Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
IHSG masih anjlok. Pengunjung melintas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia (BEI)/ Defrizal Muhammad

IHSG masih anjlok. Pengunjung melintas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia (BEI)/ Defrizal Muhammad

Saatnya, Masuk Pasar

Investor Daily, Senin, 23 Maret 2020 | 21:27 WIB

Harga saham sudah sangat murah. Saatnya, pemodal yang memiliki likuiditas masuk pasar untuk mulai mengoleksi saham berkinerja bagus dan berprospek cerah yang sudah undervalued.

Tak seorang pun tahu sampai kapan harga saham terjungkal. Yang pasti, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah terjun bebas dari level di atas 6.000-an ke 4.000-an. Pekan lalu, Jumat (21/3/2020), IHSG ditutup pada level 4.194, naik tips 2,2% dari sehari sebelumnya. Tapi, sejak awal Januari 2020, indeks sudah terpangkas 33,4%. Saham bluechips yang tergabung dalam LQ-45 terkikis hingga 38,2%. Saham berkapitalisasi besar dan berprospek cerah ikut terjungkal dihajar Virus Korona.

Kinerja IHSG Jumat sore (20/3/2020). Sumber: BSTV
Kinerja IHSG Jumat sore (20/3/2020). Sumber: BSTV

Penyebaran Covid-19 menjadi momok yang menakutkan dunia. Harga saham di semua bursa saham dunia berguguran. Indeks Dow Jones terjungkal hingga 29,6%, Bursa Tokyo jatuh 30%, Bursa Hong Kong 19% terjungkal, Bursa Shanghai tergerus 10%, dan Bursa Singapura terpangkas 25,2%.

Jatuh paling dalam adalah Bursa Austria yang rontok hingga 40%. Di BEI, asing lebih banyak melepas saham daripada mengoleksi. Selama Januari hingga 20 Maret 2020, ytd, net selling asing mencapai Rp 10,2 triliun. Asing juga keluar dari surat berharga negara (SBN) dan kembali memegang dolar AS. Kepemilikan investor asing di SBN turun Rp 86,49 triliun dari posisi akhir Desember 2019 ke Rp 975,37 triliun, 18 Maret 2020.

Itu sebabnya, rupiah yang pada awal Januari 2020 bertengger di level Rp 13.895, di akhir pekan lalu terjerembab ke posisi Rp 16.273 per dolar AS, level terburuk setelah krisis moneter 1997-1998.

Para pemodal mengalami potential loss lumayan besar, seperti terlihat pada penurunan nilai kapitalisasi pasar atau market cap emiten yang mencapai Rp 2.411 triliun atau 33%, ytd. Pada akhir Desember 2019, perdagangan saham di BEI ditutup dengan market cap Rp 7.265 triliun dan pada 20 Maret 2020 tinggal Rp 4.854 triliun.

Penurunan market cap yang sangat besar disebabkan oleh terhempasnya harga saham LQ-45. Market cap LQ- 45 tergerus Rp 1.724,59 triliun atau 37,1% ke Rp 2.922,87 triliun, ytd. Bagi pemodal yang memiliki likuiditas, saat ini adalah momentum untuk membeli karena price to earning ratio (PER) LQ-45 umumnya di bawah 10 kali, bahkan beberapa di antaranya hanya 1-4 kali, dengan price to book value (PBV) cuma 0-1 kali seperti saham PT Waskita Karya Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, dan PT United Tractors Tbk.

Di level dunia, superinvestor seperti Warren Buffett, Bradley Hughes, Kelly Warren, dan Carlos Slim sudah mulai turun untuk mengoleksi saham secara bertahap. Mereka yakin, penurunan harga saham hanya sementara. Badai pandemi Covid-19 akan berakhir, cepat atau lama. Tiongkok, yang pertama menjadi episentrum Covid-19, kini sudah bebas korona. Kegiatan produksi mulai berjalan kembali menuju normal.

Para analis di pasar modal Indonesia menilai, valuasi 45 saham emiten di LQ-45 sudah terlampau murah. Mereka menyarankan agar para investor yang selama ini menjauh untuk kembali ke pasar modal, melihat saham yang valuasi sudah sangat rendah.

Para pemodal yang memiliki likuiditas pas-pasan kini saatnya untuk mengakumulasi saham berprospek cerah yang sudah undervalued. Data Worldometers.info menunjukkan, pada 22 Maret 2020, pukul 15.30 GMT, penghuni bumi yang terjangkit Virus Korona sudah mencapai 318.899 orang, yang meninggal 13.683, dan sembuh 96.006 orang. Kasus baru kini terjadi di luar Tiongkok, yakni Eropa, Amerika, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Korban meninggal di Italia sudah 4.825, jauh di atas RRT, 3.261.'

Indonesia dinilai cukup mengkhawatirkan karena rendahnya disiplin masyarakat. Pada waktu yang sama, jumlah penduduk positif korona 514, meninggal 48, dan yang sembuh hanya 29.

Masih banyak wilayah yang belum terdata. Kuat dugaan, jumlah warga Indonesia yang terpapar sudah berlipat-lipat Wabah korona merontokkan semua harga aset. Kondisi fundamental ekonomi juga terkena sengatan korona. Tahun ini, laju pertumbuhan ekonomi diperkirakan turun satu hingga empat persen. Kondisi ini mendorong bank sentral AS dan bank sentral di berbagai negara memangkas suku bunga acuan dan para pemimpin negara memberikan stimulus ekonomi.

The Fed sudah memangkas FFR hingga 0,00-0,25% dan Bank Indonesia pekan lalu memangkas BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,50%. BI juga menurunkan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility masing-masing sebesar 25 bps menjadi 3,75% dan 5,25%.

Kantor OJK/David Gita Rosa
Kantor OJK/David Gita Rosa

Pemerintah Indonesia sudah dua kali memberikan stimulus ekonomi dan kini tengah mempersiapkan stimulus ketiga, fokus pada upaya menghentikan penularan Covid-19. OJK sudah melakukan relaksasi dan membolehkan emiten buy back tanpa lewat RUPS. Manajemen BEI sudah melakukan suspensi otomatis setiap indeks rontok 5%. Tapi, harga saham tetap saja berguguran.

Menghadapi situasi pelik ini, pemodal yang memiliki likuiditas perlu menunjukkan optimisme dengan mulai mengoleksi dan mengakumulasi saham undervalued berprospek bagus. Sejarah berulang kali menunjukkan, setelah pasang surut akan datang pasang naik. Mereka yang memborong saham pada saat krisis ekonomi tahun 1998 dan 2008 meraih kekayaan berlipat ganda empat-lima tahun kemudian.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN