Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur BI Perry Warjiyo (ketiga kiri) didampingi Deputi Gubernur BI Sugeng (kedua kiri), Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja (ketiga kanan) dan CEO PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) atau LinkAja Danu Wicaksono (kedua kanan) dalam peluncuran standar Quick Response (QR) Code untuk pembayaran melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, atau mobile banking yang disebut QR Code Indonesian Standard (QRIS), di Komplek perkantoran BI, Jakarta, Sabtu (17/8). Foto: Investor Daily/Nida Sahara

Gubernur BI Perry Warjiyo (ketiga kiri) didampingi Deputi Gubernur BI Sugeng (kedua kiri), Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja (ketiga kanan) dan CEO PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) atau LinkAja Danu Wicaksono (kedua kanan) dalam peluncuran standar Quick Response (QR) Code untuk pembayaran melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, atau mobile banking yang disebut QR Code Indonesian Standard (QRIS), di Komplek perkantoran BI, Jakarta, Sabtu (17/8). Foto: Investor Daily/Nida Sahara

QRIS Dorong Ekonomi

Sabtu, 31 Agustus 2019 | 13:49 WIB

Pemberlakuan standar Quick Response (QR) Code secara nasional sudah di ambang pintu, efektif per 1 Januari tahun depan. QR Code Indonesian Standard (QRIS) ini mengintegrasikan pembayaran melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, hingga mobile banking.

Selain itu, sistem kliring baru yang akan diimplementasikan 112 bank juga siap mendukung, sehingga transaksi pembayaran nontunai tersebut diproyeksikan melonjak hingga 300%.

QRIS merupakan satu-satunya kode QR yang berlaku secara nasional, di mana seluruh penyelenggara jasa sistem pembayaran harus mengikuti ketentuan tersebut. QR Code merupakan satu kotak bujur sangkar hitam putih yang sekarang ada di mana-mana, mulai dari kotak pembungkus makanan, poster bioskop, situs web, kartu nama, poster promosi, hingga sarana pembayaran e-wallet dan sarana untuk transfer bank.

Bank Indonesia telah meluncurkan QRIS pada 17 Agustus lalu, dengan sasaran mendorong efisiensi transaksi, mempercepat inklusi keuangan, serta memajukan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang akan berujung mendorong pertumbuhan ekonomi. QRIS juga didukung kebijakan sistem kliring nasional BI (SKNBI) yang baru, yang diimplementasikan mulai 1 September 2019.

Dalam sistem anyar, maksimal pengenaan tarif transfer dana dari bank ke nasabah diturunkan dari Rp 5.000 menjadi maksimal Rp 3.500, demikian pula layanan transfer dana dari BI ke bank turun dari Rp 1.000 menjadi Rp 600.

Selain bertujuan meningkatkan efisiensi transfer dana di masyarakat, hal ini juga dimaksudkan untuk mendorong penggunaan transaksi nontunai. Standar QR Code yang dirilis BI tersebut merupakan salah satu implementasi Visi Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) 2025, yang dicanangkan Mei 2019. Namun, QRIS yang mengusung semangat ‘Universal, Gampang, Untung, dan Langsung (Unggul)’ ini baru akan diberlakukan secara nasional awal tahun depan, guna memberikan masa transisi persiapan bagi Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP).

Sebelum diluncurkan, spesifikasi teknis standar QR Code dan interkoneksinya telah diuji coba, yang pertama pada September hingga November 2018 dan berikutnya pada April hingga Mei 2019. Merchant yang mengikuti pilot project juga sudah banyak, lebih dari 100 ribu.

Versi bank sentral, Universal bermakna penggunaan QRIS bersifat inklusif untuk seluruh lapisan masyarakat, plus dapat digunakan untuk transaksi pembayaran di domestik hingga luar negeri. Gampang, artinya masyarakat dapat bertransaksi dengan mudah dan aman dalam satu genggaman ponsel. Untung, transaksi dengan QRIS diharapkan menguntungkan pembeli dan penjual, karena transaksi berlangsung efisien melalui satu kode QR, yang dapat digunakan untuk semua aplikasi pembayaran pada ponsel. Langsung berarti transaksi dengan QRIS langsung terjadi, karena prosesnya cepat dan seketika, sehingga mendukung kelancaran sistem pembayaran.

QRIS disusun oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), dengan menggunakan standar internasional EMVCo. Standar internasional ini berfungsi untuk mendukung interkoneksi instrumen sistem pembayaran yang lebih luas –dengan tetap mengakomodasi kebutuhan spesifik negara--, sehingga memudahkan interoperabilitas antarpenyelenggara, antarinstrumen, dan antarnegara.

Untuk tahap awal, QRIS fokus pada penerapan QR code payment model Merchant Presented Mode (MPM). Di sini, penjual (merchant) akan menampilkan QR code payment untuk dipindai oleh pembeli (customer), ketika melakukan transaksi pembayaran.

Dengan diberlakukan QRIS, transaksi nontunai tersebut dipastikan melambung, dengan potensi setidaknya 3-4 kali dari transaksi normal selama ini. Pasalnya, jika selama ini menggunakan server based sendiri-sendiri, sekarang menjadi satu sehingga bisa menjangkau transaksi yang lebih luas hingga ke luar negeri.

Artinya, wisatawan mancanegara (wisman) pengguna QR code dapat bertransaksi di Indonesia, asalkan menggunakan standar EMVCo. Penggunaan QR code ini sangat populer di Jepang, Tiongkok, dan Korea, karena memiliki kapasitas untuk menyandi bahasa double byte yang dibutuhkan oleh bahasa ketiga negara Asia Timur itu. Tiga negara ini merupakan pasar wisata kita yang besar, yang tren kunjungannya ke Nusantara meningkat.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN