketiga (AL/DPK) masing-masing mencapai 162,69% dan 35,17% atau di atas threshold. DPK bahkan tumbuh tinggi sebesar 9,50% secara tahunan (year on year/yoy).

Satu-satunya indikator perbankan yang kurang mengesankan adalah pertumbuhan kredit. Penyaluran kredit masih terkontraksi 3,77% (yoy). Meski demikain, kredit mulai tumbuh positif secara bulanan (month to month/mtm) sebesar 1,43% atau naik 0,27% selama tahun berjalan (year to date/ytd). Adapun risiko kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross membaik ke posisi 3,17%.

Terjaganya stabilitas sektor keuangan makin memperkuat harapan bahwa pemulihan ekonomi sedang berjalan. Apalagi sejumlah indikator sektor riil menunjukkan perbaikan. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada April lalu mencapai 54,6, naik tajam dibanding bulan sebelumnya 53,2. PMI saat ini –di atas 50 menunjukkan ekspansi-- jauh lebih tinggi dibanding April 2020 di level 27,5 yang merupakan titik terendah PMI Manufaktur Indonesia.

Tak kalah melegakan adalah laju inflasi. Pada April 2021 terjadi inflasi 0,13%, dengan tingkat inflasi tahun kalender (Januari–April) 2021 sebesar 0,58% dan inflasi tahun ke tahun (April 2021 terhadap April 2020) sebesar 1,42%. Komponen inti pada April 2021 mengalami inflasi 0,14%, dengan tingkat inflasi komponen inti tahun kalender 0,37% dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun 1,18%.

Angka inflasi April 2021 merupakan indikasi bahwa daya beli masyarakat sedang menggeliat, dipicu konsumsi yang meningkat selama Ramadan. Fenomena ini patut disyukuri, mengingat pada Ramadan tahun silam (Mei 2020), laju inflasi sangat rendah, hanya 0,07% yang merupakan inflasi terendah selama Ramadan sejak1978. Bahkan, inflasi komponen inti pada Mei 2020 hanya mencapai 0,06%.

Di tengah membaiknya berbagai sinyal ekonomi di dalam negeri, kita mengapresiasi komitmen Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk terus memperkuat sinergi guna menjaga stabilitas sistem keuangan dan momentum pemulihan ekonomi nasional. Menteri keuangan (Menkeu), Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan bakal terus bahu-membahu demi mengakselerasi pemulihan ekonomi.

Membaiknya data-data ekonomi di dalam negeri tidak jatuh dari langit. Perbaikan terjadi sejalan dengan percepatan program vaksinasi yang mampu menurunkan, atau setidaknya mencegah lonjakan kasus Covid di Tanah Air. Dosis vaksin yang telah diberikan per 30 April 2021 mencapai 20 juta. Meski belum stabil –naik turun-- kasus Covid-19 akan menurun seiring kian banyaknya masyarakat yang divaksin. Terlebih pemerintah telah melarang mudik Lebaran.

Program Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) yang digulirkan pemerintah dengan anggaran Rp 699,43 triliun tahun ini juga turut mengawal ekonomi tetap berada di jalur yang benar (on the right track). Stimulus PC-PEN melindungi masyarakat dan para pelaku ekonomi, khususnya di level akar rumput, dari dampak pandemi yang lebih buruk, terutama di bidang ekonomi dan kesehatan.

Di sisi moneter, BI menerapkan rezim bunga rendah dengan mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) di level 3,50%, sekaligus melakukan triple intervention untuk menjaga nilai tukar rupiah. BI juga terus mengoptimalkan intermediasi perbankan, di antaranya dengan melonggarkan ketentuan loan to value (LTV) kredit pemilikan rumah (KPR) menjadi 100% dan uang muka kredit kendaraan bermotor menjadi 0%.

Untuk mendukung kebijakan BI, OJK, dan pemerintah, LPS terus berupaya menurunkan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) guna menekan biaya dana (cost of fund) perbankan agar suku bunga kredit turun. Penurunan suku bunga akan mendorong penyaluran kredit kepada sektor riil yang membutuhkan modal kerja untuk memutar kembali roda usahanya yang terhenti akibat pandemi.

Melihat tahapan dan langah-langkah paralel yang ditempuh pemerintah, BI, OJK, dan LPS, kita percaya bahwa mesin ekonomi sudah mulai bekerja. Pemerintah --bersama BI, OJK, dan LPS-- tinggal berupaya bagaimana caranya agar mesin itu berputar lebih kencang dan menghasilkan daya dorong yang lebih kuat.

Banyak hal yang bisa ditempuh pemerintah untuk meningkatkan power mesin ekonomi di dalam negeri, salah satunya melanjutkan transformasi ekonomi yang sudah dijalankan melalui Undang-Undang (UU) Cipta Kerja. Ada kesan, pemerintah mulai kendur menjalankan reformasi struktural lewat UU Cipta Kerja yang ditujukan untuk menjaring sebanyak mungkin investasi, khususnya investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).

Buktinya hingga kini Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) belum membuat gebrakan sebagaimana diekspektasikan pada awal-awal berdirinya. Sebagai sovereign wealth fund (SWF), LPI bisa diibaratkan sebagai mesin ‘turbo’ yang akan membuat roda perekonomian melaju cepat.

LPI, yang beroperasi sejak April lalu, adalah solusi bagi pemulihan ekonomi nasional. Selain bisa mengatasi masalah pembiayaan pembangunan, investasi yang masuk lewat LPI dalam jumlah ‘jumbo’ akan membuka banyak lapangan pekerjaan serta mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran.

Kemudahan perizinan dan deregulasi investasi yang diamanatkan UU Cipta Kerja juga belum jelas realisasinya. Padahal, transformasi dan pemulihan ekonomi harus bergerak bersamaan. Jika hanya satu yang bergerak, sementara yang lainnya statis, pemulihan ekonomi nasional bakal kehilangan momentum. ***

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN