Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja berada didepan layar pergerakan saham, gedung BEI, Jakarta.  Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Pekerja berada didepan layar pergerakan saham, gedung BEI, Jakarta. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Saham Lapis Kedua

Investor Daily, Selasa, 14 Januari 2020 | 13:04 WIB

Saham-saham lapis kedua atau second liner di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki prospek bagus sesuai fundamental emitennya serta kondisi makroekonomi. Umumnya investor cenderung akan mencari saham lapis kedua yang memiliki fundamental baik, dan secara teknikal juga memiliki potensi naik.

Namun sejak mencuatnya kasus yang merugikan PT Asuransi Jiwasraya dan PT Asabri, saham-saham lapis kedua mendapat stigma yang kurang sedap. Saham kelompok ini dicap sebagai saham gorengan yang membuat kedua perusahaan asuransi negara itu rugi puluhan triliun rupiah. Padahal, banyak saham lapis kedua yang fundamentalnya bagus.

Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya (Persero).
Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Saham lapis kedua di sektor konsumsi dan ritel misalnya, punya prospek bagus dan akan memberikan gain tinggi jika ekonomi pada tahun ini berjalan sesuai target pemerintah yang diharapkan tumbuh 5,1-5,2%. Tren konsumsi rumah tangga –sebagai kontributor terbesar terhadap per tumbuhan ekonomi nasional— yang hingga kuartal IV- 2019 masih mengalami kenaikan ikut mendorong kinerja emiten ritel.

Selain melihat kondisi makro, faktor fundamental juga turut menentukan pergerakan saham-saham lapis kedua. Contohnya saham PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) tetap menjadi pilihan lantaran memiliki fundamental yang bagus di antara kompetitornya, yang tercermin dari kenaikan laba bersih 8,4% hingga kuartal III-2019 dibanding periode sama tahun lalu.

Wika Beton. Foto: David
Wika Beton. Foto: David

Rencana Wika Beton untuk menyasar proyekproyek konstruksi di luar holding induknya juga berpeluang mendongkrak kinerja perseroan selama tahun ini.

Sementara itu, sentimen positif dari penguatan harga komoditas emas membuat saham-saham emiten tambang emas masuk dalam rekomendasi untuk dikoleksi. Komoditas emas menonjol lantaran menjadi safe haven utama di tengah risiko resesi di Amerika Serikat serta gejolak geopolitik di Timur Tengah.

Selain itu, pemerintah Tiongkok juga terlihat menambah cadangan emasnya dan malah mengurangi kepemilikannya pada investasi US Treasury bertenor 10 tahun.

Safe haven adalah aset investasi yang mempunyai tingkat risiko rendah, ketika perekonomian global tidak menentu atau ada gejolak geopolitik. Emas dijadikan safe haven karena ketersediaannya langka, banyak diminati, dan sangat berharga secara intrinsik.

Saat ini harga emas jauh lebih tinggi dibandingkan era 1980-an. Harga emas acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) meroket Rp 33.000 (4,6%) menjadi Rp 750.000 per gram pada 8 Januari lalu, dari Rp 717.000 per gram pada hari sebelumnya.

Antam. Foto: UTHAN
Antam. Foto: UTHAN

Kenaikan ini merupakan rekor tertinggi sepanjang masa dari emas Antam. Naiknya harga emas Antam itu mengekor harga emas di pasar spot global akibat serangan balasan Iran terjadap Amerika Serikat (AS).

Kembali ke saham-saham lapis kedua, saham-saham yang masuk kategori ini biasanya banyak menjadi pilihan investasi di tengah meningkatnya volatilitas di pasar saham. Pasalnya, saham-saham yang berfundamental bagus dari kelompok lapis kedua ini dinilai menarik dibandingkan berinvestasi di saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps.

Investor melihat peluang di saham-saham lapis kedua itu memiliki potensi keuntungan. Saham-saham lapis kedua pernah mencetak pertumbuhan yang signifikan di saat saham-saham big caps tertekan pada Mei tahun lalu.

Selain itu, kerentanan saham-saham tersebut terhadap gejolak pasar juga tidak terlalu signifikan. Dari sisi bobot, saham medium caps ini tak terlalu menggerakkan indeks harga saham gabungan (IHSG). Dengan demikian, ketika indeks mengalami tekanan, pengaruhnya tak terlalu besar terasa pada saham lapis kedua Saham lapis kedua umumnya dikenal sebagai saham likuid. Tetapi kinerja dan nilai kapitalisasi pasarnya tak sebesar saham lapis pertama.

Dividen yang diberikan oleh saham lapis kedua juga tergolong menengah, tidak terlalu besar, tetapi juga tak bisa dibilang kecil. Harga saham lapis kedua umumnya tidak terlalu mahal. Karenanya, ada investor yang memilih untuk fokus ke tipe saham ini.

Namun demikian, investor perlu mewaspadai kelompok saham medium caps ini karena bukan menjadi saham-saham yang defensif di saat terjadi pelemahan pasar. Pasalnya, saham-saham ini rentan ditinggal ketika posisi pasar saham kembali membaik seiring dengan investor kembali mengoleksi saham-saham berkapitalisasi besar.

Saham-saham lapis kedua biasanya memiliki risiko yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan saham-saham lapis per tama yang merupakan penggerak pasar. Selain itu, volatilitas harga saham big caps yang tidak terlalu tinggi dan pergerakannya cenderung stabil sering direkomendasikan analis sebagai saham yang aman.

Selain itu, saham lapis kedua adalah saham-saham emiten yang bila ditinjau dari struktur permodalan bisa dibilang tak sekuat saham big caps. Kalau aset dan modal perusahaan tinggi, sekalipun rugi akan lebih minim risikonya ketimbang yang modalnya kecil seperti emitenemiten lapis kedua. Likuiditas emiten menjadi satu hal yang harus diperhatikan selain kinerjanya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA