Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Inflasi

Ilustrasi Inflasi

Resesi Ekonomi

Selasa, 3 November 2020 | 23:16 WIB
Investor Daily

Sesuai prediksi, perekonomian Indonesia sudah masuk zona resesi pada kuartal III-2020. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal III, seperti diungkapkan Presiden Jokowi, kemarin, terkontraksi atau minus sekitar 3% setelah pada kuartal II minus 5,32%.

Pertumbuhan ekonomi kuartal III sejatinya baru akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (5/11) lusa. Namun, Presiden lebih dulu 'membocorkan'- nya kepada publik. Pasar, sepertinya, tak terlalu terkejut. Buktinya, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang ditutup satu jam setelah Presiden Jokowi menyampaikan 'bocoran' soal PDB, hanya terkoreksi tipis 13 poin (0,25%) ke level 5.115,12. Nilai tukar rupiah, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), sudah lebih dulu melemah 28 poin ke level Rp 14.718 per dolar AS pada pagi harinya.

Ekspresi pasar yang 'datar-datar saja' mengindikasikan sejumlah hal positif, salah satunya para pelaku pasar telah mem-price in resesi ekonomi ke dalam portofolio mereka. Pemerintah telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal III-2020 masuk fase resesi dengan perkiraan minus 2,9% hingga minus 1,1%.

Secara keseluruhan, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini minus 1,7% hingga minus 0,6%.

Selain itu, para pelaku pasar menganggap pertumbuhan PDB yang minus dalam kisaran 3% pada kuartal III tahun ini justru menunjukkan tren positif. Kontraksi ekonomi kuar tal III-2020 setidaknya masih lebih baik dari kuartal sebelumnya yang minus 5,32%.

Meski PDB masih terperangkap di zona negatif, kondisinya berangsur membaik, sehingga muncul ekspektasi kuat bahwa perekonomian nasional bisa segera ke luar dari jurang resesi.

Tanda-tanda perbaikan ekonomi juga tercermin pada i n f l a s i bulanan (month to month/ mtm) Oktober 2020 sebesar 0,07% yang diumumkan BPS, kemarin. Inflasi terjadi akibat kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minumandan tembakau, kelompok pakaian dan alas kaki, kelompok kesehatan, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya, ke lompok pendidikan, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran.

Dengan inflasi bulanan sebesar 0,07% pada Oktober maka inflasi tahun kalender (calendar to calendar/c to c) dan inflasi tahunan (year on year/yoy) masing- masing mencapai 0,95% dan 1,44%. Komponen inti pada Oktober 2020 juga mengalami inflasi 0,04%, sehingga inflasi komponen inti tahun kalender dan inflasi komponen inti tahunan masing-masing mencapai 1,50% dan 1,74%.

Meski kecil, inflasi bulanan pada Oktober cukup melegakan, mengingat selama tiga bulan berturut-turut (Juli, Agustus, September), Indonesia dilanda deflasi atau inflasi negatif, masing-masing 0,10%, 0,05%, dan 0,05%. Inflasi bulanan pada Oktober mengindikasikan ekonomi mulai menggeliat akibat meningkatnya konsumsi masyarakat karena daya belinya membaik.

Inflasi Oktober membersitkan harapan bahwa sektor produksi yang tiarap akibat pandemi Covid-19 bakal kembali bangkit.

Di sisi lain, kontraksi PDB kuartal III- 2020 sebesar 3% membuat para pelaku ekonomi lebih percaya diri terhadap perekonomian nasional. Jika pada kuartal III tahun ini perekonomian domestic minus 3%, berarti kondisi ekonomi Indonesia jauh lebih baik dibanding negara- negara lain, termasuk negara-negara di Asean.

Pada kuartal II dan III tahun ini, Singapura mencatatkan pertumbuhan ekonomi minus 13,3% dan minus 7,0%, Thailand minus 2,0% dan minus 12,2%, sedangkan Filipina minus 0,7% dan minus 16,5%.

Di luar itu semua, kita tetap mengkritisi pemerintah bahwa perekonomian na sional sesungguhnya bisa lolos dari resesi andai sejak awal dilakukan langkah- langkah antisipasi yang lebih taktis.

Selama ini ada adagium bahwa tanpa 'intervensi' pemerintah sekalipun, perekonomian domestik bisa tumbuh 2-3% asal kan konsumsi rumah tangga dapat dijaga. Itu karena konsumsi rumah tangga berkontribusi 57-58% terhadap PDB pengeluaran.

Kita, secara jujur, harus mengakui bahwa pemerintah kurang sigap mengamankan konsumsi rumah tangga, terutama melalui stimulus bantuan sosial (bansos). Alih-alih menyelamatkan konsumsi dan daya beli masyarakat dari dampak Covid, pemerintah pada awal pandemi malah fokus mengamankan sektor pariwisata.

Stimulus pertama penangkal corona diumumkan pemerintah pada 26 Februari 2020 atau dua bulan setelah Covid-19 merebak di Tiongkok dan sepekan sebelum Presiden Jokowi mengumumkan kasus Covid pertama di Indonesia.

Stimulus jilid I bukan berupa bansos un tuk menjaga daya beli dan konsumsi masyarakat, melainkan insentif un tuk sektor pariwi sa ta. Pemerintah me nganggarkan Rp 298,5 miliar untuk menjaring wisatawan mancanegara (wisman) lewat insentif maskapai penerbang an, agen perjalanan, biaya promosi pariwisata, serta familiarization trip (famtrip) dan influencer.

Untuk mendorong wisatawan Nusantara (wisnus), pemerintah memberikan diskon tiket pesawat, diskon harga avtur, serta peng hapusan pajak hotel dan restoran melalui subsidi atau hibah Rp 3,3 triliun kepada pemda terdampak Covid. Stimulus pariwisata terbukti tidak efektif. Faktanya, jumlah wisman sejak Maret 2020 terus merosot, dari rata-rata 1,3 juta per bulan menjadi hanya 470 ribu, bahkan kemudian anjlok menjadi 150-160 ribu per bulan. Angka itu bertahan hingga September.

Sebaliknya, pada kuartal II-2020, konsumsi rumah tangga yang menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi, minus 2,96% (yoy), paling dalam di antara sumber-sumber pertumbuhan PDB lainnya. Alhasil, pertumbuhan ekonomi kuartal II pun minus 5,32% (yoy).

Kita paham bahwa tak satu Negara pun yang siap menghadapi pandemic Covid. Maka pemerintah harus belajar dari stimulus jilid I yang agak 'mubazir' itu.

Pemerintah sekarang harus fokus menjaga daya beli masyarakat, antara lain melalui penyaluran bansos yang tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran, seraya menjaga protokol kesehatan tetap dijalankan. Daya beli masyarakat yang terjaga akan melahirkan permintaan (demand). Jika demand muncul, sektor riil akan bergerak. Kredit perbankan akan kembali mengucur. Ekonomi bakal kembali bertumbuh.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN