Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Neraca Pembayaran Membaik

Minggu, 23 Mei 2021 | 07:06 WIB
Investor Daily

Setelah menderita defisit sebesar US$ 0,2 miliar pada kuartal IV-2020, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) membaik pada kuartal I-2021 dan mencatat surplus sebesar US$ 4,1 miliar. Surplus tersebut berasal dari surplus transaksi modal dan finansial yang melampaui defisit transaksi berjalan.

Membaiknya NPI tersebut menopang ketahanan eksternal. Mengacu data yang dirilis Bank Indonesia, transaksi modal dan finansial pada kuartal I-2021 mencatat surplus US$ 5,6 miliar atau 2,0% dari produk domestik bruto (PDB), terutama ditopang oleh investasi portofolio. Pada kuartal sebelumnya, transaksi modal dan finansial mencatat defisit sebesar US$ 1,0 miliar atau 0,4% dari PDB.

Sementara transaksi berjalan (current account) pada kuartal I-2021 mencatat defisit rendah, di tengah kinerja neraca barang yang tetap surplus. Transaksi berjalan mencatat defisit US$ 1,0 miliar atau 0,4% dari PDB. Kondisi ini berbalik dari kuartal sebelumnya yang mencatat surplus US$ 0,9 miliar atau 0,3% dari PDB.

Seiring persepsi positif investor terhadap prospek perbaikan perekonomian domestik yang tetap terjaga, investasi portofolio mencatat net inflows sebesar US$ 4,9 miliar atau lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya US$ 2,0 miliar. Hal itu terutama didorong oleh penerbitan global bonds dan pening katan aliran masuk modal asing di pasar saham.

Di pasar saham, hingga penutupan Ju mat (21/5) atau se cara year to date (ytd), investor asing masih mencatatkan beli bersih atau net buying sebesar Rp 9,1 triliun, di tengah indeks harga saham gabungan (IHSG) yang terus tertekan.

Kemarin, IHSG ditutup di posisi 5.773,1 atau turun 0,42% dari sehari sebelumnya. Jika dihitung sejak awal tahun (ytd), IHSG sudah terkoreksi 3,44% dengan posisi kapitalisasi pasar sebesar Rp 6.833 triliun.

Tak hanya investasi portofolio, investasi langsung juga mencatat surplus US$ 4,1 miliar, lebih tinggi dari surplus kuartal sebelumnya US$ 4,2 miliar, terutama dalam bentuk modal ekuitas. Sebaliknya, transaksi investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah antara lain disebabkan oleh penurunan penempatan simpanan di luar negeri.

Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Maret 2021 mencapai US$ 137,1 miliar, naik dari US$ 135,9 miliar pada akhir Desember 2020. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 9,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional.

Membaiknya neraca pembayaran diharapkan dapat berlanjut pada kuartal II-2021, seiring pulihnya perekonomian global yang mendongkrak permintaan barang.

Pada kuartal pertama 2021, neraca perdagangan barang mencatatkan surplus akibat perbaikan kinerja ekspor seiring peningkatan permintaan dari Negara mitra dagang dan kenaikan harga komoditas dunia. Namun di sisi lain, kinerja impor juga meningkat cukup tinggi sehingga menahan surplus neraca barang lebih lanjut.

Kinerja ekspor Indonesia semakin membaik yang ditandai nilai ekspor pada April 2021 yang naik cukup signifikan se besar 51,94% mencapai US$ 18,48 miliar dibadingkan periode sama tahun lalu. Sedangkan dibandingkan bulan se belumnya hanya naik tipis 0,69%. Peningkatan nilai ekspor barang ini diharapkan dapat terus berlanjut sehingga akan memperbaiki kinerja transaksi berjalan pada kuartal II-2021.

Dengan nilai impor yang mencapai US$ 16,29 miliar, neraca dagang Indonesia pada April 2021 mencatatkan surplus US$ 2,19 miliar.

Jika dirunut ke belakang, neraca dagang Indonesia sudah mengalami surplus selama 12 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus neraca dagang ini diharapkan mampu mengimbangi defisit neraca jasa yang selama ini membebani transaksi berjalan.

Defisit neraca jasa terjadi karena Negara kita lebih banyak melakukan impor atas suatu jasa atau layanan dari negara lain. Contohnya pada kuartal pertama 2021, defisit neraca jasa meningkat yang antara lain disebab kan oleh defisit jasa transportasi yang melebar akibat peningkatan pem ba yaran

jasa freight seiring kenaikan impor barang. Perbaikan neraca perdagangan jasa dapat di la kukan di industri pariwisata, industri asuransi, perkapalan, danpelayaran.

Di industri mi salnya, di antaranya d engan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing, dan dalam waktu bersamaan mengurangi jumlah kunjungan wisatawan domestic ke luar negeri. Namun hal ini tam pak nya sulit dilakukan karena kondisi pan demi Covid-19. Apalagi pemerintah juga masih menutup kunjungan wisatawan asing dengan pertimbangan untuk mencegah bertambahnya angka positif Covid-19. Kebijakan yang sama juga dilakukan banyak negara.

Defisit neraca jasa dapat diturunkan melalui penerapan kebijakan pemerintah. Kebijakan ini pernah ditempuh pada awal 2019. Saat itu, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan memberlakukan aturan wajib asuransi bagi setiap aktivitas perdagangan luar negeri. Kebijakan tersebut akan menguatkan perdagangan dan industri jasa asuransi dan laut sehingga angka defisit neraca jasa dapat diturunkan.

Di sektor pelayaran, perbaikan neraca jasa dapat dilakukan dengan mengurangi dominasi kapal-kapal pelayaran asing yang mengangkut barang ekspor Indonesia. Dominasi kapal asing juga harus bisa dikurangi pada pengangkutan barang impor ke Indonesia. Hingga kini Singapura dan Malaysia menjadi tempat favorit kapal-kapal asing bersandar dan melakukan bongkar muat barang.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN