Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peti kemas. Foto ilustrasi: IST

Peti kemas. Foto ilustrasi: IST

Perdagangan Antarnegara Harus Saling Menguntungkan

Kamis, 4 Juli 2019 | 11:44 WIB

Ketegasan Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif tinggi, untuk keadilan perdagangan dengan Tiongkok, berbuah manis. Pertumbuhan ekonomi negeri adidaya itu menguat awal tahun ini, di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Prospek ke depan juga oke, didukung arah penurunan suku bunga acuan The Fed, pemangkasan pajak yang sudah diberlakukan, serta meredanya perang dagang dengan RRT.

Faktor-faktor tersebut menjadi stimulus yang efektif memacu pertumbuhan Amerika Serikat. Pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam itu melesat ke 3,1% pada kuartal I tahun ini, dibanding 2% triwulan sama tahun lalu. Sebagai negara dengan produk domestic bruto (PDB) terbesar di dunia, cerahnya prospek AS dan meredanya perang dagang tentu memberi sentiment positif ekonomi global, yang tercermin di pasar finansial. Harga saham-saham perusahaan di bursa Wall Street melejit hingga 14,8% year to date, yang ikut mendorong pemulihan pasar saham global, termasuk Indonesia.

Pasar modal dunia dan domestik diprediksi lebih kuat dan stabil, pada kuartal III ini hingga tahun depan. Investasi global pun sudah terlihat mengalir kembali ke Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan asing kembali mencatatkan net buy (beli bersih) saham, senilai Rp 69,97 triliun year to date. Indeks harga saham gabungan (IHSG) terdorong melaju ke zona hijau, tumbuh 2,71% year to date, disbanding sepanjang tahun 2018 yang minus 2,54% atau terburuk dalam 3 tahun terakhir.

Masuknya kembali dana asing itu mengakhiri capital outflow besarbesaran dari pasar saham kita, dua tahun berturut-turut sebelumnya. BEI mencatat, net sell (jual bersih) oleh asing pada 2018 menembus Rp 50,75 triliun, lebih parah dari tahun 2017 yang sebesar Rp 39,87 triliun.

Kinerja pasar saham kita yang belum sepenuhnya pulih ini sejalan dengan kinerja ekonomi kita yang terbilang jalan di tempat. Lihat saja, Indonesia sebagai negara berkembang, ekonominya hanya tumbuh sekitar 5% dan deficit perdagangan kian membengkak. Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019 hanya 5,07%, di bawah ekspektasi sebelumnya, meski ada kenaikan tipis dari periode sama tahun sebelumnya 5,06%.

Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) urgen untuk mencontoh langkah tegas Presiden Donald Trump dalam melindungi kepentingan negaranya. Indonesia juga perlu mengambil aksi tegas agar Tiongkok mau merundingkan perdagangan yang lebih adil terhadap Indonesia. Banjir produk-produk murah dari negeri komunis itu sudah lama menghancurkan berbagai industri di dalam negeri. Industriawan kita pun banyak yang beralih menjadi importir, sehingga industri nasional rapuh dan ekspor terus merosot.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia tahun lalu mengalami defisit perdagangan US$ 8,5 miliar, terburuk sepanjang sejarah RI merdeka. Pasalnya, defisit transaksi dagang dengan RRT makin membengkak hingga menembus US$ 20,85 miliar, yang berdampak ikut menekan rupiah yang terdepresiasi 6,89% tahun lalu. Oleh karena itu, untuk menyelamatkan ekonomi nasional, Presiden Jokowi perlu mengambil langkah tegas terhadap Tiongkok, agar mereka mau menegosiasikan kesepakatan perdagangan yang lebih adil bagi kita. Perdagangan yang saling menguntungkan kedua pihak.

Langkah ini tentu saja dengan lebih dulu mendengarkan suara dan mengakomodasi usulan para pengusaha di dalam negeri. Usulan pengusaha di berbagai sektor yang dirugikan itu harus benar-benar diakomodasi, dengan melihat kepentingan nasional yang lebih luas.

Usulan dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Syntehtic Fiber (Apsyfi) misalnya, harus diperhatikan benar-benar oleh pemerintah. Industri yang banyak menyerap tenaga kerja dan menyumbang devisa ekspor besar ini meminta tarif bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) atau safeguard diterapkan dari hulu hingga hilir. Fokus di hilir adalah melindungi industri kain dan garmen di Tanah Air, sedangkan di hulu memproteksi industry serat sintetis dan benang. Penerapan safeguard itu diproyeksikan bisa memangkas impor kain --salah satu produk tekstil hilir—hingga 50%, menjadi 400 ribu ton per tahun. Selama ini, kain impor membanjiri pasar domestik, lantaran harganya 30% lebih murah dari produk lokal. Apsyfi mencatat, impor kain mencapai 800 ribu ton per tahun dengan nilai sekitar US$ 9 miliar.

Safeguard ini seharusnya sudah dilakukan pemerintah RI sejak dulu, sebagaimana dilakukan Brasil, India, Pakistan, dan Turki, ketika pasar domestiknya diserbu impor. Semakin besar tarif BMTP, impor bisa dipangkas semakin banyak. Jika tarif BMTP dipatok 20%, impor diproyeksikan berkurang 10%; sedangkan jika tarifnya di atas 30%, impor bisa dipangkas 40-50%.

Selain itu, pemerintahan Jokowi harus segera merealisasikan rencana penurunan pajak penghasilan badan dari saat ini masih 25%, jauh lebih tinggi dari tetangga Singapura yang sudah 17%. Bahkan, pajak korporasi di AS pun sudah dipangkas dari 35% menjadi tinggal 21% oleh Trump, yang juga berlatar belakang pengusaha.

Urgensi lain, belasan paket-paket kebijakan ekonomi yang sudah lama diluncurkan pemerintahan Jokowi harus segera diimplementasikan di lapangan. Kalangan pengembang misalnya, banyak mengeluhkan mandeknya paket kebijakan ekonomi yang bertujuan memberi stimulus pada sektor properti. Dari 16 paket kebijakan ekonomi itu, 13 di antaranya bersinggungan dengan sektor properti, yang memiliki multiplier effect besar terhadap lebih dari 100 sektor yang lain.

Dengan langkah tegas Presiden Jokowi untuk menstimulus ekonomi secara efektif, dipastikan aliran investasi ke negeri ini menderas dan neraca dagang RI surplus lagi. Rupiah juga akan membaik dan ekonomi melaju kencang.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA