Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Presiden Joko Widodo. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Optimistis Hadapi Tekanan Global

Investor Daily, Jumat, 29 November 2019 | 18:06 WIB

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menegaskan bahwa Indonesia akan mampu keluar dari tekanan global. Optimisme Presiden itu disampaikan saat acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2019, Kamis (28/11) malam. Jika Indonesia bisa memanfaatkan kondisi gejolak ekonomi global, maka ekonomi Indonesia bisa bertahan.

Ketidakpastian ekonomi global yang berdampak pada ekonomi negara berkembang seperti Indonesia, digambarkan Jokowi seperti film Cast Away, yang dibintangi aktor Tom Hanks. Jokowi mengibaratkan kegigihan Tom Hanks bisa bertahan dan hidup di tengah pulau ibarat Indonesia yang dilanda ketidakpastian global.

Menurut Presiden, ada tiga pelajaran yang bisa diimplementasikan Indonesia dalam menjaga perekonomiannya saat ini. Pertama, mampu bertahan di tengah kesulitan. Kedua, mencari sumber daya baru untuk tetap bertahan. Ketiga, optimistis dalam menghadapi berbagai tekanan.

Jokowi juga menyinggung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih di atas 5% tahun ini berada di urutan ketiga. Indonesia hanya kalah dari Tiongkok dan India. Bank Indonesia memperkirakan, laju pertumbuhan ekonomi dunia 2019 sebesar 3% dan 2020 sekitar 3,1%, turun dari 3,6% tahun 2018. Sedang laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 sekitar 5,1-5,5% tahun 2020, tak banyak beda dengan perkiraan laju pertumbuhan ekonomi 2019 sebesar 5,1%.

Karena itu, pelaku usaha harus optimistis menghadapi tahun 2020. Selain menjaga kesehatan fiskal, pemerintah akan fokus mendorong ekspor, melakukan substitusi impor, meneruskan pembangunan infrastruktur, mereformasi hukum dan menyederhanakan birokrasi, menarik investasi, dan meningkatkan penerimaan devisa.

Dengan berbekal optimisme tersebut, kita juga berharap perbankan segera mengambil kebijakan menurunkan bunga kredit. Di tengah kondisi ekonomi yang stagnan sekarang ini, penurunan bunga kredit akan mengurangi beban pelaku usaha. Penurunan bunga kredit sangat diharapkan karena akan menjadi stimulus bagi dunia usaha untuk ekspansi. Tidak hanya berdampak mendorong pertumbuhan ekonomi, ekspansi usaha juga dapat menciptakan lapangan kerja yang menjadi prioritas pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Terciptanya banyak lapangan kerja pada akhirnya akan menurunkan angka pengangguran yang mencapai 7,05 juta orang per Agustus 2019, naik secara jumlah dibandingkan Agustus 2018 sebesar 7 juta orang.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, saat membuka acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2019 dengan tema Sinergi Transformasi Inovasi Menuju Indonesia Maju, Kamis (28/11), kembali meminta perbankan cepat menurunkan suku bunga kredit dan mendorong pertumbuhan penyaluran kredit. Permintaan tersebut tidaklah berlebihan mengingat penurunan suku bunga bank masih terbatas sampai saat ini.

Bank Indonesia sudah habis-habisan mengeluarkan sejumlah jurus untuk menambah likuiditas, mendorong pertumbuhan kredit, serta sebagai upaya untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah perekonomian global yang melambat. BI telah menerapkan kebijakan makroprudensial yang dapat memberikan ruang kepada perbankan memperluas pendanaan dan mendorong intermediasi.

Pekan lalu, Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk menahan bunga acuan BI 7-day reverse repo rate (7DRRR) di level 5%. Akan tetapi, untuk menambah likuiditas perbankan, BI memutuskan kembali menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM). Penurunan GWM itu bisa menambah likuiditas ke seluruh bank. Total tambahan likuiditas diperkirakan sebesar Rp 26 triliun, yakni sebesar Rp 24,1 triliun ke bank umum konvensional, sedangkan sisanya ke bank umum syariah sebesar Rp 1,9 triliun.

Penambahan likuiditas tersebut diharapkan bisa mendorong pertumbuhan kredit, guna mengatasi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada kuaral III-2019 sebesar 5,02% (year on year/yoy), melambat dari capaian pertumbuhan sebesar 5,05% (yoy) pada kuartal II dan 5,07% pada kuartal I.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi juga terefleksi dari menurunnya pertumbuhan kredit. Per September 2019, pertumbuhan kredit perbankan sebesar 7,89% (yoy) atau lebih rendah dari Agustus yang 8,59% (yoy). Pertumbuhan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) per September lalu juga hanya7,47% (yoy), melambat dari Agustus yang tumbuh 7,62% (yoy).

Tidak hanya menurunkan GWM, pekan ini Bank Indonesia kembali mengeluarkan kebijakan relaksasi Rasio Intermediasi Makroprudensial/Penyangga Likuiditas Makroprudensial (RIM/PLM), dan Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV). Pelonggaran yang mulai berlaku pada 2 Desember 2019 ini bertujuan mendorong penguatan fungsi intermediasi perbankan.

Sejalan dengan Bank Indonesia, langkah yang sama dilakukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan memangkas tingkat bunga penjaminan masing-masing sebesar 25 basis poin (bps) bunga simpanan rupiah bank umum menjadi 6,25%, bunga penjaminan simpanan valuta asing (valas) bank umum menjadi 1,75%, dan bunga penjaminan simpanan rupiah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) menjadi 8,75%. Tingkat bunga penjaminan tersebut berlaku sejak 20 November 2019 hingga 24 Januari 2020. Sepanjang tahun ini, LPS telah tiga kali menurunkan bunga penjaminan atau sebesar 0,75%.

Berdasarkan data LPS, rata-rata suku bunga simpanan di 62 bank benchmark pada periode evaluasi 15 Oktober hingga 11 November 2019 turun 12 bps dibanding periode evaluasi sebelumnya menjadi 5,48%. Sementara itu, rata-rata bunga simpanan valuta asing (valas) sepanjang 18 September hingga 8 Oktober 2019 turun 7 bps menjadi 1,08%.

Sedangkan data internal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio likuiditas perbankan (Loan to Deposit Ratio/LDR) turun dari 94,04% pada Agustus menjadi 93,76% pada September 2019. Adapun tingkat bunga penjaminan LPS terpantau stabil. Hingga September 2019, jumlah rekening yang dijamin mencapai 294,75 juta atau 99,91% dari total rekening di perbankan.

Kini, perbankan diharapkan bisa secepatnya mengambil kebijakan menurunkan bunga kredit. Berdasarkan data OJK, rata-rata bunga kredit per September 2019 untuk kredit modal kerja (KMK) sebesar 10,33%, kredit investasi 10,11%, dan kredit konsumsi 11,53%. Sementara itu, rata-rata suku bunga deposito sebesar 7,07%.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA