Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sebuah kawasan industri. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

Sebuah kawasan industri. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

Prospek Kawasan Industri

Jumat, 13 September 2019 | 13:15 WIB

Penjualan lahan industri di wilayah Jabodetabek dan Karawang diprediksi bangkit tahun ini. Kenaikannya ditaksir mencapai 50%, dari 200 hektare (ha) tahun lalu menjadi 300 ha. Kondisi itu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selama periode tahun 2012-2016, penjualan lahan industri melorot dari 1.220 ha menjadi 176 ha, kemudian stagnan di level 200 ha pada 2017 dan 2018.

Ada sejumlah faktor yang mendorong lonjakan penjualan lahan industri. Salah satunya adalah kenaikan arus investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) ke Tanah Air. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), per Juni 2019, penanaman modal asing (PMA) tumbuh 4% menjadi Rp 212,8 triliun, sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) naik 16,3% menjadi Rp 182 triliun. Total investasi pada periode ini tumbuh 9,4% menjadi Rp 395,6 triliun.

Arus FDI diprediksi meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Sebab, saat ini, sejumlah pemain mobil listrik serta logistik dan pergudangan mengincar lahan industri di Indonesia untuk mendirikan pabrik. Ini dibarengi dengan paket insentif pemerintah untuk menarik FDI demi memompa pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga telah merilis kebijakan signifikan untuk mereindustrialisasi Indonesia. Pemerintah berencana membuat Indonesia basis produksi beberapa industri, seperti otomotif, barang konsumsi, dan tekstil.

Realisasi PMA dan PMDN per sektor
Realisasi PMA dan PMDN per sektor

Masuknya investasi asing sangat diharapkan agar Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap ekspor berbasis komoditas. Masuknya perusahaan-perusahaan baru, terutama perusahaan asing dan beberapa produsen otomotif meningkatkan permintaan lahan untuk pembangunan pabrik. Kondisi ini akan menjadi berkah bagi pemain kawasan industri, apalagi pemerintah juga meminta pembangunan pabrik berada di kawasan industri. Berdasarkan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0, salah satu program prioritasnya adalah pengembangan kawasan industri terpadu.

Selain aliran FDI, peningkatan permintaan lahan industri bisa didukung oleh keberlanjutan program-program pembangunan. Penyediaan infrastruktur yang memadai dan konektivitas yang menjadi fokus pemerintah bisa memberi nilai tambah bagi investasi. Ketersediaan infrastruktur yang strategis, seperti Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Majalengka, Pelabuhan Cirebon, dan Pelabuhan Patimban di Subang memunculkan peluang baru masuknya investor ke kawasan industri yang berada di Jawa Barat.

Kawasan industri di Bekasi dan Karawang dapat menjadi pilihan investor karena dua wilayah ini paling pas menjadi hub manufaktur Indonesia karena memiliki infrastruktur bagus dan lokasi strategis. Saat ini, Jawa masih menjadi pasar terbesar produk manufaktur. Kawasan industri di Subang juga cukup menarik, seiring akan beroperasinya Pelabuhan Patimban tahun depan serta adanya tol Cikampek-Palimanan. Apalagi, upah buruh di kawasan ini masih kompetitif, dibandingkan Bekasi dan Karawang.

Sentimen positif lainnya adalah gelaran Pemilu 2019 yang berjalan aman dan lancar. Kondisi sosial dan politik yang stabil pascapemilu menumbuhkan minat investor untuk menanamkan modalnya ke kawasan industri. Pemerintah pun siap menyambut antusiasme investor dengan membangun infrastruktur yang terintegrasi, pembukaan kawasan industri baru, dan menyediakan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten untuk memenuhi kebutuhan sektor industri. Perluasan kawasan industri baru di kawasan Jawa Barat yang masih sangat berpotensi, misalnya di bagian timur yang meliputi wilayah Majalengka, Cirebon, dan Subang.

Pembangunan pabrik baru di kawasan industri akan mendatangkan manfaat bagi daerah tersebut maupun daerah di sekitarnya. Lapangan kerja akan terbuka luas ketika sebuah pabrik dibuka. Pasalnya, pabrik-pabrik baru di kawasan industri akan membutuhkan banyak tenaga kerja untuk proses produksi. Selain itu, pembukaan kawasan industri juga memunculkan beragam peluang usaha baru baik yang berhubungan dengan proses produksi maupun yang tidak terkait langsung dengan industri tersebut seperti jasa perbankan, jasa perdagangan, perumahan, hingga makanan.

Produk dari kawasan industri tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sebagian tentunya ada yang diekspor. Dengan meningkatnya kegiatan ekspor maka akan berdampak kepada tingginya pemasukan negara. Tidak hanya menambah pemasukan negara, keberadaan kawasan industri akan membantu meningkatkan pendapatan asli daerah seiring perkembangannya. Pendapatan ini berasal dari pajak industri serta berbagai usaha yang ada di sekelilingnya. Kawasan industri juga membantu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional. Daerah lain di luar kawasan industri juga bisa ikut merasakan dampak positif dari keberadaan kawasan industri. Contohnya provinsi Jawa Barat yang telah memberi kontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional. Kontribusi tersebut hasil dari aktivitas industri yang mendorong peningkatan nilai investasi, penyerapan tenaga kerja, maupun pencapaian nilai ekspor.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA