Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ruang check-in Bandara Soetta. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Ruang check-in Bandara Soetta. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Penerbangan Terpuruk

Investor Daily, Jumat, 10 Januari 2020 | 12:01 WIB

Industri penerbangan domestik sedang terpuruk. Penyebabnya adalah turunnya jumlah penumpang angkutan udara yang cukup drastis. Selama periode Januari-November 2019, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penumpang angkutan udara domestic mencapai 69,7 juta orang atau turun 19,14% dibanding periode sama tahun 2018 sebanyak 86,2 juta orang.

BPS
BPS

Sementara itu, jumlah penumpang angkutan udara ke luar negeri, baik menggunakan penerbangan nasional maupun asing, mencapai 17,1 juta orang atau naik 4,76% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Jumlah penumpang ke luar negeri terbesar melalui Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng mencapai 7,1 juta atau 41,25% dari total penumpang ke luar negeri, disusul Bandara Ngurah Rai Denpasar 6,4 juta atau 37,23%. Mahalnya harga tiket pesawat dituding sebagai pemicu utama turunnya jumlah penumpang angkutan udara domestik.

Dalam kondisi yang terpuruk itu, maskapai penerbangan juga punya pesaing baru yakni jaringan jalan tol Trans-Jawa dan Trans-Sumatera. Mahalnya harga tiket pesawat mendorong masyarakat beralih menggunakan kendaraan pribadi melalui jalan tol yang waktu tempuhnya makin cepat, selain juga biayanya lebih murah dibanding dengan pesawat. Kondisi itu tercermin pada masa angkutan Lebaran 2019.

Trans Sumatera. Foto: hutamakarya.com
Trans Sumatera. Foto: hutamakarya.com

Berdasarkan data Sistem Informasi Angkutan dan Sarana Transportasi Indonesia (SIASATI) Kementeian Perhubungan, jumlah penumpang pesawat mencapai 2.862.183 selama H-7 hingga H+5 Lebaran 2019. Jumlah tersebut turun 33,04% dibanding periode sama tahun 2018 yang mencapai 4.219.786. Jumlah keberangkatan pesawat selama musim mudik Lebaran 2019 juga turun 24,71% dibanding 2018, dari 31.756 menjadi 23.910. Sedangkan jumlah kedatangan pesawat juga turun 25,45%, dari 31.813 pada 2018 menjadi 23.718 selama mudik Lebaran 2019.

Semakin tersambungnya konektivitas jalan tol juga berpengaruh terhadap volume penumpang pesawat pada masa angkutan Nataru 2019/2020 yang mencapai 5,1 juta atau menyusut 6,5% dibanding realisasi angkutan Nataru 2018/2019. Volume penumpang angkutan udara Nataru 2019/2020 di bawah jumlah penumpang angkutan kereta api yang tumbuh 4,4% menjadi sebanyak 5,7 juta pada masa angkutan Nataru 2019/2020.

Lesunya bisnis penerbangan juga terlihat dari data yang dikeluarkan oleh beberapa stakeholder di industri penerbangan. Pada masa Angkutan Nataru 2019/2020, PT Angkasa Pura (AP) I melayani sebanyak 4,5 juta penumpang di 14 bandara kelolaan atau turun 6,4% dibanding realisasi Nataru 2018/2019. Penurunan trafik penumpang di beberapa bandara kelolaan AP I di Pulau Jawa terjadi setelah dioperasikannya Jalan Tol Trans-Jawa, selain juga karena harga tiket yang masih relatif tinggi dan semakin banyaknya pilihan moda transportasi lain.

Soekarno-Hatta dilengkapi skytrain sbg feeder antar terminal . Foto: dok. Angkasa Pura II
Soekarno-Hatta dilengkapi skytrain sbg feeder antar terminal . Foto: dok. Angkasa Pura II

PT Angkasa Pura (AP) II juga memproyeksikan terjadi penurunan jumlah penumpang angkutan udara berkisar 18-20% sepanjang 2019 dibandingkan realisasi tahun 2018. Sementara PT Airnav Indonesia memprediksi lalu lintas pesawat domestik yang dilayani Airnav sepanjang 2019 turun hingga 17,5% atau merosot dari target pertumbuhan 5%. Kemudian, penerbangan internasional turun tipis 0,1% sepanjang 2019.

Turunnya volume lalu lintas penerbangan baik penumpang maupun kargo terkait permintaan (demand) konsumen yang sedang turun. Untuk mengejar pertumbuhan penumpang, maskapai tidak bisa menurunkan tarif pesawat secara drastis karena terbentur oleh harga avtur domestik belum merata.

Selain itu, beban operasional maskapai juga kian berat karena masih banyak suku cadang pesawat yang dikenakan bea masuk. Di sisi lain, maskapai harus mengedepankan aspek keselamatan yang menjadi fokus utamanya, sehingga tidak bisa seenaknya menurunkan tarif dan pelayanan demi mengejar jumlah penumpang.

Bisnis penerbangan terkait erat dengan kondisi perekonomian. Artinya, untuk mendorong pertumbuhan penumpang udara harus ditunjang dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih baik terlebih dulu. Demand angkutan udara akan terdongkrak jika ekonomi tumbuh signifikan. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang melemah akan berdampak menurunkan permintaan angkutan penerbangan seiring turunnya aktivitas bisnis. Kendati mendapat pesaing baru dari jalan tol di Jawa dan Sumatera, industri penerbangan nasional masih punya prospek bagus.

BNI dan Citilink mengajak para nasabah milenial untuk menggunakan Kartu Co-Brand Debit BNI Citilink pada Travelling & Shopping Experience dalam penerbangan Citilink dari Jakarta menuju Denpasar, Bali. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
BNI dan Citilink mengajak para nasabah milenial untuk menggunakan Kartu Co-Brand Debit BNI Citilink pada Travelling & Shopping Experience dalam penerbangan Citilink dari Jakarta menuju Denpasar, Bali. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Potensi industri penerbangan tetap menarik mengingat jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 262 juta dan jumlah kelas menengah yang terus meningkat. Sedangkan rata-rata penumpang pesawat saat ini masih sekitar 120 juta per tahun. Masih rendahnya jumlah penumpang pesawat dibandingkan jumlah penduduk menjadi peluang pasar yang mesti dimanfaatkan oleh operator maskapai.

Untuk menyiasati kondisi yang sedang lesu, maskapai penerbangan harus pintar menangkap potensi penerbangan ke destinasi-destinasi pariwisata yang digencarkan pemerintah. Artinya, jangan sampai destinasi pariwisata yang ditetapkan pemerintah sebagai super prioritas tidak termanfaatkan. Apalagi sekarang sudah ada pemenang lelang pengembangan Bandara Komodo di Labuan Bajo yang bakal meningkatkan kapasitas penumpang ke destinasi wisata tersebut.

Bandara Komodo, Labuan Bajo. NTT. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Bandara Komodo, Labuan Bajo. NTT. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Potensi pariwisata dapat menopang pertumbuhan industri penerbangan. Namun untuk merealisasikannya, pemerintah harus mengembangkan destinasi pariwisata yang bukan hanya murah meriah tapi juga yang berkelas premium. Produk pariwisata premium bisa ditawarkan kepada wisatawan nusantara (wisnus) yang berkantong tebal. Namun, pemerintah harus memberikan sejumlah insentif agar biaya perjalanan ke lokasi-lakasi wisata yang menawarkan produk premium semakin mudah dan murah.

Selan itu, operator penerbangan sebaiknya lebih fokus menggarap segmen pasar korporasi dan sekaligus mengintensifkan segmen penerbangan antarpulau. Segmen korporasi memerlukan transportasi yang cepat dan nyaman meski memang porsinya tidak terlalu besar dibandingkan segmen individu. Operator penerbangan bisa meningkatkan frekuensi penerbangan antarpulau ke Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Lombok maupun penerbangan intrapulau di Papua serta Maluku.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN