Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi: Nasabah melakukan transaksi melalui jaringan ATM di pusat perbelanjaan Grand Indonesia, Jakarta.  Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Ilustrasi: Nasabah melakukan transaksi melalui jaringan ATM di pusat perbelanjaan Grand Indonesia, Jakarta. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Perbankan Resilien

Rabu, 26 Agustus 2020 | 23:14 WIB
Investor Daily

Investor memburu saham-saham perbankan di Bursa Efek Indonesia kemarin, yang mengangkat kembali indeks ke level tertingginya sejak 9 Maret lalu. Harapan pemulihan membuncah seiring keberhasilan sejumlah kandidat vaksin Covid-19 yang kini masuk uji klinis tahap akhir di berbagai negara.

Sebagai leading indicator, indeks harga saham gabungan (IHSG) pun melaju 1,17% ke level 5.338,9 pada perdagangan Selasa (25/8). Saham-saham perbankan menjadi motor penguatan, dengan indeks saham keuangan melambung 2,01%, disusul sektor perdagangan, jasa, dan investasi 1,39%. Sebanyak 16,14 miliar unit saham berpindah tangan, dengan nilai transaksi Rp 9,38 triliun atau jauh di atas rata-rata harian.

Perbankan kita memang masih menarik, memiliki resiliensi atau daya tahan yang oke. Ini patut disyukuri di tengah pukulan berat pandemi Covid-19 dan diikuti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang membuat ekonomi nyaris lumpuh, terutama sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perbankan masih bisa mengontrol non-per forming loan (NPL) di level sekitar 3,11% hingga Juni lalu, meski sedikit naik dari sebelumnya sekitar 2,7% pada Maret lalu.

Hal ini juga dibantu insentif restrukturisasi kredit lewat Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No 11/POJK.03/2020 Tahun 2020, tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Covid-19. Kredit perbankan juga diproyeksikan masih tumbuh meski tipis tahun ini.

Perbankan Nasional
Perbankan Nasional

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk yang nasabahnya mayoritas UMKM pun masih optimistis bisa tumbuh kreditnya sekitar 5-6%, meski tak sebagus tahun la lu yang double digit. Kredit yang sempat menukik tur un tajam sebelumnya, mulai Juli lalu tumbuh kembali setelah sebulan pelonggaran PSBB. Sepanjang semester I tahun ini juga masih mencatatkan laba Rp 10,18 triliun, meski menyusut dibanding tahun lalu.

Sejumlah bank pembangunan daerah(BPD) juga tidak terlalu terdampak. Ini karena kebanyakan nasabahnya aparatur sipil negara (ASN) atau yang memiliki pendapatan tetap. Selain itu, sektor yang dibiayai di daerah juga umumnya pertanian atau sektor pangan, yang semakin dibutuhkan masyarakat untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Dengan didukung daya tahan perbankan kita yang masih bagus, kondisi ke depan tidak akan lebih berat.

Kita akan cepat recover, karena bank yang memompakan ‘darah’ dalam perekonomian masih oke, tidak hancur. Harga- harga barang juga terkendali, hanya saja masyarakat banyak yang tidak punya duit karena bisnis masih tersendat.

Oleh karena itu, pemerintah, otoritas moneter, hingga OJK harus membantu perbankan untuk pulih lebih cepat. Suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) yang massif diterbitkan lewat kesepakatan pemerintah dengan Bank Indonesia misalnya, jangan terlalu tinggi, karena akan merebut nasabah perbankan berbondong-bondong ke sana.

Suku bunga SBN saat ini masih jauh di atas tingkat bunga deposito bank yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS rate) 5,25%.  Padahal, pemerintah akan menerbitkan berkali-kali lipat SBN lebih banyak tahun ini, untuk membiayai penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional serta menutup pendapatan perpajakan yang anjlok.

Pada Januari-Juli 2020, utang baru yang dilakukan pemerintah melalui penerbitan SBN neto melambung 118,1% menjadi Rp 519,2 triliun, dibanding periode sama 2019 senilai Rp 244,4 triliun. Utang baru di masa pandemic Covid-19 ini dipastikan masih akan terus dilakukan pemerintah hingga akhir Desember nanti, mengingat total target pembiayaan pemerintah tahun ini menembus Rp 1.039,2 triliun, berkalikali lipat dibanding realisasi tahun lalu Rp 296 triliun.

Nasabah melakukan transaksi di mesin Anjungan Tunai mandiri (ATM) di Jakarta, Jumat (12/6/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Nasabah melakukan transaksi di mesin Anjungan Tunai mandiri (ATM) di Jakarta, Jumat (12/6/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Di sisi lain, perbankan juga harus berbenah, cepat melakukan transformasi digitalisasi dan memberikan berbagai layanan digital banking yang aman dan nyaman, serta meningkatkan efisiensi dan jangkauan ke nasabah lewat branchless banking. Persetujuan kredit yang biasanya memakan waktu 1-2 minggu misalnya, bisa dipangkas dalam 1-2 hari saja.

Selain itu, perbankan juga harus mengantisipasi disrupsi seperti dari peer to peer (P2P) lending yang tumbuh pesat, karena layanan pinjamannya yang mudah dan cepat memang dibutuhkan masyarakat. Hal ini antara lain dengan menggandeng P2P lending dalam penyaluran pinjaman ke kalangan yang selama ini belum bankable, yang masih banyak jumlahnya di Tanah Air.

Yang tak kalah penting dilakukan adalah membantu memastikan para pelaku usaha kembali bisa menjalankan bisnisnya, setelah restrukturisasi kredit nasabah terdampak Covid-19 -- terbanyak UMKM—yang mencapai sekitar Rp 740 triliun. Agar bisnisnya bisa kembali bergulir, maka pemerintah pun harus membantu untuk memperkuat permintaan pasarnya. Ini antara lain dengan mempercepat penyaluran dana penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional yang sekitar Rp 695,2 triliun.

Selain itu, segera menerbitkan aturan baru yang tegas mewajibkan anggaran pengadaan seluruh barang dan jasa pemerintah pusat dan daerah yang sekitar Rp 1.160 triliun tahun ini dibelanjakan untuk membeli produk dalam negeri.

Dengan demikian, setelah OJK mengakhiri masa relaksasi penundaan pembayaran bunga utang dan pokok, para nasabah bisa kembali lancar membayar kewajibannya kepada bank.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN