Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana Main Hall di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Suasana Main Hall di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Optimisme IHSG Kuartal II

Senin, 5 April 2021 | 23:02 WIB
Investor Daily

Setelah terperosok ke titik terdalam di 3.937,6 pada 24 Maret 2020 karena shock oleh kasus Covid-19, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) perlahan bangkit. Secara gradual dan meyakinkan, indeks saham menembus level tertinggi pada 13 Januari 2021 di posisi 6.435,2.

Namun setelah itu, pergerakan indeks sangat fluktuatif dan kembali menurun. Pada akhir Maret lalu, IHSG menjebol level psikologis ke bawah 6.000, meskipun akhirnya kembali menguat di posisi 6.011 pada penutupan akhir pekan, 1 April lalu.

Dengan posisi tersebut, IHSG hanya men catat gain 0,54% sejak awal tahun (year to date/YTD). Performa tersebut relatif tertinggal dibanding bursa negara tetangga yang mencatat kinerja meyakinkan. Indeks saham Straits Times Singapura melonjak 11,75% (YTD), Thailand naik 10,24%, Vietnam meningkat 10,17%, Hangseng menguat 6,27%, dan Nikkei terdongkrak 7,09%.

Pergerakan indeks memang relative votatile dalam beberapa pekan terakhir. Sentimen negatif didominasi oleh pengaruh global. Yang utama adalah tendensi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat yang kemudian menyeret kenaikan imbal hasil obligasi di negara emerging markets.

Faktor pelemah berikutnya adalah lockdown lanjutan di sejumlah negara Eropa ka rena ketakutan serangan Covid gelombang ketiga, yang muaranya bersumber dari virus varian baru dari Inggris.

Lantas, bagaimana gambaran kinerja indeks harga saham pada kuartal II dan III ini? Untuk memprediksinya, tentu saja kita perlu menelisik faktor po sitif maupun negatif yang bakal mewarnainya pada periode tersebut.

Pertama, memasuki kuar tal kedua ini geliat industri manufaktur sangat membesarkan hati. Purchasing Manager’s Index (PMI) Indonesia pada bulan Maret 2021 melonjak jadi 53,2 atau naik dari 50,9 pada Februari 2021. Indeks tersebut merupakan posisi tertinggi dalam satu decade terakhir.

Rekor perbaikan sektor tersebut didorong oleh pertumbuhan permintaan baru dan produksi (output). Kedua variabel itu juga menorehkan kinerja paling tinggi sejak satu dekade terakhir. Produksi tercatat naik selama lima bulan berturut-turut.

Ini seiring dengan kenaikan volume permintaan baru. Perusahaan yang disurvei tetap optimistis bahwa kenaikan output akan bertahan selama tahun yang akan datang. Faktor positif kedua adalah pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal II bakal mencapai 7% (year on year/YOY). Tren perbaikan ekonomi terlihat konsisten, meski pada kuartal pertama ini produk domestic bruto (PDB) Indonesia diprediksi masih mi nus antara 1% hingga 0,1%.

Optimisme Menkeu tersebut diperkuat oleh analisis sejumlah lembaga penelitian dan sekuritas bahwa ekonomi kuartal II bakal melejit 6-7%, bahkan bisa lebih. Keyakinan tersebut dengan mempertimbangkan kasus Covid di Tanah Air berhasil dikendalikan dan tidak ada kebijakan lockdown lanjutan. Hal itu akan membuat ekonomi kembali bergerak. Selain itu, program vaksinasi berjalan baik sehingga kasus Covid diyakini cenderung menurun. Pelonggaran pembatasan mobilitas masyarakat akan menaikkan demand dan konsumsi di berbagai sektor ekonomi.

Atas dasar itu, sejumlah analis meyakini bahwa perekonomian Indonesia tahun ini mampu tumbuh sekitar 5%, sebagaimana ditargetkan oleh pemerintah. Hingga saat ini, OECD dan Dana Moneter Internasional (IMF) pun masih memprediksi ekonomi Indonesia mampu tumbuh masing-masing 4,9% dan 4,8% seiring dengan menguatnya sentimen positif arah pemulihan ekonomi. Faktor positif ketiga adalah potensi masuknya dana-dana asing ke emerging markets, termasuk Indonesia.

Salah satu faktor pendorong dana keluar dari AS tersebut  adalah rencana Presiden Joe Biden yang akan menaikkan pajak penghasilan korporasi di Amerika, dari 21% menjadi 28%, serta PPh perusahaan global dari 13% menjadi 21%.

Dengan ekspektasi ekonomi yang membaik pada kuartal kedua ini, profitabilitas korporasi tentu saja bakal ikut terkerek. Tak terkecuali perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Membaiknya performa emiten otomatis akan diikuti oleh kenaikan harga saham yang bersangkutan.

Meski demikian, tetap perlu dicermati risikorisiko yang bisa menghambat pemulihan IHSG atau memicu fluktuasi indeks saham. Faktor yang masih akan terus membayangi adalah kenaikan _ yield obligasi AS. Hal itu memicu dana keluar dari nega ranegara emerging markets, termasuk Indonesia. Hal itu juga akan memicu volatilitas di rupiah.

Perkembangan rupiah yang melemah belakangan ini dikhawatirkan oleh sejumlah kalangan bakal memicu Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dari ekspektasi. Terlebih lagi sejumlah negara_emerging markets sudah menaikkan suku bunga di tengah tekanan inflasi dan volatilitas mata uang, seperti Brasil, Rusia, dan Turki. Dengan gambaran kondisi domestic mau pun global tersebut, pergerakan indeks saham ke depan masih diwarnai vo la ti litas tinggi, meski diyakini ada kecen derungan menguat.

Untuk itu, para investor perlu cermat dalam berinvestasi, de ngan tetap memperhatikan fundamental emiten maupun fundamental perekonomian secara makro.

Terutama para investor pemula dan investor milenial yang cenderung berani menantang risiko, harus tetap berpegang pada prinsip- prinsip berinvestasi yang hati-hati. Parameter- parameter penting terkait fundamental dan teknikal harus benar-benar dicermati, jangan sampai terbawa arus permainan bandar. Hanya dengan berpegang pada prinsip kehati-hatian niscaya investor ritel akan memetik untung di tengah ketidakpastian dan turbulensi pasar.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN