Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peti kemas. Foto ilustrasi: IST

Peti kemas. Foto ilustrasi: IST

Rapor Merah Neraca Dagang

Kamis, 16 Mei 2019 | 15:07 WIB

Rapor neraca perdagangan Indonesia bulan April kembali merah. Tidak tanggung-tanggung, dengan besaran defisit US$ 2,5 miliar, itu adalah rekor tekor tertinggi sepanjang sejarah. Defisit perdagangan tertinggi sebelumnya terjadi pada Juli 2013, senilai US$ 2,3 miliar. Dengan perkembangan ini, sepanjang Januari-April 2019, akumulasi defisit perdagangan mencapai US$ 2,56 miliar.

Pemicu defisit utama masih sektor migas, yang minus sebesar US$ 1,49 miliar. Namun defisit nonmigas juga tinggi, mencapai US$ 1 miliar. Namun jika dilihat data selama Januari-April, defisit sektor nonmigas hanya sebesar US$ 204 juta, sementara defisit migas menembus US$ 2,77 miliar.

Yang paling mengkhawatirkan dari data yang diumumkan Badan Pusat Statistik tersebut adalah defisit Indonesia dengan Tiongkok yang terus membengkak. Selama April, kita tekor senilai US$ 1,92 miliar dengan Negeri Tirai Bambu tersebut. Tapi selama Januari-April, defisitnya melambung hingga US$ 7,1 miliar.

Secara konsisten, dalam beberapa tahun terakhir defisit Indonesia dengan Tiongkok menempati posisi tertinggi dibanding defisit dengan negara lain. Hal menarik yang perlu dicatat dari data neraca perdagangan ini adalah ekspor keseluruhan April yang anjlok 13% dibanding April 2018 (year on year/yoy). Ekspor produk industri manufaktur tergerus 11,8% (yoy), ekspor pertanian merosot 15,9%, dan ekspor pertambangan turun 6,5%.

Selain itu, impor migas cenderung naik, sedangkan impor bahan baku/ penolong dan barang modal justru menurun.

Mencermati data detail dan tren neraca perdagangan kita, semua pemangku kepentingan harus waspada. Ini merupakan alarm atau tanda bahaya yang tidak boleh dianggap remeh. Setelah tahun lalu kita juga menderita rekor tertinggi defisit perdagangan sepanjang berdirinya Republik ini, senilai US$ 8,57 miliar, bukan mustahil tahun ini kita terperosok ke jurang yang lebih dalam.

Terlebih lagi saat ini isu perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok kian panas dan belum ada tanda-tanda kapan mereda. Pernyataan pemimpin kedua negara tidak konsisten. Kadang keduanya meyakinkan dunia bahwa perang dagang ini bakal berakhir dengan kesepakatan yang baik, namun kerap pula saling melempar pernyataanpernyataan pedas.

Yang jelas, Amerika Serikat sudah menaikkan tarif bea masuk dari 10% menjadi 25% untuk produk impor dari Tiongkok senilai US$ 200 miliar mulai 10 Mei lalu. AS masih akan mengenakan lagi bea masuk untuk barang Tiongkok senilai US$ 300 miliar. Tiongkok pun tak surut nyali digertak, lantas membalas pengenaan bea masuk impor dari AS senilai US$ 60 miliar yang berlaku 1 Juni.

Alhasil, pasar finansial global menjadi korban dan masuk dalam fase turbulensi. Harga saham-saham global rontok. Di dalam negeri, indeks harga saham gabungan kian menjauhi level 6.000, sementara nilai tukar rupiah pun makin lemah.

Karena itulah, pemerintah harus lebih ketat dalam mengendalikan impor migas. Terlebih lagi Indonesia kini menjadi net importer minyak dan harga minyak sudah tembus US$ 70 per barel. Impor minyak bakal terus membubung, karena konsumsi BBM bersubsidi yang terus bertambah. Dengan rupiah yang kian melemah, impor migas akan memberatkan keuangan Pertamina. Tingginya harga minyak juga melambungkan subsidi sehingga mengancam APBN.

Turunnya ekspor produk manufaktur harus menjadi perhatian serius. Inilah pentingnya Indonesia membenahi sektor industri. Struktur industri yang keropos dan rapuh harus dibenahi lewat berbagai insentif perpajakan yang tepat dan kebijakan yang kondusif.

Implementasi Making Indonesia 4.0 harus benar-benar dikawal, jangan sebatas konsep yang tidak membumi. Lima prioritas industri yang ditetapkan yakni sektor tekstil, otomotif, elektronik, kimia, serta makanan dan minuman diharapkan benar-benar memiliki daya saing yang tinggi Upaya lain untuk menekan defisit perdagangan adalah menuntaskan perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dengan sejumlah negara dan kawasan.

Indonesia tertinggal dengan sejumlah negara kompetitor yang sudah terlebih dulu meratifikasi FTA. Lebih dari itu, kita harus agresif dan kreatif menembus pasar-pasar baru di luar pasar tradisional seperti Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, dan Uni Eropa. Negara-negara Timur Tengah memiliki potensi ekspor yang menjanjikan, demikian pula India, Rusia, sejumlah negara di Afrika, dan beberapa negara di Amerika Latin.

Kita jangan selalu menyalahkan kondisi global, terutama perang dagang AS-Tiongkok yang menjadi biang keladi defisit perdagangan. Justru kita tidak boleh terlambat memanfaatkan peluang ekspor di balik berkobarnya perang dagang. Kita identifikasi sektor-sektor yang bisa menembus pasar kedua negara yang berseteru tersebut. Jangan sampai malah pasar kita menjadi tempat buangan produk Tiongkok yang dihambat masuk AS.

Bagaimanapun, defisit neraca perdagangan harus dikendalikan karena bakal memperburuk defisit transaksi berjalan yang menjadi persoalan fundamental makroekonomi kita. Jika pemerintah gagal memperbaiki neraca perdagangan, taruhannya bukan hanya sektor riil secara keseluruhan, tapi pasar modal dan pasar uang pun bakal menjadi tumbal.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN