Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung-gedung perkantoran di pusat bisnis di Jakarta tampak  dari kejauhan, belum lama ini.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Gedung-gedung perkantoran di pusat bisnis di Jakarta tampak dari kejauhan, belum lama ini. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Semoga Bukan PHP

Selasa, 8 Juni 2021 | 11:29 WIB
Investor Daily

Kuartal II-2021 baru akan berakhir tiga pekan lagi. Namun sejumlah menteri sudah mengumandangkan optimisme bahwa pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal II bakal melampaui 7%.

Ketika memasuki kuartal II awal April lalu, mereka sudah dengan penuh keyakinan bahwa ekonomi akan tumbuh 7%. Tidak sedikit ekonom dan dunia usaha yang meragukan prediksi pemerintah tersebut. Apalagi selama periode kuartal II ini, Puasa Ramadan dan Lebaran yang digadang-gadang menjadi motor utama konsumsi justru dihadang oleh kebijakan larangan mudik dan pembatasan mobilitas.

Pengusaha ritel, restoran, hotel, dan tempat wisata yang sudah terlanjur membayangkan panen pun harus kembali mengubur impian mereka.

Pesimisme yang sempat mencuat di benak sejumlah kalangan bisa dimaklumi. Sebab, pemerintah sempat menjanjikan bahwa ekonomi kuartal III-2020 sudah positif, setelah kuartal II terperosok ke minus 5,32%. Realisasinya masih terkontraksi 3,49%.

Kemudian kuartal IV-2020 pemerintah juga berharap ekonomi bisa positif karena momentum Natal dan libur akhir tahun, nyatanya masih terkontraksi 2,19%. Begitupun di kuartal I-2021, PDB masih negatif 0,74%.

Atas dasar perkembangan itulah, kelompok yang pesimis meyakini bahwa tidak mungkin PDB kuartal II bisa tumbuh 7% sebagaimana diprediksi pemerintah.

Namun perkembangan terakhir, justru para petinggi di pemerintah dan otoritas moneter menyebut bahwa PDB kuartal II ini bisa melampaui 7%, bahkan di atas 8%. Bagaimana bisa?

Optimisme itu diawali oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada Rapat Dewan Gubernur Mei lalu. Melihat indikator terakhir, dia menyatakan, ekonomi kuartal II bisa melebihi 7%. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI akhir Mei lalu bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II bisa menembus 8,3%, dengan kisaran terendah 7,1%.

Hal itu kemudian diperkuat dengan pernyataan Menko Perekonomian Airlangga, di Istana kemarin, bahwa PDB kuartal II bisa melebihi 8%.

Apabila dirinci, pertumbuhan konsumsi rumah tangga diprediksi mencapai 6-6,8% karena momentum Lebaran dan akselerasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Kemudian konsumsi pemerintah ditaksir tumbuh 8,1-9,7% serta kinerja investasi melonjak 9,4-11,1%. Adapun ekspor tumbuh 14,9-19,7%, sedangkan impor tumbuh 13-19,7%.

Jika dicermati perkembangan indicator terbaru, optimisme yang dilontarkan pemerintah dan otoritas moneter tersebut masuk akal. Fakta pertama, harga ko moditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia tengah melambung. Harga mi nyak dunia sekitar US$ 68 per barel, batu bara US$ 99,1 per ton, serta harga minyak sawit mentah terus menembus rekor baru.

Harga tembaga bahkan melampaui US$ 10 ribu per ton, tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

Fakta kedua, indeks manufaktur yang di ukur lewat Purchasing Manager’s In dex (PMI) global mencapai 55,8. Ini me ru pakan angka tertinggi dalam 11 tahun atau sejak April 2010. PMI di Amerika Se rikat tercatat 60,5, Eropa 62,9, Jepang 53,6, Tiongkok 51,9, dan India 55,5. PMI In donesia pada Mei mencapai 55,3 yang menunjukkan adanya ekspansi selama tujuh bulan berturut-turut.

Ketiga, tingkat kepercayaan konsumen di Indonesia naik dari 93,4 menjadi 101,5 per April 2021.

Keempat, konsumsi listrik tum buh 6,3% dari sebelumnya negatif. Kelompok bisnis tumbuh double digit sebesar 15,9% (yoy), menandakan kegiatan bisnis meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh ramainya pusat perbelanjaan seperti mal, pasar, dan pertokoan di bulan Ramadan. Indikator keenam, penjualan mobil ritel hingga tumbuh 227%.

Sementara pertumbuhan produksi dan penjualan mobil grosir masing-masing meroket 322% dan 902%, didorong oleh insentif diskon Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Peran belanja negara sangat signifikan dalam memacu geliat ekonomi kuartal II.

Salah satunya tercermin pada realisasi belanja modal APBN hingga April 2021 mencapai Rp 48,1 triliun atau tumbuh 132,4% dibandingkan periode sama tahun lalu. Belanja ini utamanya dilakukan untuk proyek infrastruktur dasar dan infrastruktur konektivitas, serta pengadaan alutsista. Realisasi dana PEN yang sudah di atas 30% diharapkan mampu mendong krak konsumsi.

Upaya mendorong perekonomian juga dilakukan oleh otoritas moneter dan otori tas keuangan. Bank Indonesia misalnya, terus menyuntikkan likuiditas ke perbankan lewat quantitative easing.

Selama tahun berjalan, BI telah mengguyur likuiditas sebesar Rp 90 triliun. BI juga tetap agresif memborong Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana senilai Rp 108 triliun per 21 Mei, untuk mendukung pembiayaan APBN.

Sementara itu, kebijakan restrukturisasi kredit yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan kian menampakkan hasilnya. Ekspansi kredit mulai terlihat. Korporasi besar yang selama ini mengurangi plafon kredit sudah mulai menambah kredit.

Kemudian kredit sektor tertentu kian menggeliat, seperti kredit properti serta industri makanan minuman. Namun demikian, tren pertumbuhan dan pemulihan ekonomi tersebut bisa saja tertahan apabila pengendalian pandemi Covid-18 gagal.

Pemerintah harus mewaspadai perkembangan kasus positif Covid di sejumlah kota yang cukup mengkhawatirkan, seperti di Kudus, Bangkalan, dan sejumlah kota di Jawa Timur. Meskipun, lonjakan kasus positif nasional yang dikhawatirkan terjadi saat Lebaran kemarin tidak terbukti.

Atas dasar berbagai perkembangan indikator yang positif, kita boleh berharap bahwa akselerasi ekonomi pada kuartal II bakal terjadi. PDB akan tumbuh tinggi, apalagi basis perbandingannya periode kuartal II-2020 sangat rendah.

Semoga apa yang diyakini para pejabat bahwa PDB kuartal II akan melampaui 8% bakal terwujud. Bukan lagi sekadar pernyataan bernada PHP alias pemberi harapan palsu.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN