Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(Kiri-kanan) President of Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata; Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan; Menteri Riset, Teknologi, dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasiona Bambang Brodjonegoro; dan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza, di acara peluncurkan EV Ecosystem Roadmap, di halaman gedung Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, 13 Desember 2019. Foto: Beritasatu.com / Herman

(Kiri-kanan) President of Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata; Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan; Menteri Riset, Teknologi, dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasiona Bambang Brodjonegoro; dan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza, di acara peluncurkan EV Ecosystem Roadmap, di halaman gedung Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, 13 Desember 2019. Foto: Beritasatu.com / Herman

Roadmap Kendaraan Listrik

Investor Daily, Sabtu, 14 Desember 2019 | 13:03 WIB

Keseriusan pemerintah dalam pengembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) makin terbukti. Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi bersama Grab Indonesia meluncurkan Roadmap Ekosistem Kendaraan Listrik. Peta jalan ini bertujuan untuk mempercepat adopsi EV di Indonesia dan mewujudkan jaringan transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Dalam konteks itu, Grab meluncurkan layanan kendaraan listrik dalam bentuk 40 unit pada Januari 2020. Diharapkan pada akhir tahun 2020 akan bertambah layanan sebanyak 500 mobil listrik.

Dalam hal ini, Grab berkolaborasi dengan produsen mobil PT Hyundai Mobil Indonesia dan PT Astra Honda Motor (AHM) untuk meluncurkan uji coba kendaraan listrik, baik mobil maupun motor, di Jabodetabek.

Roadmap Ekosistem Kendaraan Listrik terebut melengkapi Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik (Mobil Listrik) yang diteken Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Perpres tersebut akan menjadi landasan bagi pelaku industri otomotif di Indonesia untuk segera merancang dan membangun pengembangan mobil listrik.

Dalam rencana ke depan, jumlah mobil listrik di Indonesia ditargetkan mencapai 400.000 unit pada 2025, kemudian meningkat menjadi 5,7 juta unit pada 2035. Sementara itu, mengacu data International Energy Agency (IEA), jumlah mobil listrik yang sudah beroperasi di seluruh dunia mencapai 5,1 juta unit per akhir 2018.

PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) dan Grab Indonesia meluncurkan Hyundai IONIQ Electric, mobil listrik yang akan dioperasikan sebagai layanan mobilitas EV Grab, di Jakarta, 13 Desember 2019.  Foto: Beritasatu.com / Herman
PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) dan Grab Indonesia meluncurkan Hyundai IONIQ Electric, mobil listrik yang akan dioperasikan sebagai layanan mobilitas EV Grab, di Jakarta, 13 Desember 2019. Foto: Beritasatu.com / Herman

Kendaraan listrik telah menjadi tren dunia. Semua negara sudah menyiapkan peta jalan pengembangan mobil listrik, seiring kampanye penghentian kendaraan berbahan bakar fosil karena tidak ramah lingkungan.

Sejumlah produsen mobil listrik sudah melangkah jauh, seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa. Tiongkok juga kini sangat ambisius, karena konsumen domestiknya sangat besar.

Sebagai tahap awal pengembangan mobil listrik, Indonesia sudah menanamkan investasi besar-besaran untuk industri baterai sebagai komponen utama mobil listrik. Kerja sama Indonesia, Tiongkok, dan Jepang telah menyepakati pembangunan pabrik komponen baterai di Morowali, Sulawesi Tengah, senilai US$ 700 juta, dengan devisa pada tahun pertama diperkirakan mencapai US$ 800 juta.

Indonesia digadang-gadang menjadi basis produksi mobil listrik di Asia, lantaran didukung ketersediaan pasokan nikel untuk bahan baku baterai lithium kendaraan listrik. Indonesia memiliki 16% dari cadangan nikel laterit global, yang menjadi bahan baku baterai. Sedangkan 60-80% bahan baterai lithium berbasis nikel.

Seiring menipisnya cadangan minyak dan gas di Tanah Air, kendaraan listrik merupakan jawaban. Apalagi kendaraan listrik mampu menghemat 50-80% bahan bakar. Artinya, kendaraan listrik juga dapat menghemat anggaran subsidi BBM, karena berkurangnya impor minyak dan BBM yang selama ini menggerogoti neraca perdagangan Indonesia.

Sebelum dapat membuat kendaraan listrik sendiri, tentu Indonesia harus mengimpor terlebih dulu dalam bentuk completely built up (CBU). Dalam hal ini, kuota impor CBU kendaraan listrik harus dikaitkan dengan komitmen dan besaran investasi dari prinsipal. Artinya, fasilitas dan insentif untuk impor hanya diberikan kepada pelaku industri yang sudah berkomitmen untuk melakukan investasi kendaraan listrik di Indonesia.

Meski demikian, pemerintah mesti memberikan batas waktu agar pabrikan kendaraan listrik tetap memenuhi tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Misalnya, dalam periode tertentu, TKDN kendaraan listrik minimal harus sekian persen.

Sejauh ini, sudah ada tiga principal yang berkomitmen mengembangkan kendaraan listrik di Tanah Air, yakni Toyota, Hyundai, dan Nissan. Yang jelas, banyak hal yang harus dipersiapkan dalam pengembangan kendaraan listrik. Pemerintah mesti mendesain teknologi terkini yang akan dipakai. Karena teknologi mobil listrik ini relatif baru, pemerintah dapat memotong kompas dengan menyeleksi teknologi terkini yang tercanggih, efisien, dan tepat untuk Indonesia. Aspek lain yang krusial adalah penyiapan sumber daya manusia (SDM), fasilitas riset dan pengembangan (R&D), pengembangan industry komponen dan pendukungnya dari hulu hingga hilir, regulasi dan insentif yang dibutuhkan, hingga penyiapan infrastruktur pendukungnya.

Sebagai industri pionir, industry kendaraan listrik layak mendapat berbagai fasilitas, kemudahan, dan insentif. Salah satu yang pernah dijanjikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati adalah potongan 50% atas Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Banyak bentuk insentif lain yang bisa diberikan antara lain subsidi harga jual yang telah diterapkan di beberapa negara, bebas retribusi parkir, bebas biaya tol, dibebaskan dari peraturan ganjil-genap.

Pemerintah juga mesti mempertimbangkan kompensasi bagi industri otomotif yang ada, yang saat ini sedang ekspansi besar-besaran. Industri itu kelak mau dikemanakan dan siapa yang harus menanggung kerugian tersebut. Juga bagaimana masa transisi ini berlangsung agar tidak menimbulkan keguncangan, termasuk dalam hal tenaga kerja.

Lebih dari itu, seluruh infrastruktur pendukung harus dipersiapkan sebaik dan sematang mungkin, termasuk fasilitas pengisian baterai kendaraan listrik. Ekosistem ini perlu dibangun secara terintegrasi sejak dini. Hanya dengan cara demikian mimpi Indonesia sebagai basis produksi kendaraan listrik yang efisien dan kompetitif bakal terwujud.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA