Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BRI meluncurkan banyak produk fintech online.

Bank BRI meluncurkan banyak produk fintech online.

Perbankan Jadi Incaran

Rabu, 13 Januari 2021 | 07:05 WIB
Investor Daily

investor.id

 

Putaran dana global yang berbalik arah ke pasar saham emerging markets mendorong gairah bursa dalam negeri. Kebijakan Amerika Serikat yang dipastikan menggelontorkan stimulus besar-besaran membawa sentimen positif naiknya animo asing untuk membeli kembali aset ekuitas di Bursa Efek Indonesia.

Dana asing sudah mulai masuk ke bursa saham Indonesia sejak hari pertama perdagangan tahun ini. Foreign capital inflows tercatat terus bertambah menembus Rp 6,40 triliun hingga Selasa (12/1), setelah sepanjang tahun lalu mencatatkan net sell massif Rp 47,81 triliun.

Masuknya modal asing yang menderas itu mengangkat indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus 6.395,67 kemarin. Indeks ini sudah terangkat 6,97% dibanding penutupan perdagangan terakhir di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun lalu.

Saham-saham yang menjadi incaran favorit investor asing plus lokal itu adalah bank-bank pelat merah maupun swasta. Hal ini diindikasikan dengan dominasi saham-saham perbankan di puncak daftar top 10  'Januari 2021 Mover' yang dicatat BEI. Di peringkat pertama adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, yang harga sahamnya melambung 13,2% dan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa setelah menyentuh Rp 4.770 per unit. Market cap bank BUMN ber-ticker code BBRI meningkat tembus Rp 576 triliun, terbesar kedua setelah emiten PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Menyusul di peringkat kedua adalah BBCA, yang harga sahamnya melaju 5,8%. Bank swasta yang mayoritas sahamnya kini dikuasai dua bersaudara terkaya di Indonesia, Budi Hartono dan Michael Hartono, itu memiliki kapitalisasi pasar Rp 874 triliun. Sedangkan peringkat kedua dan ketiga juga masih dari perbankan, yakni PT Bank Mega Tbk (MEGA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Kinerja indeks harga saham sektor keuangan pun moncer, melejit 10,02% year to date. Pertumbuhannya jauh melampaui IHSG yang sebenarnya sudah melaju ke level tertinggi sejak sekitar Juli 2019.

Mengapa saham-saham perbankan ini sangat cemerlang? Jika ditelusuri, hal ini tak lepas dari dari campur tangan pemerintah yang besar. Yang utama adalah, pelaksanaan vaksinasi Covid-19 gratis untuk semua masyarakat dengan kick off besok pagi oleh Presiden Joko Widodo sebagai penerima vaksinasi pertama, yang sekaligus untuk meyakinkan bahwa vaksinasi ini aman. Ini akan menjadi game changer utama.

Faktor lain, pemerintah masih memberikan stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat yang tertekan pandemi Covid-19 dan mengupayakan pemulihan ekonomi, terutama sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang paling terdampak krisis kali ini. Pasalnya, krisis kesehatan sekarang juga harus diatasi dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan kini Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), yang menyebabkan pembatasan usaha maupun pergerakan manusia.

Masalah kesehatan yang belum dapat ditanggulangi inilah yang menyebabkan kelas menengah-atas masih menahan belanjanya, yang membuat simpanan di perbankan membengkak namun kredit belum lancar disalurkan karena demand lemah. Akibatnya, laba bersih bank umum tahun lalu turun 29,15% per Oktober 2020 (year on year), menjadi Rp 92,64 triliun, berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan.

Namun, tahun ini, kredit dipastikan kembali mengucur seiring proyek-proyek infrastruktur yang digenjot lagi, setelah tahun lalu dipangkas besar-besaran ke Rp 281,1 triliun, karena sebagian dana direalokasi untuk menanggulangi pandemi virus baru asal Wuhan Covid-19 dan dampaknya yang luas. Pada anggaran 2021, pemerintah telah mengalokasikan dana infrastruktur Rp 417 triliun, meningkat kembali 48% dibanding tahun lalu.

Bergeraknya kembali pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan ini akan mengerek lagi pertumbuhan kredit bank-bank BUMN maupun swasta. Dengan demikian, dana pihak ketiga (DPK) yang menumpuk di bank dapat disalurkan kembali dengan mengalirnya kucuran ke sektor infrastruktur, yang juga menggerakkan banyak industri terkait di dalam negeri. Apalagi, mulai tahun 2021, pemerintah melarang penggunaan barang impor untuk semua proyek konstruksi dan properti, untuk pemulihan kembali perekonomian.

Selain itu, pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Sovereign Wealth Fund (SWF) yang merupakan amanat Undang-Undang Cipta Kerja bakal menggerakkan ekonomi dan mengatasi pengangguran sesuai semangat omnibus law pertama tersebut. Berdasarkan Pasal 165 UU Ciptaker, pembentukan LPI dimaksudkan untuk meningkatkan dan mengoptimalisasi nilai aset secara jangka panjang, guna mendukung pembangunan secara berkelanjutan.

Pemerintah akan menyiapkan modal awal sekitar Rp 15 triliun hingga Rp 75 triliun untuk membentuk SWF yang merupakan praktik yang banyak dilakukan negara lain, seperti Singapura dengan Temasek-nya. LPI ini diproyeksikan mampu menarik atau mengelola investasi yang masuk ke Tanah Air sekitar Rp 225 triliun, atau tiga kali lipat dari modal awal, untuk mendorong sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Prospek mengalirnya kembali kredit inilah yang menjadi sumber pemulihan kinerja perbankan tahun ini. Yang tak kalah penting, sejumlah aksi korporasi yang dilakukan bank seperti merger tiga bank BUMN syariah, akan meningkatkan efisiensi dan memperkuat permodalan, sehingga dapat melakukan investasi besar teknologi untuk pengembangan layanan dan pasar.

 

 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN