Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan didampingi sejumlah pejabat pemangku kepentingan di DKI Jakarta memberikan keterangan pers terkait penerapan PSSB Kembali, di Balai Kota, Jakarta, Minggu (13/9/2020). Foto: Humas Pemprov DKI

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan didampingi sejumlah pejabat pemangku kepentingan di DKI Jakarta memberikan keterangan pers terkait penerapan PSSB Kembali, di Balai Kota, Jakarta, Minggu (13/9/2020). Foto: Humas Pemprov DKI

Rem dan Gas Tangani Covid

Senin, 14 September 2020 | 10:22 WIB
Investor Daily

Ketika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan rencana untuk menarik rem darurat guna mengendalikan Covid-19, publik panik. Pelaku usaha kaget. Di pasar modal, harga saham berguguran sebagai ungkapan distrust.

Ketika menjelaskan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) lanjutan, Minggu (13/9/2020), Anies menjawab semua pertanyaan dan harapan publik. PSBB yang akan diterapkan mulai Senin (14/9/2020) hingga dua pekan ke depan, tidak seratus persen sama de ngan PSBB yang diterapkan selama 10 April hingga 3 Juni 2020. Tapi, tidak juga selonggar PSBB transisi, 4 Juni-13 September 2020.

Di sebelas sektor esensial yang tetap beroperasi ada sedikit pengetatan. Kapasitas kantor pemerintahan hanya boleh diisi 25%. Kantor swasta boleh diisi hingga 50%. Tapi, bila ada satu yang terdeteksi positif, satu gedung harus lock down. Tidak boleh ada ruangan yang dipakai selama tiga hari untuk keperluan sterilisasi. Di luar 11 sebelas sektor esensial, ada pelonggaran. Mal boleh beroperasi dengan 50% pengunjung.

Restoran tetap dibuka, tapi makanan hanya boleh take away. Transportasi daring tetap boleh beroperasi.

Kesebelas sektor esensial adalah ke sehatan, bahan pangan, energi, komunikasi dan IT, keuangan, logistik, perhotelan, konstruksi, industri strategis, pelayanan dasar, dan kebutuhan sehari-hari.

Pasar rakyat tetap dibuka. Semuanya dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Keputusan Gubernur DKI tidak di lakukan sepihak, melainkan sudah dikoordinasikan dengan Presiden Jo kowi dan Komite Penanganan Covid-16 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Dalam sepekan terakhir, ketika angka Covid di DKI meningkat tajam, Presiden berkali-kali menyatakan sikap pemerintah, yakni mengutamakan kesehatan. Meski kegiatan ekonomi penting, tapi nyawa manusia jauh lebih penting.

Analogi rem dan gas cukup tepat dalam penanganan Covid-19 dan upaya pemulihan ekonomi nasional (PEN). Rem dan gas tidak bisa diinjak pada saat yang sama. Ketika, tiba-tiba ada mobil yang berhenti atau ada longsor di depan, rem harus difungsikan.

Rem itulah yang kini digunakan untuk menekan angka positif Covid-19 yang meningkat pesat dua pekan terakhir. Pekan lalu, rata-rata angka positif baru di Jakarta mencapai 1.098 per hari, naik dari 1.031 pekan sebelumnya dan 566 per hari tiga pekan sebelumnya.

Sementara itu, angka active cases dan kematian terus meningkat. Perkembangan ini jelas mengkhawatirkan. Nyawa manusia tidak bisa hanya dilihat dari sisi angka statistik. Jika yang meninggal karena Covid adalah keluarga dan sahabat kita, barulah kita merasakan dahsyatnya arti nyawa manusia. Tidak salah ketika Gubernur DKI menyatakan, manusia tidak bisa dibeli. Sedangkan ekonomi yang runtuh bisa kita bangun kembali.

Namun, sejumlah catatan perlu diperhatikan pemerintah dan para penyelenggara negara agar penanganan Covid-19 efektif, rakyat tidak kelaparan, dan eko nomi mengalami kontraksi telampau dalam, sehingga sulit bangkit. Mobil harus tetap berjalan seraya sopir dengan bijak memainkan gas dan rem. Mobil tidak boleh berhenti total karena kehidupan tidak bisa berhenti.

Manusia harus tetap tinggal di rumah, makan dan minum, menggunakan energi, air, dan berbagai kebutuhan hidup. Bekerja dan belajar dari rumah juga mahal. Semuanya itu membutuhkan biaya. Karena itu, rem hanya digunakan un tuk mengurangi kecepatan, bukan membuat mobil berhenti total, apalagi dalam waktu lama. Ini semua tercermin dalam PSBB DKI untuk dua pekan ke depan yang cukup moderat.

Agar penanganan Covid-19 lebih efektif, pertama, pelaksanaan protokol kesehatan perlu lebih terkoordinasi. Jangan ada pengumuman yang terkesan bukan hasil sebuah koordinasi.

Kedua, minimal 80% atau 219 juta warga Indonesia harus mengenakan masker agar penyebaran Covid bisa di hentikan. Karena itu, masyarakat menengah- bawah perlu diberikan masker oleh negara. Imbauan memakai masker tidak efektif jika rakyat tidak memiliki masker.

Diperlukan produksi masker secara besar-besaran dengan harga murah. Ada masker kain yang bisa dipakai berulang-ulang. Jika satu masker kain dihargai Rp 10.000 dan satu warga diberikan dua masker, maka dibutuhkan dana Rp 4,3 triliun. Dana sebesar ini diberikan kepada usaha mikro untuk pengadaan masker. Dengan contoh dan pendampingan, pelaku usaha mikro mendapatkan order yang mampu menghidupkan mereka.

Ketiga, testing, tracing, dan isolation harus dilakukan dengan benar. Saat ini, jumlah testing di Indonesia baru 9.668 atau 0,9% dari satu juta penduduk sebagaimana syarat WHO. AS sudah melakukan 276.854 testing atau 27,7% dari sejuta penduduk.

Dalam soal testing, Indonesia harus melakukan akselerasi. Perlu metodologi dan teknologi untuk mempercepat dan mempermudah tracing. Isolasi man diri tidak boleh di rumah sendiri karena umumnya rakyat Indonesia belum bisa melaksanakan disiplin dengan ketat.

Keempat, perlu sosialisasi dan edukasi yang lebih masif kepada seluruh warga Indonesia untuk menjalankan protokol kesehatan. Sosialisasi dan edukasi ini melibatkan semua elemen, bukan hanya birokrasi, tapi juga tokoh masyarakat, sekolah, dan relawan.

Setiap warga harus paham apa pentingnya memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

Kelima, pengawasan lebih ketat dan sanksi berat yang memberikan efek jera kepada warga yang tidak me matuhi protokol kesehatan. Tanpa ada sanksi, protokol kesehatan tidak akan efektif.

Keenam, pastikan kapasitas rumah sakit terus membaik dengan jumlah dokter dan perawat yang meningkat serta fasilitas rumah sakit yang makin lengkap. APD bagi dokter dan paramedic cukup tersedia dan dana insentif bagi tenaga medis dicairkan sesuai waktu yang dijanjikan.

Ketujuh, dana bantuan sosial dan pertolongan sosial lainnya perlu disalurkan lebih cepat dan tepat jumlah. Seluruh masyarakat miskin dan yang kehilangan pekerjaan harus mendapatkan bantuan dana dari pemerintah yang dibagikan lewat rekening.

Apa pun prediksi ekonomi, semuanya tak akan terealisasi jika penyebaran Covid tidak bisa dihentikan. Menggenjot pertumbuhan ekonomi di saat Covid mengganas takkan membuahkan hasil.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN