Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seremoni Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2021 di Jakarta,   Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Seremoni Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2021 di Jakarta, Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Pasar Modal Bergairah

Jumat, 15 Oktober 2021 | 23:39 WIB
Investor Daily

Pasar modal Indonesia memperlihatkan performa yang baik di tengah pandemi. Indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak naik, jumlah investor bertambah, dan aktivitas perdagangan makin ramai. Kondisi ini tak lepas dari prestasi pemerintah dalam penanganan Covid-19 yang berujung memicu optimisme investor terhadap pemulihan ekonomi Indonesia.

Terkendalinya pandemi Covid-19 di Tanah Air menjadi momentum pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih tinggi ke depan. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2021 sebesar 7,07% secara year on year (yoy) atau 3,31% secara kuartalan (qtq). Tren pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap positif hingga akhir 2021 dan bahkan berlanjut sampai 2022.

Di pasar modal, optimisme investor tercermin dari pergerakan IHSG yang kembali mencatatkan kenaikan pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (14/10) kemarin. Dipicu optimism investor terhadap pemulihan ekonomi domestik, IHSG menguat 89,21 poin atau 1,36% ke posisi 6.626,11. Posisi IHSG ini sudah mendekati level penutupan tertinggi sepanjang sejarahnya di angka 6.689 yang dicapai pada tahun 2018.

Secara year to date (ytd), IHSG telah menguat sebanyak 10,82%. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 12,15 poin atau 1,26% ke posisi 972,66, dan secara year to date menguat sebesar 4,04%.

Nilai kapitalisasi pasar di BEI juga bertambah Rp 108 triliun menjadi Rp 8.123 triliun hingga kemarin.

Tidak hanya investor domestik, investor asing pun 'menyerbu' pasar saham Indonesia. Mereka memburu sahamsaham yang valuasi nya murah tapi prospek fundamental emitennya bagus. Sepanjang tahun ini, investor asing telah mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 31,64 triliun setelahpada perdagangan kemarin mencatatkan net buy Rp 1,58 triliun.

Selain optimisme pemulihan ekonomi nasional, masuknya dana asing ke pasar saham Indonesia juga didorong oleh kenaikan mayoritas indeks di bursa Wall Street seiring mulai adanya kepastian kapan bank sentral AS akan melakukan pengurangan pembelian obligasi. Katalis positif lainnya yaitu menguatnya harga komoditas seperti minyak sawit mentah (CPO), emas, timah, dan tembaga.

Saat ini merupakan momentum terbaik bagi perusahaan untuk penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham. Hingga 8 Oktober 2021, jumlah emiten baru di BEI mencapai 38 perusa haan, dengan dana yang dihimpun sebanyak Rp 32,15 triliun.

Pada periode tersebut, total emiten di BEI mencapai 750. Jumlah emiten baru saham saat ini merupakan yang tertinggi di Asean dan urutan ke-12 di dunia. Sementara sebanyak 25 calon perusahaan masuk daftar antrean untuk masuk bursa.

Selama periode Januari hingga 8 Oktober 2021, rata-rata frekuensi saham mencapai 1,2 juta kali, meningkat 90% dibandingkan sepanjang 2020. Data frekuensi saham harian sejak awal tahun 2021 juga terus mencatatkan rekor terbesar dan terbaru mencapai 2,1 juta kali pada 9 Agustus 2021.

Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi di BEI merupakan yang tertinggi di antara bursa efek kawasan Asean sejak tahun 2018.

Dari sisi permintaan, jumlah investor yang meliputi investor saham, reksa dana, dan obligasi di pasar modal sampai 30 September 2021 mencapai 6,43 juta investor. Angka itu meningkat 66,73% dibandingkan akhir tahun 2020 yang mencapai 3,88 juta, atau naik hampir lima kali lipat sejak tahun 2017.

Secara umum, jumlah investor ritel mencapai 90% dari total investor. Per akhir September 2021, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) investor ritel berkontribusi sebesar 64% dari total RNTH, meningkat dibandingkan akhir tahun 2020 sebesar 48%. Sedangkan proporsi investor institusi terhadap RNTH saat ini sedang mengalami penurunan.

Aktivitas perdagangan di BEI dalam tiga bulan terakhir juga mencatatkan rekor tertinggi barunya sejak bursa efek diswastanisasi tahun 1992. RNTH mencapai Rp 13 triliun per hari atau melonjak dua kali lipat dalam lima tahun terakhir.

Selain itu, frekuensi transaksi juga naik 1,2 juta transaksi per hari dan merupakan tertinggi di kawasan Asean dalam tiga tahun terakhir dan ini diikuti oleh lonjakan volume perdagangan lebih dari 19 miliar lembar per hari. Investor reksa dana mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni sebanyak 5,78 juta atau meningkat 82,18% dari akhir 2020.

Investor saham mencapai 2,9 juta dan investor surat berharga negara (SBN) mencapai 571,79 ribu. Investor saham dan SBN masing-masing meningkat 71,58% dan 24,2% dari akhir 2020.

Indikator-indikator positif tersebut mencerminkan kepercayaan masyarakat dalam me lakukan penggalan gan dana melalui pasar modal. Ditambah lagi semakin banyak masyarakat yang melek terhadap investasi saham, khususnya generasi milenial dan Generasi Z yang proporsinya 58% dari total investor ritel. Dari total aset di saham yang mencapai Rp 5.258,95 triliun per September 2021, investor domestik mendominasi dengan kepemilikan aset 58,42% dan investor asing 41,58%. Kepemilikan investor domestik meningkat dari posisi akhir 2020 yang baru mencapai 56,85%.

Di balik sederet catatan positif tersebut, tentu ada hal yang mesti menjadi pembenahan. Salah satunya adalah masih dangkalnya pendalaman pasar keuangan (financial deepening) Indonesia.

Dibandingkan dengan negara emerging market lainnya di kawasan, tingkat kedalaman pasar keuangan Indonesia relatif masih lebih rendah.

Mengutip data Bank Dunia, kapitalisasi pasar Indonesia pada 2020 sebesar 47% dari produk domestik bruto (PDB), di bawah emerging market sepertiIndia (99%) dan Malaysia (130%).

Berbagai inisiatif untuk mengakselerasi pengembangan dan pendalaman pasar keuangan perlu terus diupayakan, agar produk-produk investasi yang ditawarkan semakin menarik bagi investor. Dengan semakin banyaknya investor yang aktif bertransaksi di pasar modal maka diharapkan berefek pada percepatan laju pemulihan ekonomi nasional. Juga tidak kalah penting adalah meningkatkan perlindungan terhadap investor agar mereka semakin nyaman berinvestasi di pasar modal.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN