Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pabrik baja. Foto ilustrasi: Investor Daily/Defrizal

Salah satu pabrik baja. Foto ilustrasi: Investor Daily/Defrizal

Perkuat Industri Baja

Rabu, 4 September 2019 | 12:04 WIB

Gelaran aksi korporasi IPO PT Gunung Raja Paksi dan PT Trinitan Metals and Mineral membawa optimisme cerahnya prospek industri baja dan otomotif ke depan. Gunung Raja Paksi dari grup produsen pesaing PT Krakatau Steel Tbk itu juga tengah negosiasi kerja sama internasional dengan salah satu produsen baja terbesar di dunia.

Sedangkan Trinitan antara lain akan ekspansi untuk menghasilkan produk smelter nikel, timah putih, dan perak, dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan efisien. Gunung Raja Paksi menyasar perolehan dana segar Rp 1 triliun-1,1 triliun dari penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.

Perusahaan lembaran baja ini melepas 1,23 miliar saham dengan penawaran harga berkisar Rp 825-900 per unit. Bersamaan dengan IPO saham, perseroan akan menerbitkan saham baru dalam rangka pelaksanaan Obligasi Wajib Konversi (OWK), yang akan jatuh tempo pada 30 September 2019. Dengan konversi OWK dan terjualnya seluruh saham yang ditawarkan dalam IPO, persentase kepemilikan masyarakat maksimal menjadi 10,21%. Sedangkan kapitalisasi pasar perseroan diperkirakan menembus Rp 10 triliun pada 2020.

Untuk pelaksanaan IPO, Gunung Raja Paksi menunjuk PT Kresna Sekuritas dan PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Masa penawaran awal (book building) berlangsung pada 3-5 September 2019, dan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan diperoleh 10 September 2019. Sedangkan masa penawaran umum pada 12, 13, dan 16 September 2019, dengan pencatatan perdana (listing) saham perseroan di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 19 September mendatang.

Sebanyak 99,52% dan hasil IPO akan digunakan untuk pelunasan utang dalam rangka pembelian aset tetap dan biaya operasinya, sedangkan sisanya 0,48% untuk modal kerja. Pelunasan utang senilai US$ 70 juta tersebut dilakukan perseroan kepada perusahaan baja lain yang baru saja diakuisisi, yakni PT Gunung Garuda.

Dengan skema hasil IPO untuk pelunasan utang dan mengambil alih aset Gunung Garuda ini, perseroan diproyeksikan bakal memiliki balance sheet yang kuat. Biaya akuisisi Gunung Garuda mencapai US$ 96 juta per kuartal I-2019. Biaya akuisisi ini yang nantinya dikonversi menjadi Obligasi Wajib Konversi, yang mana setelah IPO, Gunung Garuda akan menjadi salah satu pemegang saham perseroan sebanyak 13,87%.

Akuisisi Gunung Garuda itu kian melengkapi produk baja yang bisa dihasilkan perseroan. Perseroan juga ekspansi membangun pabrik blast furnace dengan investasi sekitar US$ 150 juta dan kapasitas pabrik 750 ribu ton per tahun, yang ditargetkan rampung pada 2021.

Sementara itu, saat ini, total kapasitas pabrik Garuda Raja Paksi mencapai 2,86 juta ton. Sedangkan hasil produksinya meliputi baja batangan, plus baja lembaran dan baja gulungan yaitu slab, billet, beam blank, bloom, serta turunannya seperti hot rolled plate & coil. Selain itu, baja profil seperti angle, WF, H-Beam serta turunannya.

Ke depan, strategi perseroan adalah melakukan modernisasi pabrik secara pruden, selain menjalin kerja sama dengan produsen baja nomor satu dunia. Sasaran Gunung Raja Paksi adalah menjadi perusahaan terintegrasi dengan berbagai fasilitas pabrik yang dimiliki di kawasan Cikarang, dekat dengan pusat kawasan industri otomotif di Indonesia. Baja ini merupakan bahan baku penting otomotif yang selama ini masih banyak dipenuhi dari produk impor.

Tahun ini, perseroan menargetkan penjualan 1,2 juta ton, yang hingga Juni 2019 telah terealisasi hampir 60% dari target. Perusahaan juga telah menembus pasar ekspor, dengan sekitar 3-4% penjualan dikirim ke Australia, Filipina, dan Vietnam.

Secara nasional, pasar baja kita sebenarnya juga masih berpotensi tumbuh kuat ke depan. Konsumsi baja per kapita Indonesia yang paling rendah di antara negara Asean justru berarti masih ada potensi pertumbuhan pasar besar, apalagi ditopang pertumbuhan ekonomi RI yang masih di atas 5% di tengah tekanan perang dagang dan perlambatan ekonomi global.

Pertumbuhan konsumsi baja ini juga ditopang proyek-proyek besar ratusan triliun yang akan dikerjakan pemerintah, terutama pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur yang diperkirakan menelan dana Rp 466 triliun. Pembangunan infrastruktur juga dilanjutkan di berbagai daerah, dengan anggaran akan naik 4,9% menjadi sekitar Rp 419,2 triliun tahun 2020.

Selain itu, industri mobil listrik juga sudah siap-siap dibangun di Indonesia, yang menguasai sebagai besar bahan baku baterai litium yang menjadi kunci sukses industri baru ini. Baterai mobil listrik itu membutuhkan tiga bahan baku penting, yakni nikel (terbesar sekitar 80%), kobalt, dan litium.

Indonesia merupakan produsen terbesar nikel dunia dan memiliki banyak cadangan kobalt, dan kini sudah menjalin kerja sama dengan Tiongkok yang menguasai litium untuk membangun industri baterai mobil listrik kelas dunia. Tiongkok ini produsen litium terbesar ketiga di dunia, selain produsen kobalt terbesar kesembilan.

Setidaknya, Hyundai Motor Company (HMC) sudah memastikan membangun pabrik mobil listrik dengan memindahkan sebagian pabriknya dari Tiongkok ke Indonesia. Prinsipal otomotif asal Korsel itu diperkirakan akan berinvestasi Rp 40 triliun. RI akan menjadi basis produksi mobil Hyundai untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.

Indonesia juga telah memperbaiki sistem perpajakannya untuk mendorong tumbuhnya industri mobil listrik yang ramah lingkungan di Tanah Air, yang akan memangkas konsumsi BBM di masa depan. Langkah ini sangat strategis, mengingat minyak mentah untuk BBM sudah lebih dari setengah kebutuhan nasional harus diimpor. Cadangan minyak di Tanah Air juga akan habis dalam satu dekade mendatang.

Untuk itu, perlu ada dukungan nyata dari pemerintah RI yang memperkuat industri baja dan otomotif di Tanah Air. Ini terutama dengan membendung banjir impor baja dari Tiongkok yang memiliki kapasitas industri luar biasa besar.

Baja RRT sekarang ekspornya ke Amerika Serikat terhambat kenaikan tarif, menyusul pecahnya perang dagang kedua negara yang ekonominya terbesar di dunia itu. Banjir produk Tiongkok tersebut makin menggila dengan dilemahkannya yuan secara sengaja, yang jika dibiarkan bisa menghancurkan industri dalam negeri. Hal ini perlu segera diatasi dengan menggunakan instrumen trade remedies (antidumping, antisubsidi, safeguard) yang lebih masif, yang harus efektif melindungi pasar baja dalam negeri dari serangan perdagangan tidak adil.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN