Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Penguatan Struktur PDB

Rabu, 8 Mei 2019 | 12:28 WIB

Mencermati struktur produk domestik bruto (PDB) kuartal I-2019 berdasarkan lapangan usaha yang diumumkan Badan Pusat Statistik, industri pengolahan merupakan sumber pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 0,83%.

Kemudian diikuti sektor perdagangan 0,70%, konstruksi 0,59%, infokom 0,47%, dan sektor lainnya 2,48%. Meski demikian, ada hal yang patut dicermati, karena pertumbuhan industri manufaktur yang terus menurun dan acap kali laju di bawah pertumbuhan ekonomi.

Juga karena kontribusinya terhadap PDB yang kian susut. Pada kuartal I-2019, industri pengolahan hanya tumbuh 3,86% (year on year/yoy), lebih rendah dari pertumbuhan PDB sebesar 5,07%.

Dalam beberapa tahun terakhir, gambaran muram industri manufaktur memang begitu kentara. Tahun lalu, ketika ekonomi melaju 5,17%, industri manufaktur atau pengolahan hanya tumbuh 4,77%. Pada 2017, saat PDB tumbuh 5,07%, industri manufaktur hanya meningkat 4,85%. Begitu pun pada 2016, industri manufaktur hanya bertumbuh 4,42%, ketika perekonomian nasional melaju pada tingkat 5,02%.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB terus menyusut. Sejak 2011, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB merosot ke level di bawah 20%. Pada 2016, kontribusinya tinggal 18,2%, kemudian turun lagi menjadi 17,92% pada 2017, dan tahun lalu hanya 17,63%.

Perlambatan laju industri manufaktur yang berada di bawah pertumbuhan PDB dan merosotnya kontribusi terhadap PDB membuktikan bahwa akselerasi deindustrialisasi menjadi ancaman yang serius. Deindustrialisasi harus direm dengan mendorong reindustrialisasi pada sektor-sektor yang strategis dan menyerap banyak lapangan kerja.

Reindustrialisasi ditempuh dengan mempercepat pembangunan kawasan industri yang fokus pada pengolahan bahan mentah tambang, perkebunan, perikanan, dan agro industri lainnya. Inilah keunggulan sektor industri yang kita miliki karena berbasis sumber daya alam. Percepat juga industrialisasi yang fokus memproduksi barang-barang industri padat karya, padat modal, dan padat teknologi.

Industrialisasi pada sektor-sektor berbasis sumber daya alam (SDA) menjadi mutlak karena Indonesia tidak mungkin lagi mengandalkan ekspor komoditas. Anjloknya harga komoditas di pasar internasional membuat penurunan daya beli, khususnya di sentra-sentra komoditas terutama Sumatera dan Kalimantan. Hal itu pula yang menjadi penyebab kian timpangnya perekonomian antara Jawa dan luar Jawa.

Selain mendorong hilirisasi dan industri yang berbasis komoditas, Indonesia juga harus mengembangkan industri-industri yang impornya masih tinggi, khususnya bahan baku/penolong dan barang modal. Sebab, keduanya selama ini menjadi biang keladi memburuknya defisit transaksi berjalan.

Insentif-insentif juga perlu diberikan. Hal ini terutama untuk sektor industri strategis yang banyak menyerap tenaga kerja, menghasilkan devisa, industri pioner, serta industri yang menggunakan kandungan lokal tinggi.

Sementara itu, di luar industri manufaktur, dua sektor yang mendominasi kontribusi terhadap PDB saat ini adalah pertanian dan perdagangan. Ketiga sektor ini juga menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Angkatan kerja saat ini didominasi oleh tiga lapangan pekerjaan utama yaitu pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 29,46%, perdagangan sebesar 18,92%, dan industri manufaktur sebesar 14,09%

Sektor perdagangan saat ini mendapat peluang baru dengan perkembangan pesat e-commerce di Tanah Air, ekonomi digital, serta ekonomi kreatif. Sedangkan untuk sektor pertanian, produktivitasnya bisa digenjot lewat perbaikan sektor produksi, antara lain benih yang berkualitas, sistem irigasi yang terjaga, teknologi tepat guna, hingga penanganan pascapanen.

Dalam konteks itu, ke depan, kebijakan ekonomi harus diarahkan untuk mendorong sektor industri, perdagangan, dan pertanian yang terbukti memiliki kontribusi terbesar terhadap PDB dan paling banyak menyerap tenaga kerja. Dengan lebih fokus pada tiga sektor prioritas ini, kita yakin struktur PDB nasional akan semakin kokoh dan melaju lebih kencang. Bukan hanya itu, kita pun akan mampu mewujudkan pertumbuhan yang berkualitas, yakni menyerap banyak tenaga kerja, inklusif, dan berkeadilan. Dan ke depan, pertumbuhan ekonomi minimal 6% bukanlah sesuatu yang sulit untuk digapai.

Paralel dengan upaya tersebut, pemerintah juga perlu mendorong tumbuhnya inovasi-inovasi dalam berbagai bidang industri. Sebab, inovasi dan perbaikan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu kunci pendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yang dapat menghindarkan bangsa ini dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN