Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pertemuan Kertanegara

Alex Dungkal dan Emral Ferdiansyah, Sabtu, 18 Oktober 2014 | 07:15 WIB

Penantian itu pun berakhir indah. Prabowo Subianto akhirnya bertemu presiden terpilih Joko Widodo, rival beratnya pada pemilu presiden Juli lalu, di kediaman, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (17/10) pagi. Pertemuan kedua tokoh itu sekaligus menandakan bahwa pertarungan politik adalah hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, ujung dari semua itu haruslah demi kebajikan, kebaikan, keselamatan, dan kesejahteraan rakyat Indonesia.


Prabowo dan Jokowi menunjukkan hal itu pada pertemuan Kertanegara. Hubungan keduanya begitu encer pasca-pilpres yang menguras pikiran dan memacu tensi tinggi. Tak ada lagi kata-kata yang menyiratkan persaingan di antara mereka. Di sana, keduanya justru saling meneguhkan tujuan dan komitmen untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia, Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Walaupun per temuan itu baru terjadi beberapa hari menjelang pelantikan Jokowi sebagai presiden RI 2014-2019 pada Senin (20/10), hal ini menunjukkan bahwa proses transisi kepemimpinan yang baik dan mulus adalah penting bagi kehidupan bangsa dan negara ke depan. Prabowo dan Jokowi telah memainkan peranan penting untuk ini.


Prabowo telah legawa dan menunjukkan sikap seorang negarawan dengan mengakui kemenangan Jokowi. Mantan komandan Kopassus ini bahkan telah menyatakan kesediaannya untuk menghadiri acara pelantikan Jokowi pada Senin pekan depan. Begitu pula Jokowi telah menunjukkan jiwa besar dan sikap kenegrawanannya dengan kesediaan untuk mendatangi dan bertemu Prabowo. Ia ingin mempertegas bahwa saat ini dirinya adalah pemimpin Indonesia, bukan pemimpin partai politik atau koalisi tertentu.


Baik Jokowi maupun Prabowo telah memberi teladan yang baik bagi seluruh rakyat Indonesia. Keduanya telah menunjukkan kebesaran jiwa dengan meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan ego dan kepentingan masing-masing kubu atau koalisi. Ini sebuah tradisi politik yang baik dan harus diwariskan kepada generasi bangsa ke depan. Setidaknya, langkah Prabowo dan Jokowi dapat segera diikuti oleh dua kubu yang selama ini beradu-kekuatan, yakni Koalisi Indonesia Hebat sebagai penyokong utama presiden terpilih Jokowi di satu sisi, dan Koalisi Merah Putih yang memenangi kursi pimpinan DPR dan MPR di sisi lain.


Dengan pertemuan kedua tokoh puncak dari kedua kubu, kita berharap mencair pula ketegangan yang selama ini terjadi. Tak ada lagi kubu yang disebut sebagai pemenang, juga tak ada lagi kubu yang bisa disebut sebagai pecundang. Baik KIH maupun KMP adalah aset bangsa.


Kedua kubu ini harus bisa bekerja sama dengan memainkan peranan masing-masing untuk menjalankan amanah rakyat. KMP yang menguasai parlemen bisa menjadi mitra membangun Pemerintahan Jokowi-JK, melalui fungsi kontrol yang kritis dan produktif.


Manfaatkan status oposisi di parlemen untuk mengawasi jalannya roda pemerintahan agar lebih amanah. Jadilah oposisi kritis yang dapat mengawasi dan mengawal jalannya pemerintahan agar tidak terjadi korupsi dan penyalagunaan kekuasaan.


Sebaliknya, KMP juga harus siap mendukung pemerintah jika kebijakan-kebijakan yang dihasilkan benar-benar memihak kepada masyarakat dan untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Demi Indonesia yang hebat kita memang harus bersatu dan bersama-sama membangun bangsa ini. Kini saatnya kita harus rekonsiliasi untuk memilin kembali kekusutan-kekusutan yang terjadi akibat pertarungan pilpres lalu. Prabowo dan Jokowi telah menabuh dengan kencang semangat rekonsiliasi kemarin.


Sebelumnya, Jokowi juga berhasil menggelar pertemuan-pertemuan dengan “musuh-musuhnya” saat pilpres lalu. Jokowi telah bertemu tokoh-tokoh penting, yaitu Ketua DPR Setya Novanto, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPD Irman Gusman, Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie, dan Ketua Majelis Syariah PPP Maimun Zubair. Ini merupakan upaya brilian untuk menurunkan tensi politik menjelang pelantikan presiden yang akan dihadiri sejumlah pemimpin dunia dan disambut meriah rakyat Indonesia.


Berbagai rangkaian pertemuan politik itu diharapkan dapat membuka tabir rekonsiliasi nasional yang lebih luas dan intensif. Khusus dari pertemuan Jokowi-Prabowo, ada makna yang dapat kita petik, yakni tidak ada dendam yang harus dilanggengkan.


Jokowi-Prabowo telah memecahkan kebuntuan komunikasi melalui pertemuan Kertanegara. Kita berharap pertemuan Jokowi-Prabowo menjadi “virus” yang mengilhami pertemuanpertemuan tokoh bangsa selanjutnya seusai pelantikan Jokowi-JK pada 20 Oktober mendatang. Indonesia yang sejuk dan damai adalah penting demi terciptanya Indonesia hebat.

BAGIKAN