Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lahan yang dijadikan food estate di Kalteng. Foto: PUPR

Lahan yang dijadikan food estate di Kalteng. Foto: PUPR

Pertanian sebagai Kekuatan Baru

Senin, 19 April 2021 | 10:00 WIB
Investor Daily

Kebutuhan manusia akan pangan tak tergantikan. Manusia hidup harus makan. Ada atau tidak ada pekerjaan, manusia tetap harus makan. Mau work from home ataupun work from office, kebutuhan manusia akan pangan tidak bisa dikurangi. Denganjumlah penduduk yang terus meningkat, ketersediaan pangan menjadi taruhan. Bagaikan palu godam, pandemi Covid-19 menyadarkan manusia akan pentingnya pangan.

Penghuni bumi sudah menembus 7,8 miliar, sedangkan jumlah penduduk Indonesia di akhir 2020 mencapai 271 juta. Jumlah penduduk terus meningkat dari tahun ke tahun, terutama di Negara berkembang, termasuk Indonesia.

Agar tidak terjadi kelaparan, produksi pangan harus ikut meningkat. Penurunan produksi pangan akibat perubahan iklim, demikian laporan PBB, menyebabkan 265 juta atau 4% penduduk dunia terjerembab dalam kelaparan hebat.

Sangat pada tempatnya jika saat ini ada kesadaran baru bahwa sektor pertanian merupakan kekuatan baru ekonomi nasional. Jika ingin Negara ini maju dan rakyatnya sejahtera, kemajuan sektor pertanian harus dipacu. Indonesia harus memiliki ketahanan pangan.

Pertanian maju, petani makmur. Yang dimaksudkan dengan ketahanan pangan bukanlah tanpa impor. Impor pangan boleh saja, tapi tidak boleh untuk produk utama yang bisa dengan mudah diproduksi di dalam negeri, seperti beras, jagung, gula, bawang, dan garam.

Kalau pun impor, Indonesia harus memiliki cukup uang dan tidak boleh menjadi rutinitas. Jika ada masalah perubahan iklim yang ekstrem yang tidak bisa diantisipasi, impor pangan bisa diterima.

Menempatkan per tanian sebagai kekuatan baru sangat tepat karena sejumlah alasan. Pertama, setiap kali ada krisis ekonomi, sektor perta nian menjadi penyelamat. Pada tahun 2020, ketika ekonomi Indonesia mengalami kontraksi, sektor pertanian berda sarkan produk domestik bruto (PDB) lapangan usaha ber tumbuh 1,75%. Produksi pangan cukup berkontribusi besar terhadap pengendalian inflasi.

Harga pangan stabil dan selama 2020, inflasi hanya 1,68%. Kedua, penduduk miskin terbesar berada di perdesaan dan pekerjaan utama mereka umumnya bertani.

Pada tahun 2020, demikian data BPS, sekitar 117,4 juta atau 43,3% penduduk Indonesia tingggal di perdesaan dan umumnya mereka bekerja di sektor pertanian. Penduduk miskin terbesar juga ada di perdesaan. Pada Maret 2020, penduduk miskin di perdesaan mencapai 15,26 juta atau 12,82%.

Data BPS menunjukkan, sebagian besar dari 26,14 juta rumah tangga petani hidup di bawah garis kemiskinan. Rumah tangga miskin yang bekerja di sektor pertanian menyumbang 46%, sisanya rumah tangga industri sebesar 7% dan lainnya 47%. Pada 2020 jumlah penduduk miskin naik 2,76 juta orang akibat pandemi Covid-19, sedangkan jumlah pengangguran bertambah 2,67 juta orang.

Peningkatan jumlah penduduk miskin telah memicu peralihan (shifting) tenaga kerja dari kota ke desa, termasuk ke sektor pertanian. Nilai tambah di sektor pertanian harus didongkrak. Karena dengan kontribusi terhadap PDB hanya 14,2%, sektor partanian harus menanggung sekitar 30% tenaga kerja dari total distribusi tenaga kerja.

Selama ini, komoditas pangan menyumbang hampir 75% terhadap angka kemiskinan. Beras berkontribusi sekitar 20% terhadap garis kemiskinan di perkotaan dan 26% di perdesaan. Itu sebabnya, sektor pertanian dikenal “akrab” dengan kemiskinan.

Ketiga, kemajuan sektor pertanian berkontribusi besar terhadap stabilitas neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah. Neraca sektor pertanian harus senantiasa dijaga agar surplus. Jika tidak memasukkan ekspor CPO, neraca pertanian Indonesia defisit karena Indonesia mengimpor bahan pangan pokok, seperti beras, gula, jagung, dan daging. Pada tahun 2019, nilai impor pangan mencapai US$ 11,57 miliar, naik tajam dibanding US$ 8,38 miliar pada 2015.

Keempat, angka stunting di Indonesia masih sekitar 27% dan pemerintah menargetkan agar stunting bisa ditekan ke level 14% tahun 2014.

Angka stunting hanya bisa ditekan bila ibu, ayah, dan anak mengonsumsi pangan bergizi.

Bukan hanya beras dan sumber karbohidrat lainnya, melainkan juga protein, mineral, dan vitamin. Pemerintah harus menjadikan sektor pertanian pangan sebagai kekuatan baru guna menopang pertumbuhan  ekonomi nasional, menyerap tenaga kerja, dan mengurangi angka kemiskinan.

Langkah konkret yang diharapkan dari pemerintahan adalah pertama, membangun infrastruktur pertanian, seperti waduk, bendung, irigasi, dan air bersih. Di daerah yang tidak ada sungai, pemerintah menyediakan sumur bor, infrastruktur pendukung lainnya, yakni infrastruktur transportasi, energi, dan telekomunikasi.

Kedua, membentuk ekosistem pertanian guna memudahkan petani meningkatkan produksi dan mendapatkan nilai tambah. Para petani perlu dibimbing untuk mengolah lahan dengan baik, mendapatkan pupuk, pestisida, alat pertanian, akses pendanaan, dan akses pasar.

Ada tenaga pendamping yang selalu menyertai petani yang terhimpun dalam kelompok tani. Para petani di setiap desa membentuk koperasi untuk memudahkan perolehan input pertanian dan pemasaran. Pemerintah membantu menghadirkan offtaker untuk membeli produk, perolehan pupuk dan pestisida, serta asuransi.

Ketiga, pemerintah perlu menjaga nilai tukar petani agar bisa meningkat. Produk pertanian perlu dibeli pada harga yang menguntungkan petani. Keran impor harus ditutup jika produk yang dibutuhkan bisa dibeli dari dalam negeri. Cinta produk dalam negeri jangan hanya slogan, melainkan harus direalisasikan.

Pertanian sebagai kekuatan baru kedengaran aneh. Sebab, sejak awal mula manusia hidup, sektor pertanian berkembang terlebih dahulu. Sektor pertanian adalah kekuatan lama yang kini disadari keberadaannya dan faktor utama yang menyadarkan kita adalah pandemic Covid-19.
 

 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN