Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Foto ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Suasana bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Foto ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Neraca Dagang New Normal

Investor Daily, Minggu, 17 Mei 2020 | 05:15 WIB

Meskipun pandemi Covid-19 telah melumpuhkan berbagai sektor bisnis akibat pembatasan mobilitas orang, kinerja neraca perdagangan Indonesia selama bulan April tidak terlalu mengecewakan. Kinerja ekspor memang melemah, namun penurunannya tidak sedrastis yang kita takutkan.

Selama April 2020, ekspor Indonesia masih mencapai US$ 12,19 miliar, turun 13,33% dibanding ekspor Maret 2020 atau melemah 7,02% dibanding April 2019.

Sedangkan nilai impor mencapai US$ 12,54 miliar atau turun 6,10% dibanding Maret 2020 dan merosot 18,58% dibanding April 2019.

Dengan perkembangan itu, neraca perdagangan pada April 2020 mengalami defisit sebesar US$ 350 juta. Namun defisit itu jauh lebih kecil dibanding April 2019 yang menembus US$ 2,3 miliar. Bahkan jika dilihat angka kumulatif Januari-April 2020, neraca perdagangan kita masih surplus sebesar US$ 2,25 miliar. Performa inijuga masih lebih baik dibanding Januari- April 2019 yang mencatat defisit senilai US$ 2,3 miliar.

Yang menarik, impor migas selama April hanya sebesar US$ 0,85 miliar, merosot 47% dibanding Maret 2020 (mtm), bahkan anjlok 62% dibanding posisi April 2019 (yoy). Namun, yang harus diwaspadaiadalah penurunan impor bahan baku/penolong dan barang modal. Impor bahan baku/penolong selama April menurun 19% secara tahunan (yoy).

Demikian pula impor bahan baku terkontraksi 17% (yoy). Secara umum, data neraca perdagangan yang diumumkan Badan Pusat Statistik ini cukup memberikan harapan. Sebab, bulan April boleh dibilang sebagai periode pembatasan mobilitas yang ketat karena penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jadebotabek yang merupakan pusat industri dan perdagangan. Namun nyatanya, kinerja ekspor nasional tidak turun secara signifikan.

Di lain sisi, negara-negara tujuan ekspor pun menerapkan kebijakan yang sama soal pembatasan mobilitas sosial. Kondisi tersebut awalnya membuat eksportir khawatir bakal mengganggu ekspor Indonesia. Namun ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti. Boleh jadi, produk-produk yang kita ekspor memiliki tingkat daya saing yang baik dan sangat dibutuhkan oleh Negara importir.

Kemudian ihwal penurunan impor, termasuk migas, tentu menyimpan hikmah, yakni tidak terlalu menekan nilai tukar rupiah yang hari-hari ini tengah terancam depresiasi akibat besarnya capital outflow di pasar portofolio. Efek positif berikutnya dari penurunan impor adalah tidak memperburuk defisit transaksi berjalan, yang selama ini menghantui perekonomian nasional.

Menyempitnya defisit migas juga merupakan kabar baik. Sebab, dalam beberapa bulan terakhir, impor migas yang cenderung melonjak seiring kenaikan konsumsi menjadi pemicu defisit perdagangan.

Selama April 2020, migas hanya mencatat defisit sebesar US$ 243,8 juta, lebih rendah dari defisit pada Maret 2020 senilai US$ 953,3 juta.

Catatan lain dari data neraca perdagangan yang patut dicermati adalah penurunan impor bahan baku/ penolong dan barang modal. Sebab, impor dua kelompok barang tersebut sangat diperlukan untuk investasi di dalam negeri.

Dengan pelemahan ini, maka dapat dipastikan bahwa kegiatan investasi dalam beberapa bulan ke depan di Tanah Air bakal menurun. Terlepas dari kinerja neraca perdagangan April yang masih cukup oke meskipun dilanda Covid-19, Indonesia tidak boleh lupa dengan pekerjaan rumah (PR) utama, yakni membenahi sektor manufaktur.

Bagaimana kita mendorong hilirisasi, memicu industri- industri bernilai tambah, serta membenahistruktur industri nasional yang masih bolong, baik di hulu, antara atau intermediate, hingga hilir. Reformasi struktural yang digaungkan jangan kendur. Reindustrialisasi harus digenjot lewat investasi besar-besaran.

PR lain yang tidak boleh terlupa adalah agresif mendiversifikasi pasar ekspor. Para duta besar Indonesia di luar negeri harus ikut menjadi ujung tombak untuk memperluas pasar baru ekspor nasional.

Selain itu, Indonesia mesti mampu mengoptimalkan berbagai perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dengan sejumlah negara untuk memperbesar ekspor. Bukan malah sebaliknya, FTA justru membuat pasar kita kebobolan, seperti yang terjadi pada perjanjian perdagangan bebas kita dengan Tiongkok.

Berbagai strategi di atas untuk mendongkrak ekspor nasional mungkin tidak lagi semudah masa lalu, karena kita akan memasuki era new normal. Sebuah era di mana tata ekonomi dunia berubah total. Sebuah era di mana proteksionisme dan inward looking kemungkinan bakal kian menjadi-jadi.

Semua itu memaksa Indonesia pun harus mengatur ulang strategi dan kebijakan ekonomi, termasuk dalam hal perdagangan internasional, pada era pasca-Covid nanti. Konsolidasi internal menjadi keniscayaan. Kita mesti membangun kembali keunggulan- keunggulan komparatif maupun kompetitif yang sesuai dengan era new normal.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN