Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings selaku moderator, Primus Dorimulu (tengah) memandu diskusi secara virtual (video conference) tentang industri reksa dana bertema Dampak Wabah Corona Terhadap Industri Reksa Dana kepada para nara sumber masing-masing, Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan Sujanto, Ketua Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Prihatmo Hari, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri, Head of Investment Research PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana di Gedung Beritasatu Plaza Jakarta, Kamis (16/4/2020). FOTO: Beritasatu Photo/Uthan AR

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings selaku moderator, Primus Dorimulu (tengah) memandu diskusi secara virtual (video conference) tentang industri reksa dana bertema Dampak Wabah Corona Terhadap Industri Reksa Dana kepada para nara sumber masing-masing, Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan Sujanto, Ketua Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Prihatmo Hari, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri, Head of Investment Research PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana di Gedung Beritasatu Plaza Jakarta, Kamis (16/4/2020). FOTO: Beritasatu Photo/Uthan AR

Reksa Dana Masih Dipercaya

Investor Daily, Jumat, 17 April 2020 | 11:00 WIB

Di tengah keganasan wabah Covid-19 yang merontokkan ekonomi dan pasar modal, ternyata industri reksa dana lumayan oke. Kendati harga aset finansial anjlok dan investor asing lebih banyak melakukan aksi jual dibanding beli, sekitar 1,8 juta pemegang unit reksa dana lokal tetap percaya pada masa depan pasar modal negeri ini.

Melawan tekanan pasar global yang luar biasa dahsyat, jumlah subscription reksa dana di Tanah Air pada dua bulan pertama 2020 masih lebih besar dibanding redemption. Selama Januari dan Februari lalu, subscription reksa dana masing-masing mencapai Rp 53,06 triliun dan Rp 47,99 triliun. Sedangkan redemption lebih sedikit, yakni masing-masing sebesar Rp 48,92 triliun dan Rp 47,61 triliun. 

Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana juga tidak tergerus terlalu banyak. Berdasarkan keterangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat diskusi secara online dengan Investor Daily kemarin, sepanjang April ini, NAB reksa dana hanya turun sekitar Rp 6 triliun, menjadi sekitar Rp 480 triliun. Sedangkan sejak Januari hingga 9 April 2020, NAB berkurang sekitar Rp 10,5 triliun.

Dana yang banyak keluar adalah dari jenis reksa dana pasar uang. Ini seiring banyak pemodal butuh cash untuk keperluan belanja, di tengah bisnis yang menurun terpukul pandemi virus corona Covid-19.

Meski demikian, sebaiknya pemodal tidak perlu panik. Pemilik dana justru perlu berinvestasi di reksa dana, seiring peluang yang justru bisa sangat menguntungkan di pasar saham. Pasalnya, kini saatnya masuk pasar untuk berbelanja saham-saham unggulan dengan pertimbangan yang matang dan tentunya tetap berhati-hati. 

Kita mesti ingat, setiap krisis juga dapat menciptakan peluang yang mungkin tak berulang. Lihat saja contohnya, saham PT Kimia Farma (Persero) Tbk justru kini sangat cemerlang di tengah mengganasnya wabah Covid-19.

Kinerja saham BUMN farmasi ini terus membubung sejak menjelang pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga saat ini. Jika pada 19 Maret lalu harga sahamnya masih Rp 600 per unit, pada Kamis (16/4), sudah melambung ke Rp 1.240 per unit. Ini berarti harga saham emiten berkode KAEF tersebut naik 106,67% dalam waktu kurang dari 1 bulan.

Yang juga patut diacungi jempol, perusahaan pelat merah ini masih bisa menjalankan tugas negaranya melayani masyarakat. Misalnya, di tengah kelangkaan masker dan harganya yang membubung tinggi akibat pandemi Covid-19, jaringan outlet ritelnya masih menyediakan masker seharga Rp 2.000 per lembar.

Pertimbangan lain mengapa investasi di pasar saham kini menarik, karena dipastikan ekonomi Indonesia akan bangkit lagi setelah pandemi diatasi. Sebagai leading indicator, harga-harga saham pun akan mendahului pulih.

Kita bisa menengok pengalaman saat krisis finansial global yang terutama menghantam Amerika Serikat tahun 2008, yang membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia sempat merosot 60,73%. Tahun itu, IHSG yang sebelumnya sempat mencapai level tertinggi di 2.830,26 pada Januari, melorot ke 1.111,39 pada Oktober. 

Namun, tahun berikutnya, IHSG meroket tajam. Indeks yang sempat berada di titik terendah 1.256,11 pada 2009, di akhir Desember ditutup di 2.534,36 atau titik tertinggi tahun tersebut. Jika dihitung dari titik terendahnya, IHSG naik menembus 101%.

Itulah sebabnya, investor yang memiliki dana lebih berjangka panjang, tak perlu ragu untuk mulai mengoleksi saham-saham berfundamental bagus yang likuid. Saham-saham pilihan ini tak terbatas pada LQ45 yang sebenarnya harganya sudah sangat murah, namun juga second liner yang bisa dipilih dengan perhitungan matang dan berhati-hati. 

Selain kini banyak saham yang sudah undervalued, tentunya perbaikan-perbaikan di industri pasar modal kita juga menjadi pertimbangan investor untuk kembali masuk pasar. Oleh karena itu, Otoritas Jasa keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia harus terus melakukan perbaikan, termasuk dengan memberikan informasi yang lengkap kepada pemodal maupun manajer investasi. Transparansi informasi yang disediakan otoritas pasar modal ini sangat penting bagi investor, untuk meningkatkan kepercayaan dan mendorong kembali berinvestasi sepenuhnya.

Selain itu, OJK perlu lebih memberi kesempatan para pelaku industri pasar modal untuk menyampaikan usulan stimulus dan bantuan yang dibutuhkan dalam menghadapi krisis akibat Covid-19, yang memukul hampir semua sektor. Dengan demikian, stimulus yang diberikan benar-benar efektif untuk mendorong pemulihan bursa dan kepercayaan pasar.

Di sisi lain, manajer investasi perlu tetap memberikan pelayanan yang terbaik kepada investor, tanpa mengaburkan data atau menyesatkan. Data dan fakta terjelek pun harus dijelaskan dengan baik, agar investor bisa menyesuaikan dengan profil dan tujuan investasinya. 

Demikian pula emiten wajib meningkatkan transparansi dan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG). Selain itu, meningkatkan efisiensi hingga melakukan diversifikasi sesuai kondisi dan situasi saat ini, sekaligus mengantisipasi perubahan pascapandemi Covid-19. 

Dengan nantinya kinerja emiten dan bursa Indonesia membaik setelah wabah Covid-19 dapat diatasi, tentu akan mendorong kinerja reksa dana dan menarik lebih banyak investor. NAB reksa dana pun tak hanya akan pulih ke titik tertinggi Rp 542,20 triliun seperti tahun lalu, tapi juga bisa menuju level Rp 1.000 triliun. 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN