Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Badan Pusat Statistik. Foto ilustrasi: IST

Badan Pusat Statistik. Foto ilustrasi: IST

Performa PDB

Investor Daily, Rabu, 6 November 2019 | 11:52 WIB

Data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal III-2019 yang ditunggu-tunggu akhirnya diumumkan oleh Badan Pusat Statistik. PDB kita tumbuh 5,02% secara tahunan (year on year/yoy). Sebuah pencapaian yang tidak buruk, bahkan lumayan, dan tidak jauh dari ekspektasi kalangan ekonom dan analis.

Pertumbuhan ekonomi 5,02% patut disyukuri dan diapresiasi, ketika banyak negara lain ekonominya berdarah-darah, bahkan tak sedikit yang minus. Sebagian Negara sudah terbelit resesi. Kita bisa tumbuh di atas 5% ketika atmosfer global sedang tidak bersahabat dan penuh ketidakpastian.

Memang, pertumbuhan ekonomi kuartal III ini merupakan yang terendah sejak kuartal III-2017. Dilihat dari siklus kuartal III setiap tahunnya, performa kuartal III tahun 2019 ini juga terendah di antara pertumbuhan kuartal III dalam empat tahun terakhir. Hal ini wajar karena kondisi perekonomian global memang cenderung makin buruk.

Jika dicermati lebih detail, struktur PDB relatif tidak berubah dibanding periode-periode sebelumnya, baik dari sisi lapangan usaha maupun pengeluaran. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi diraih oleh jasa lainnya sebesar 10,72%, jasa perusahaan 10,22%, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 9,19%. Namun, kontribusi ketiga sektor itu terhadap PDB sangat kecil, masing-masing di bawah 2%.

Pertumbuhan PDB dan pertumbuhan ekonomi Indonesia
Pertumbuhan PDB dan pertumbuhan ekonomi Indonesia

Adapun sektor-sektor yang memberikan kontribusi tinggi terhadap struktur PDB, pertumbuhannya sangat rendah. Industri manufaktur yang memiliki kontribusi 19,62% terhadap PDB, hanya mampu tumbuh 4,15% pada kuartal III ini, lebih rendah dari pertumbuhan pada kuartal III-2018 sebesar 4,35%.

Kemudian sektor pertanian dengan andil 13,45% terhadap PDB, pertumbuhannya cuma 3,08%. Urutan ketiga, sektor perdagangan dengan kontribusi 13,02% PDB, hanya tumbuh 4,75%.

Ilustrasi di atas semakin menguatkan premis bahwa pertumbuhan PDB kita kurang berkualitas. Artinya, sektor-sektor strategis yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar seperti industry dan pertanian, pertumbuhannya sangat rendah.

Sebaliknya, sektor yang sedikit menyerap tenaga kerja, yakni sektor yang padat modal dan teknologi, pertumbuhannya jauh lebih tinggi. Hal ini kurang baik untuk tingkat pengangguran nasional yang relatif masih tinggi.

Catatan lain yang mesti digarisbawahi adalah rendahnya pertumbuhan komponen pengeluaran dalam struktur PDB. Misalnya ekspor yang hanya tumbuh 0,02%, jauh lebih rendah dibanding kuartal III-2018 sebesar 8,08%.

Pertumbuhan impor justru melonjak tajam. Investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga hanya tumbuh 4,21%, di bawah pertumbuhan kuar tal III-2018 sebesar 6,96%. Konsumsi pemerintah pun anjlok, hanya tumbuh 0,98%, jauh di bawah pertumbuhan kuartal III-2018 sebesar 6,27%.

Dalam konteks itu, tantangan terbesar perekonomian Indonesia ke depan adalah perdagangan dan investasi. Pelemahan ekonomi yang dialami banyak negara maju dan negara-negara tujuan ekspor kita, akan memperburuk neraca perdagangan.

Melemahnya permintaan global membuat harga komoditas yang masih menjadi andalan ekspor kita jatuh. Sementara itu dari sisi investasi, daya tarik kita di mata investor asing belum berubah signifikan.

Berbagai hambatan investasi masih menjadi keluhan investor. Mulai dari berbelitnya proses perizinan, sulitnya pembebasan tanah, inkonsistensi kebijakan, ketidakpastian hukum, infrastruktur yang tidak memadai, lemahnya peraturan ketenagakerjaan, hingga biaya logistik yang mahal.

Pemerintah harus membenahi semua keluhan itu jika ingin menarik investor sebanyak mungkin. Tantangan terbesar justru pada 2020. Bukan hal mudah mewujudkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%. Karena itulah, selain harus menghilangkan segala peraturan dan kebijakan yang tidak probisnis, otoritas terkait harus serius mewujudkan starategi yang telah dicanangkan untuk menyelamatkan perekonomian.

Di antaranya adalah melebarkan defisit fiskal dari 1,7% menjadi 2,2%, mengoptimalkan sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi, mengembangkan kawasan ekonomi dan pariwisata, memberikan insentif perpajakan, hilirisasi sumber daya alam dan substitusi impor, serta mengendalikan inflasi dan nilai tukar rupiah.

Jika berbagai strategi tersebut dijalankan secara konsisten dan simultan, niscaya pertumbuhan ekonomi kita bakal solid. Bukan hanya tumbuh tinggi, tapi juga lebih berkualitas dan inklusif. Dan kita bisa dengan percaya diri menyatakan bahwa perekonomian nasional tahan banting, tahan dari guncangan eksternal.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA