Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Economic Outlook 2021 bertajuk Geliat Industri Perbankan 2021, yang digelar dengan kerja sama Berita Satu Media Holdings,  PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Rabu (25/11). Sumber: BSTV

Economic Outlook 2021 bertajuk Geliat Industri Perbankan 2021, yang digelar dengan kerja sama Berita Satu Media Holdings, PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Rabu (25/11). Sumber: BSTV

Pertumbuhan Kredit

Kamis, 26 November 2020 | 12:59 WIB
Investor Daily

investor.id

 

Dana perbankan yang kini masih mengendap cukup besar, tertahan pandemi Covid-19 maupun pemberlakuan PSBB untuk meredam penularan. Namun demikian, kredit diperkirakan akan mengalir kembali tahun depan, seiring aktivitas ekonomi yang menggeliat setelah vaksinasi dan diimplementasikannya Undang-Undang Cipta Kerja.

Berbagai proyek infrastruktur yang kini masih tertahan juga bakal digulirkan, karena jika tidak segera dirampungkan kerugian justru lebih besar. Apalagi, untuk proyek-proyek vital konektivitas seperti tol Trans Jawa.

Jika sejak Maret lalu anggaran banyak yang direalokasikan untuk lebih fokus pada penanganan Covid-19 dan bantuan sosial maupun UMKM dalam program pemulihan ekonomi nasional, tahun depan kegiatan ekonomi akan lebih diakselerasi. Pengucuran kredit tahun ini yang terkontraksi akibat pukulan pandemi, tahun depan bakal mulai recovery.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, kredit per Oktober 2020 sebesar Rp 5.480 triliun, terkontraksi 0,47% secara year on year (yoy). Namun, dana pihak ketiga (DPK) menembus Rp 6.620 triliun atau melonjak 12,12%, karena masyarakat menengah-atas cenderung menahan belanja atau investasinya akibat kasus positif Covid-19 yang masih naik.

Namun, seiring mendekatnya penemuan vaksin Covid-19 dan vaksinasi di Tanah Air, OJK memproyeksikan kredit bisa tumbuh hingga 4% pada 2021. Bahkan, BUMN PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang mayoritas nasabahnya UMKM optimistis tumbuh lebih tinggi dari industri.

Pasalnya, vaksinasi tersebut bakal membuat kalangan menengah-atas mulai confidence untuk berbelanja dan berinvestasi. Selain itu, seiring implementasi Undang-Undang Cipta Kerja yang mempermudah perizinan dan memberi berbagai insentif, maka proyek-proyek infrastruktur semakin cepat dikerjakan dan mendorong investasi mengalir masuk.

Tahun depan, harga-harga komoditas strategis mulai dari minyak sawit, batu bara, hingga nikel juga menguat. Ini didorong membaiknya perekonomian global.

Tak hanya di sektor riil, di pasar modal juga mulai tampak tren bullish hingga tahun depan. Hal itu antara lain didorong faktor global akan segera dikucurkannya stimulus fiskal lanjutan besar-besaran Amerika Serikat, setelah Joe Biden dilantik menjadi presiden Januari tahun depan.

Stimulus fiskal US$ 2,2 triliun atau sekitar Rp 31.171,8 triliun ini sudah ditunggu-tunggu untuk menyelamatkan ekonomi AS, yang semula diharapkan bisa diteken sebelum pilpres 3 November lalu. Stimulus yang setara dua kali lipat lebih produk domestik bruto (PDB) Indonesia itu, juga dipastikan berimbas mengalirnya dana ke emerging markets, terutama ke negara-negara yang diproyeksikan ekonominya pulih lebih cepat seperti Indonesia.

Kabar Presiden Terpilih AS Joe Biden yang akan menunjuk Janet Yellen, mantan gubernur The Federal Reserve (The Fed), sebagai menteri keuangan juga membawa optimisme. Janet diyakini bakal fokus memperbaiki ekonomi, tidak menjalankan agenda progresif kubu Partai Demokrat yang menakutkan bagi sebagian investor.

Pemulihan negara dengan ekonomi terbesar di dunia dan penduduknya kaya itu jelas akan mempercepat pemulihan ekonomi global. Ini mendorong penguatan harga-harga komoditas yang masih menjadi andalan ekonomi RI.

Optimisme juga datang dari tren membaiknya ekonomi dalam negeri. BPS mencatat, pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun ini masih 2,97%, namun kuartal berikutnya anjlok ke titik terdalam, terkontraksi 5,32%. Berikutnya, sejalan dengan pelonggaran PSBB, ekonomi kuartal III membaik meski masih terkontraksi 3,49% atau resmi memasuki resesi setelah dua kuartal berturut-turut minus.

Pemerintah memproyeksikan pada triwulan IV tahun ini Indonesia sudah berpeluang keluar dari resesi, dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi di rentang minus 1% hingga positif 0,4%. Bahkan, tahun depan diproyeksikan kembali tumbuh positif 5%.

Pemulihan itu juga akan ditopang dilanjutkannya stimulus fiskal pemerintah, stimulus moneter Bank Indonesia, dan stimulus Otoritas Jasa Keuangan. OJK telah memutuskan perpanjangan POJK No 11/POJK.03/2020 hingga 31 Maret 2022, sebagai langkah antisipatif untuk membantu debitur terdampak pandemi Covid-19 yang masih memiliki prospek usaha namun memerlukan waktu lebih lama untuk bisa kembali normal. Langkah ini juga untuk membantu perbankan dalam menata kinerja keuangannya, terutama dari sisi mitigasi risiko kredit.

Sementara itu, dengan loan to deposit ratio (LDR) perbankan yang rendah, level 82%, diperkirakan kini ada sekitar Rp 1.200 triliun duit terjebak di bank, tidak bisa produktif disalurkan ke kredit. Undisbursed loan committed juga masih sekitar Rp 300 triliun, yang jika bisa dicairkan tentu efeknya akan luar biasa. Ini sekitar 5% kredit.

Untuk itu, perlu upaya yang serius guna menaikkan kembali pertumbuhan kredit di Tanah Air. Dana yang menganggur itu harus diproduktifkan kembali.

Upayanya antara lain dengan sejumlah langkah strategis, seperti menggenjot kembali pembangunan infrastruktur mulai dari transportasi, irigasi, hingga telekomunikasi. Selain mendorong penyaluran kredit, pembangunan infrastruktur yang diprioritaskan untuk pembelian barang-barang produksi dalam negeri juga menggerakkan ekonomi dan menyerap banyak tenaga kerja.

Pemerintah juga harus mempercepat pelaksanaan vaksinasi dan penegakan protokol kesehatan, sehingga masyarakat menengah-atas kembali confidence untuk berbelanja hingga berwisata. Mereka kembali menggesek kartu kreditnya, serta mengambil kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor. Kalangan menengah-atas ini berkontribusi 80% terhadap total konsumsi nasional.

Dengan menguatnya kembali konsumsi dan dirampungkannya aturan pelaksanaan UU Cipta Kerja, maka para pelaku bisnis pun akan berinvestasi, apalagi bunga kredit menurun. Mereka akan kembali menarik kredit dari perbankan, sehingga kredit kembali tumbuh dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN