Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST

AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST

Rezim Bunga Murah

Senin, 17 Juni 2019 | 10:32 WIB

Dunia kembali memasuki rezim bunga murah. Bagaimana Indonesia? Akankah suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang saat ini 6% akan diturunkan tahun ini? Penurunan suku bunga merupakan kabar baik bagi pelaku usaha. Sedang kalangan perbankan umumnya siap dengan penurunan suku bunga.

Suka atau tidak suka berbagai pihak terhadap Donald Trump, kebijakannya sudah memberikan dampak positif terhadap ekonomi AS. Presiden AS itu sesungguhnya hanya melaksanakan keinginan masyarakat AS dan para pemimpinnya di masa lalu. Namun, baru Trump yang memiliki nyali untuk melawan arus.

Tanpa tedeng aling-aling, Trump menyerukan kenaikan tarif barang impor dari Tiongkok jika negeri Tirai Bambu itu tidak mengindahkan peringatan yang diberikan. Sampai batas yang ditentukan, RRT belum juga memberikan respons positif, ia pun mengumumkan kenaikan bea masuk sejumlah mata barang. Kenaikan bea masuk akan diperluas ke berbagai mata barang lainnya jika Tiongkok tetap keras kepala.

Trump menegaskan dirinya tidak memelopori proteksionisme. Ia pun tidak menyerukan trade war, melainkan fair trade atau perdagangan yang adil. Tata perdagangan yang tidak adil hanya menguntungkan pihak tertentu. Dalam perdagangan dengan RRT, AS didera defisit yang terus meningkat. Trump menuduh RRT menerapkan unfair trade. Salah satu bukti adalah mata uang yuan yang terus melemah terhadap dolar AS.

Dalam sistem perdagangan yang fair, nilai mata uang negara yang mengalami surplus perdagangan selalu menguat terhadap mitra dagang yang menderita defisit. Tapi, dalam kasus perdagangan Tiongkok dengan AS, yuan melemah meski surplus neraca perdagangan Negara itu terus meningkat terhadap AS. Negara lain pun mengalami hal yang sama. Defisit neraca perdagangan Indonesia-RRT terus meningkat, namun yuan tidak menguat terhadap rupiah.

Dengan menekankan sistem perdagangan yang fair, defisit neraca perdagangan AS menyempit. Pada bulan April 2019, defisit neraca perdagangan dan jasa AS US$ 50,8 miliar, turun dari US$ 51,9 miliar bulan Maret 2019. Neraca jasa AS selalu surplus. Ekonomi AS di bawah Trump terus berkembang positif. Pada kuartal pertama 2019, ekonomi Paman Sam bertumbuh 3,1%. Pada kuartal keempat 2018, laju pertumbuhan ekonomi AS 2,2%. Angka pengangguran terbuka mampu ditekan ke 3,6%, turun dari 10% tahun 2009. Laju inflasi yang pernah di atas 4%, pada bulan Mei 2019 tinggal 2%.

Kondisi inilah yang membuka peluang The Federal Reserve Bank (The Fed) menurunkan suku bunga acuan. Meski Trump sudah mendesak sejak pertengahan tahun lalu, baru awal kuartal kedua tahun ini The Fed memberikan sinyal penurunan FFR. Suku bunga acuan The Fed yang saat ini 2,50% akan diturunkan kembali satu atau dua basis poin menjelang akhir tahun. Sedang pada tahun 2020, FFR diperkirakan berada di level yang sama jika tidak diturunkan.

Dua bank sentral besar, European Central Bank (ECB) dan Bank of Japan (BoJ) sudah lama mengenakan suku bunga nol bahkan negatif. Saat ini, suku bunga acuan ECB di level 0,00% untuk main refinancing operations dan 0,25% untuk marginal lending. Sedangkan suku bunga acuan BoJ berada di level -0,10%. Rendahnya suku bunga acuan dimaksudkan untuk memberikan stimulus kepada dunia usaha.

Di Asia, bank sentral negaranegara besar juga menurunkan suku bunga acuan. Bank sentral India, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina berancang-ancang menurunkan suku bunga. Sedangkan Bank of Australia baru saja menurunkan bunga acuan ke level 1,25%.

Kebijakan ini dimaksudkan untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi negeri Kanguru yang sudah terseok di 1,9%. Kondisi global berdampak positif terhadap Indonesia. Bank Indonesia kemungkinan akan menurunkan BI- 7-day reverse repo rate yang saat ini masih bertengger di 6%. Kalangan perbankan nasional sudah bersiapsiap menurunkan suku bunga jika BI menurunkan bunga acuan. Kondisi bunga tinggi sangat memberatkan dunia usaha.

Mudah-mudahan, dunia kini memasuki rezim suku bunga rendah. Bila ini terjadi, BI juga menyesuaikan diri dan perbankan nasional tak bisa berbuat lain. Bunga tinggi hanya memperbesar kredit bermasalah. Dalam kondisi ekonomi yang makin sulit, penurunan suku bunga adalah solusi efektif untuk ekonomi yang lesu.

Penurunan suku bunga akan menarik banyak dana investasi. Para pemilik dana akan mengalihkan dananya dari deposito ke pasar modal atau mulai berinvestasi di sektor riil. Para pemodal yang selama ini berinvestasi di AS akan keluar untuk mencari lahan investasi baru. Transaksi di Bursa Efek Indonesia akan kembali diwarnai net buying asing.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN