Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Saham-saham Pilihan

Selasa, 3 September 2019 | 12:00 WIB

Meski dibayangi sentimen negatif perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, pasar saham Indonesia diyakini masih punya peluang untuk keluar dari tekanan hingga akhir tahun 2019. Sejumlah faktor baik domestik dan global dapat menjadi penggerak kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

IHSG diyakini masih bisa bertumbuh sebesar 5,0-6,5% ke level 6.600- 6.700 hingga akhir 2019. Sedangkan selama periode delapan bulan hingga 30 Agustus 2019, IHSG sudah mencatatkan kenaikan 133,9 poin atau 2,1% ke level 6.328,4 dari posisi 6.194,5 pada akhir 2018. Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode tersebut juga meningkat Rp 236,2 triliun.

Selama periode Januari-Agustus 2019, indeks saham infrastruktur, utilitas, dan transportasi tumbuh paling tinggi sebesar 15,6%. Selanjutnya diikuti indeks saham properti, real estat, dan bangunan sebesar 11,5%, indeks saham keuangan sebesar 7,5%, dan indeks industri dasar dan kimia sebesar 3,64%.

Sedangkan pada kelompok indeks LQ45, saham PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mencatatkan kenaikan harga paling tinggi mencapai 79,7%. Kemudian diikuti saham PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPS) sebesar 79,3%, PT XL Axiata Tbk (EXCL) sebesar 75,7%, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) sebesar 48,9%, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar 39,8%.

Sedikitnya ada 10 saham, menurut kalangan analis, masih berpotensi mencetak keuntungan (capital gain) berkisar 9,3-52,6%. Saham-saham yang layak dikoleksi itu di antaranya PT Adhi Kar ya Tbk (ADHI), PT PP Tbk (PTPP), PT Wijaya Kar ya Tbk (WIKA),PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR). Saham-saham perbankan masih potensial untuk dijadikan portofolio investasi hingga akhir 2019.

Ada sejumlah faktor yang berpotensi menahan IHSG agar tidak jatuh akibat tekanan global. Situasi politik domestik saat ini sudah kondusif. Meredanya tensi politik ini akan menjadi sentimen positif bagi iklim investasi di dalam negeri.

Kini, pelaku pasar menunggu realisasi kebijakan pemerintah dan susunan kabinet baru. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo sempat memberikan pernyataan bahwa susunan cabinet periode 2019-2024 dapat diumumkan sebelum pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih pada Oktober 2019.

Faktor domestik lainnya yang bakal menjadi penggerak IHSG sampai akhir tahun adalah potensi penurunan kembali suku bunga acuan oleh Bank Indonesia dan aksi window dressing seiring musim laporan keuangan emiten. Pada 22 Agustus lalu, Bank Indonesia menurunkan bunga acuan BI 7-day reverse repo rate (BI-7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5%. Sebelumnya, pada 18 Juli 2019, bank sentral juga menurunkan bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75%.

Setelah dua kali penurunan sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan penurunan kembali suku bunga acuan oleh Bank Indonesia sebesar 25 bps. Pelaku pasar juga mengharapkan penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.

Pasar mengekspektasikan penurunan kembali Fed fund rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) pada September ini, dan selanjutnya The Fed diperkirakan menurunkan suku bunga sebanyak tiga kali. Penurunan lagi suku bunga acuan The Fed seiring meningkatnya risiko perdagangan, ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga yang jauh lebih dalam, dan peningkatan risiko global terkait dengan Brexit.

Di luar faktor-faktor tersebut, kondisi global yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah perang dagang karena dampaknya langsung ke Indonesia. Tiongkok dan Amerika Serikat memberlakukan tarif tambahan terhadap produk impor masing-masing mulai 1 September 2019. Pemberlakuan itu menyusul peningkatan tensi perang dagang kedua negara, meskipun AS dan Tiongkok sempat menunjukkan tanda-tanda untuk melanjutkan negosiasi pada bulan ini.

Pemerintah AS mulai memberlakukan tambahan tarif 15% atas impor barang Tiongkok yang bernilai lebih dari US$ 125 miliar, termasuk speaker pintar, headphone bluetooth, dan alas kaki. Sebagai bentuk pembalasan, Tiongkok akan mulai mengenakan tarif 5% pada minyak mentah AS, yang menjadi kali pertama minyak AS menjadi sasaran sejak dua negara ekonomi terbesar di dunia itu memulai perang dagang lebih dari setahun lalu.

Dengan tensi perang dagang yang makin tinggi, artinya masih ada ketidakpastian yang mengintai sehingga dapat memengaruhi kinerja emiten.

Kondisi ini tentu akan menyebabkan perlambatan ekonomi global dan memengaruhi pasar saham global, termasuk IHSG. Karena itu, prospek kelanjutan negosiasi kedua negara untuk mengakhiri perang dagang menjadi peristiwa yang paling ditunggu para investor dan dunia usaha. Para pembuat kebijakan dari dua ekonomi terbesar di dunia itu diharapkan mengambil langkah-langkah lunak untuk menurunkan tensi perang dagang.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN