Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Musim Semi Masih Panjang

Selasa, 9 Juli 2019 | 11:29 WIB

Musim semi belum berakhir di lantai bursa. Meski pasar sedang bearish, minat korporasi untuk menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dan mencatatkan saham (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tak kunjung surut.

Hingga Senin (8/7) terdapat 24 perusahaan yang melangsungkan IPO dan listing di BEI, sehingga kini terdapat 641 perusahaan tercatat (listed company) yang melantai di bursa domestik. Tak kurang dari 15 perusahaan lainnya segera menyusul. Jumlah perusahaan IPO selama tahun berjalan (year to date/ytd) lebih banyak dibanding periode sama tahun silam (23 perusahaan).

Dengan perkembangan tersebut, sangat mungkin musim semi di bursa saham dalam negeri tahun ini bakal lebih panjang dibanding tahun silam yang merupakan musim IPO paling semarak sepanjang sejarah bursa saham Indonesia. Tahun lalu terdapat 57 perusahaan yang IPO, dengan perolehan dana Rp 15,66 triliun.

Banyak faktor yang membuat korporasi memilih IPO dan listing tahun ini. Pertama, sejak awal mereka yakin pemilu presiden (pilpres) berlangsung aman dan damai karena bangsa Indonesia sudah berpengalaman menggelar pesta demokrasi. Ketegangan yang terjadi hanya akan membuat ‘riak-riak’ kecil, tidak akan menimbulkan gelombang, apalagi sampai ‘tsunami’ politik.

Kedua, dunia usaha dan para investor punya ekspektasi kuat bahwa kondisi perekonomian nasional tahun ini bakal lebih baik. Dalam APBN 2019, asumsi pertumbuhan ekonomi dipatok 5,3%, lebih tinggi dari pencapaian tahun lalu 5,17%. Tahun depan, ancar-ancar pertumbuhan ekonomi yang sedang dibahas pemerintah dan DPR ada di kisaran 5,2-5,5%.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat, emiten-emiten di BEI akan menorehkan kinerja lebih baik. Laba yang dibukukan para emiten akan meningkat, sehingga harga sahamnya menguat. Itu akan membuat saham-saham IPO diserbu investor.

Ketiga, dunia usaha percaya momok di pasar saham kini tak seseram dulu. Pada 2018, pasar finansial global luluh lantak akibat naiknya suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed). Kebijakan The Fed yang hawkish (naik agresif) tahun lalu memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar saham dan menggerus nilai tukar rupiah.

Empat kali kenaikan fed funds rate (FFR) ke posisi 2,25-2,50% tahun lalu memaksa Bank Indonesia (BI) menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) enam kali ke level 6%. Karena suku bunga acuan dipancang tinggi, bank-bank di dalam negeri sulit menawarkan pinjaman dengan bunga murah.

Tahun ini, pasar finansial global diperkirakan lebih tenang karena The Fed bakal menurunkan suku bunga acuan. FFR yang landai (dovish) akan mendorong dana-dana global masuk ke emerging markets mengingat portofolio di AS tak seatraktif dulu. Para pengelola hedge fund akan mencari negara yang menawarkan keuntungan investasi (return) lebih tinggi. Indonesia salah satunya.

Tingginya minat fund manager global terhadap pasar saham Indonesia sudah dibuktikan oleh derasnya aliran masuk modal asing (capital inflow). Selama tahun berjalan, investor asing sudah mencatatkan beli bersih (net buy) saham senilai Rp 69,56 triliun –yang lagi-lagi terbesar sepanjang sejarah-- meski indeks harga saham gabungan (IHSG) baru naik 2,54%.

Pasar finansial global juga diperkirakan lebih sejuk karena AS dan Tiongkok diprediksi mengakhiri perang dagang yang sudah berlangsung setahun penuh. Kedua raksasa ekonomi itu akhirnya sadar bahwa dalam perang selalu berlaku pepatah ‘menang jadi arang, kalah jadi abu’. Gara-gara perang dagang, ekonomi AS terancam resesi. Bahkan ekonomi Tiongkok sudah limbung.

Kalkulasi bahwa perang dagang bakal segera berakhir sungguh logis. Donald Trump yang pertama kali mengobarkan perang dagang bakal diuntungkan secara politik bila perang dagang berakhir. Perdamaian dengan Tiongkok akan membuat ekonomi AS memperoleh stimulus ganda dari terhentinya perang dagang dan penurunan suku bunga The Fed.

Bahwa Trump belum juga memaklumatkan perdamaian dengan Tiongkok, itu lebih karena ia menunggu waktu yang tepat agar keputusan tersebut mampu menaikkan elektabilitasnya dalam pilpres AS tahun depan. Tak mengherankan jika di satu sisi, Trump gencar ‘menekan’ The Fed agar menurunkan suku bunga, lalu di sisi lain ia memberikan sinyal bakal mengakhiri perang dagang.

Jika prediksi itu berjalan sesuai ekspektasi, tak ada keraguan bahwa saham-saham emiten yang menggelar IPO tahun ini menjanjikan keuntungan yang lebih menggiurkan. Itu sudah dibuktikan 24 saham IPO, yang pada perdagangan perdananya rata-rata mencetak kenaikan harga berlipat ganda, bahkan ada yang melonjak sampai 1.755%.

Tapi para investor di pasar saham harus tetap waspada. Sebab, hanya perusahaan-perusahaan berfundamental kuat dan punya prospek bisnis bagus yang mampu menghasilkan keuntungan tinggi. Ingat, pasar saham hanya ramah kepada investor yang cerdas, bijak, cermat, dan hati-hati. Ia bisa berubah menakutkan bagi orang-orang yang  lengah, lalai, dan serakah.***

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA