Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung berada di galeri BEI, Jakarta, kemarin.  Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pengunjung berada di galeri BEI, Jakarta, kemarin. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Optimisme 2020

Investor Daily, Kamis, 2 Januari 2020 | 15:14 WIB

Banjir, hujan deras, dan cuaca ekstrem yang mewarnai pergantian tahun tak menenggelamkan optimisme di lantai bursa. Pasar saham domestik tetap sumringah menyambut tahun 2020.

Para analis yakin indeks harga saham gabungan (IHSG) tahun ini menguat sekitar 15% ke level 7.265. Berarti, kinerja saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2020 bakal jauh lebih memuaskan dibanding 2019 yang baru saja berlalu. Pada 2019, IHSG kurang meyakinkan, cuma tumbuh 1,7% ke level 6.299,54. Indeks bahkan sempat terpental dari level psikologis 6.000.

Banyak hal yang menyebabkan IHSG tahun lalu nyaris finis di zona merah. Selain terombang-ambing perang dagang dan ketidakpastian suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed), pasar saham di dalam negeri terjangkit sentimen negatif kasus reksa dana dan PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Tahun ini, pemerintah berjanji menyelesaikan kasus dugaan salah kelola dan penipuan (fraud) reksa dana oleh sejumlah manajer investasi (MI). Pemerintah juga menjamin dugaan tindak pidana korupsi Jiwasraya diusut tuntas dan BUMN itu secepatnya disehatkan.

Dengan demikian, diharapkan tak ada lagi aksi jual paksa (forced sell) saham-saham yang menjadi underlying asset produk reksa dana oleh MI bermasalah. Juga tidak ada lagi jual obral demi menghindari kerugian lebih besar (cut loss) saham-saham yang diinvestasikan Jiwasraya demi menutup klaim investornya. Bukan cuma penyelesaian kasus MI bermasalah dan Jiwasraya, tahun ini bursa saham domestik bakal mendapat sentimen positif dari kesepakatan dagang antara AS dan Tiongkok. Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan menyelesaikan sengketa dagang dengan Tiongkok.

Selain merugikan AS dan Tiongkok, perang dagang bisa mengakibatkan para petani di AS makin menderita karena produk mereka ditolak Tiongkok. Padahal, para petani adalah basis terbesar suara Trump pada pilpres periode lalu. Agar tak kehilangan basis suaranya di pilpres 2020, Trump harus mengakhiri perang dagang.

Tahun ini, The Fed juga diperkirakan menurunkan Fed funds rate (FFR) atau mempertahankannya di posisi 1,5-1,75% karena ekonomi AS belum benar-benar pulih. Keputusan The Fed menurunkan atau mempertahankan bunga acuan bisa menepis kekhawatiran terjadinya arus modal keluar (capital outflow) yang dapat menyebabkan rupiah bergejolak. Jika FFR turun atau dipertahankan, BI punya kesempatan menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) yang saat ini dipatok 5%. Penurunan suku bunga acuan bisa menarik turun suku bunga kredit, sehingga sektor riil bergerak lebih gesit karena mendapat pendanaan lebih murah dari perbankan.

Seiring meredanya perang dagang, perekonomian global diprediksi berangsur pulih tahun ini. Motornya tiada lain negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia yang bisa kembali menggenjot ekspor setelah perang dagang usai. Jika sebelumnya ekonomi dunia tahun ini diperkirakan cuma tumbuh 2,9-3%, berkat dorongan emerging market, ekonomi global berpotensi tumbuh di atas 3%.

Dari dalam negeri, lantai bursa pun akan mendapat katalis positif dari pembahasan omnibus law yang ditargetkan rampung dan diundangkan April tahun ini. Karena spiritnya adalah menarik sebanyak mungkin investasi maka penerapan omnibus law yang bertumpu pada UU Cipta Lapangan Kerja dan Perpajakan akan membuat perekonomian lebih bergairah.

Dengan suku bunga yang lebih pro bisnis, kondisi ekonomi global yang kondusif, nilai tukar yang stabil, dan iklim investasi yang lebih nyaman, perusahaan-perusahaan di dalam negeri, terutama yang sahamnya tercatat di bursa (listed company), tentu akan semakin ekspansif. Alhasil, mereka bakal menangguk laba lebih besar.

Maka bisa dipahami jika kalangan analis, investor saham, otoritas bursa, dan otoritas pasar modal lebih percaya diri menatap lantai bursa tahun ini. Meski demikian, tak berarti semuanya bakal berjalan sesuai harapan. Banyak hal yang dapat membuyarkan asumsi-asumsi tersebut Kecuali faktor global (perang dagang dan The Fed), faktor dalam negeri bakal sangat menentukan pergerakan pasar saham domestik.

Tahun ini, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,3%. Pasar akan melihat sejauh mana kesungguhan pemerintah mengejar target tersebut. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi hanya mencapai 5,1-5,2% atau di bawah asumsi APBN 2019 sebesar 5,3%.

Bila pemerintah kembali gagal mengejar target atau tidak menunjukkan progress bagus dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, pasar akan bereaksi negatif.

Upaya pemerintah membentangkan ‘karpet merah’ kepada investor melalui omnibus law juga bisa menjadi bumerang. Itu terjadi bila omnibus law yang merupakan gabungan revisi sekitar 82 UU tidak sehebat yang didengang-dengungkan pemerintah selama ini. Jika pemerintah cuma obral janji, pasar siap mengganjarnya.

Jangan lupa, penyelesaian kasus reksa dana bermasalah dan skandal Jiwasraya bakal menjadi sentimen yang menentukan pergerakan IHSG tahun ini. Pasar akan memberikan apresiasi luar biasa bila pemerintah berhasil membereskannya. Namun, pasar siap menjatuhkan hukuman yang setimpal jika pemerintah gagal menunaikan janjinya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA