Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbankan Nasional

Perbankan Nasional

Perbankan Terus Cetak Laba

Senin, 22 Juli 2019 | 11:50 WIB

Kekhawatiran terhadap menciutnya peran bank belum sungguh terbukti. Bank umum nasional justru tetap mencetak laba. Kemajuan financial technology yang menghimpun dan memberikan pinjaman lewat peer to peer lending belum mampu menghambat pertumbuhan bank.

Salah satu faktor penyebabnya adalah keluwesan bank dalam mengikuti perkembangan. Perbankan juga mengembangkan financial technology (fintech). Berbagai jenis pembayaran yang menggunakan jasa bank juga sudah bisa dilakukan secara online. Nasabah yang membutuhkan kecepatan sudah bisa dipenuhi oleh bank.

Bank juga bekerja sama dengan berbagai perusahaan fintech, khususnya yang bergerak di bidang e-commerce. Sistem pembayaran di berbagai e-commerce sudah bisa menggunakan jasa bank. Bank-bank milik negara menggunakan Link Aja untuk berbagai kegiatan transaksi. Dari aspek kecepatan melayani nasabah, perbankan tidak kalah dari non-bank.

Dalam soal keamanan, perbankan masih belum tersaingi. Sudah begitu banyak nasabah fintech peer to peer lending yang menjadi korban penipuan. Kondisi ini membuat nasabah kembali berpaling pada bank. Perbankan masih dinilai paling aman dalam mengelola dana.

Tidak heran jika kinerja perbankan terus membaik. Bank-bank yang sudah berstatus perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan kinerja mengesankan. Harga sahamnya terus meroket. Sebutlah harga saham PT BCA Tbk yang sudah menembus Rp 31.000 dan kapitalisasi pasar yang sudah di atas Rp 760 triliun.

Demikian pula dengan harga saham PT BRI Tbk yang terus membubung tinggi dan market cap menembus Rp 552 triliun. Selama Januari-Mei 2019, laba bersih perbankan nasional Rp 62,58 triliun atau naik 8,87% dibandingkan periode sama tahun lalu. Laba bersih sebesar ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih sebesar Rp 157,96 triliun.

Selain pendapatan bunga, perbankan kini membukukan penerimaan dari aktivitas fee based income. Sinyal penurunan suku bunga global direspons positif oleh perbankan. Kalangan perbankan yakin, dengan penurunan suku bunga, kualitas kredit akan semakin bagus. Kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) bakal menurun. Keputusan Dewan Gubernur BI, Kamis (18/7/2019) diapresiasi kalangan perbankan. BI-7 day reverse repo rate diturunkan 25 basis poin ke level 5,75%.

Untuk kesekian kalinya BI bertindak “ahead of the curve” , mendahului reaksi pasar. Meski bank sentral AS belum menurunkan fed fund rate (FFR), BI sudah terlebih dahulu memangkas suku bunga acuannya. FFR ini masih di kisaran 2,25-2,50%. Tahun lalu, banyak pihak memperkirakan The Fed akan terus menaikkan FFR hingga menembus 3,50%. Namun, saat ini, kemungkinan besar, suku bunga acuan The Fed akan dipangkas hingga 75 basis poin pada akhir tahun 2019.

Para bankir bank kategori BUKU I yakin, laju pertumbuhan kredit tahun ini akan menembus 13%. Posisi kredit per Mei 2019 sebesar Rp 5.418,65 triliun atau naik 11,05% dibandingkan Mei 2018. Sedang dana pihak ketiga (DPK) selama periode yang sama, tumbuh 6,27%. Pertumbuhan DPK yang di bawah laju kredit menunjukkan ketatnya likuiditas. Persaingan antarbank untuk mendapatkan DPK sangat keras. Bank BUKU IV umumnya unggul dalam memperebutkan dana masyarakat. Dengan kredibilitas yang jauh lebih baik, bank kelompok ini tak perlu terlibat perang suku bunga. Dengan suku bunga yang lebih rendah, bank BUKU IV sudah mampu menarik dana simpanan nasabah.

Beda dengan bank BUKU I, BUKU II, dan sebagian besar BUKU III yang harus menawarkan suku bunga tinggi untuk menarik minat nasabah. Tapi, dengan menawarkan bunga simpanan tinggi, bank kesulitan melemparkannya ke para debitur.

Kendati masih kuat dan bertumbuh, perbankan kini mendapatkan persaingan sangat berat dari fintech yang menyelenggarakan peer to peer lending. Kompetitor bank juga datang dari meluasnya penggunaan uang digital atau cryptocurrency.

Data perbankan menunjukkan, net interest margin (NIM) perbankan menurun. Kondisi ini mendorong perbankan untuk lebih efisien. Perlahan, perbankan harus memperkuat kemampuan untuk mendapatkan keuntungan dari kegiatan fee based income.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN