Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rupiah. Foto ilustrasi: IST

Rupiah. Foto ilustrasi: IST

'Pisau Jatuh'

Jumat, 20 Maret 2020 | 08:30 WIB
Investor Daily

Sesuai ekspektasi pasar, Bank Indonesia (BI) memangkas BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (19/3). Bank sentral juga menurunkan suku bunga Deposit Facility dan suku bunga Lending Facility masing-masing sebesar 25 bps menjadi 3,75% dan 5,25%.

Pasar sejatinya menghendaki BI memotong suku bunga acuan lebih tajam lagi, setidaknya 50 bps, mengingat bank sentral negara-negara maju sudah memberlakukan suku bunga acuan 0%. Apalagi setelah Bank Sentral AS, The Fed, secara mendadak memangkas Fed funds rate (FFR) menjadi 0-0,25% dari 1-1,25% dalam pertemuan darurat, Minggu (15/3).

Namun, para pelaku pasar harus maklum. Sebab, dalam waktu bersamaan, nilai tukar rupiah terus tertekan akibat meningkatnya kecemasan terhadap penyebaran Virus Korona (Covid-19). Rupiah, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), melemah ke level Rp 15.712 per dolar AS dibanding hari sebelumnya Rp 15.223.

Level rupiah sudah terpaut jauh dari asumsi APBN 2020 sebesar Rp 14.400 per dolar AS. Selain mencatatkan kinerja paling buruk di Asia, posisi rupiah saat ini merupakan yang terlemah sejak krisis moneter 1997-1998, saat mata uang NKRI itu terpuruk di level Rp 16.650 per dolar AS.

Dengan kondisi rupiah yang terus bergejolak akibat pelarian modal asing (capital flight), BI tentu harus berhitung. Jika suku bunga acuan turun terlampau tajam, arus modal asing yang keluar dikhawatirkan semakin besar. Terlebih, tak hanya di pasar valas, para investor asing juga sudah bedol desa dari pasar saham.

Di pasar saham, investor asing sudah membukukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 9,44 triliun. Aksi jual saham oleh investor asing turut menyebabkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ambles 34,83% selama tahun berjalan (year to date/ytd). IHSG terkapar di level 4.105,42.

Dalam kondisi normal, penurunan suku bunga acuan –jika sesuai ekspektasi-- biasanya direspons positif oleh para pelaku pasar. Namun, kondisinya kini abnormal. Pasar sudah seperti roller coaster. IHSG yang sudah beberapa kali terkena pembekuan perdagangan sementara (trading halt) dan suspensi, kini berkinerja paling buruk di Asia Pasifik setelah Filipina.

Asing juga sudah berkemas-kemas dari pasar surat berharga negara (SBN). Kepemilikan investor asing di SBN, baik di surat utang negara (SUN) maupun di surat berharga syariah negara (SBSN), menyusut Rp 86,49 triliun dari Rp 1.061,86 triliun pada akhir Desember 2019 menjadi Rp 975,37 triliun pada 18 Maret 2020.

Keputusan BI menurunkan BI7DRR hanya 25 bps adalah keputusan yang 'tanggung'. Jika ditujukan untuk menstimulasi sektor riil, penurunan sebesar itu tidak akan nendang. Penurunan BI7DRR ke level 4,50% juga tak bakal mempan menahan capital outflow.

Dalam situasi anomali seperti sekarang, instrumen suku bunga saja tak akan kuat membendung derasnya arus modal keluar, baik di pasar saham, valas, maupun obligasi. Pasar sedang mengalami fenomena pisau jatuh (falling knife). Pisau itu sedang meluncur cepat dari ketinggian. Sebelum pisau itu menyentuh tanah, jangan coba-coba menangkapnya jika tak ingin terluka.

'Pisau jatuh' sudah memakan banyak korban. Di pasar saham, program pembelian kembali (buyback) saham emiten BUMN tak juga mampu mendongkrak harga saham. Para emiten akhirnya memilih wait and see sampai mereka yakin bahwa sang pisau benar-benar sudah tergeletak di tanah. Sebagian investor, baik ritel maupun institusi, yang sudah berdarah-darah, mengambil sikap yang sama.

BI, sepertinya juga tak mau menjadi korban pisau jatuh. Apalagi bank sentral selama tahun berjalan sudah menggelontorkan dana Rp 192 triliun untuk memborong SBN yang dilepas para investor asing, demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Maka kita mengapresiasi langkah BI yang --selain menurunkan BI7DRR sebesar 25 bps-- juga mengeluarkan tujuh kebijakan guna mendukung mitigasi risiko penyebaran Covid-19, menjaga stabilitas pasar uang dan sistem keuangan, serta mendorong momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Tujuh langkah BI antara lain memperkuat intensitas kebijakan triple intervention untuk menjaga stabilitas rupiah, memperpanjang tenor repo SBN dan menyediakan lelang setiap hari, menambah frekuensi lelang FX swap, serta memperkuat instrumen term deposit valas.

BI juga mendorong perbankan menggunakan penurunan giro wajib minimum (GWM) valas, mempercepat berlakunya ketentuan penggunaan rekening rupiah dalam negeri (Vostro) bagi investor asing, dan memperluas insentif pelonggaran GWM harian dalam rupiah. Selain itu, BI memperkuat sistem pembayaran untuk mendukung mitigasi penyebaran Covid-19.

Kita berharap langkah-langkah BI membuahkan hasil. Tetapi upaya BI tak akan maksimal tanpa didukung langkah-langkah pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lagi pula, sumber kekacauan semua ini adalah Covid-19. Bila sumber kekacauan itu tidak ditumpas, pasar finansial bakal terus bergejolak.

Kita bersyukur pemerintah dan OJK, dengan berbagai instrumen yang dimilikinya, terus berupaya meredam penyebaran Covid-19 dan mereduksi dampaknya terhadap perekonomian. Kecuali intens mengatasi penyebaran Covid-19, pemerintah telah menerbitkan stimulus fiskal dan nonfiskal jilid I dan II, yang akan disusul stimulus jilid III.

OJK pun sudah merelaksasi aturan perbankan bagi debitur terdampak Covid-19, termasuk restrukturisasi kreditnya. Untuk menjaga pasar saham, OJK melonggarkan aturan buyback saham, mempersempit auto rejection bawah, melarang transaksi short selling, dan menerapkan protokol krisis, di antaranya dengan memberlakukan suspensi jika pasar melemah terlampau dalam.

Berarti semua otoritas sudah mengeluarkan segenap instrumennya untuk mengatasi Covid-19. Kita tinggal menunggu bagaimana instrumen-instrumen itu bekerja. Kita tentu berharap upaya mengatasi Covid-19 tak berhenti pada instrumen pemerintah, BI, dan OJK saja. Seluruh komponen bangsa harus terlibat aktif memerangi Covid-19 dan menjadikannya musuh bersama.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN