Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Neraca transaksi berjalan kuartalan

Neraca transaksi berjalan kuartalan

Solidnya Fundamental Ekonomi

Sabtu, 21 November 2020 | 23:25 WIB
Investor Daily

Setelah hampir sembilan tahun mengalami defisit, neraca transaksi berjalan (current account) Indonesia secara kuartalan membukukan surplus.

Pada kuartal III-2020, transaksi berjalan mencatat surplus US$ 964,16 juta atau 0,4% dari produk domestik bruto (PDB), setelah pada kuartal sebelumnya defisit sebesar US$ 2,9 miliar (1,2% dari PDB).

Surplus transaksi berjalan terakhir kali ditorehkan oleh perekonomian Indonesia pada kuartal III-2011, sebesar US$ 766 juta.

Neraca transaksi berjalan tahunan
Neraca transaksi berjalan tahunan

Surplus transaksi berjalan kuartal III-2020 ditopang oleh surplus neraca barang seiring dengan perbaikan kinerja ekspor di tengah masih tertahannya kegiatan impor sebagai imbas permintaan domestik yang belum kuat. Neraca perdagangan selama kuartal III-2020 mencatat surplus hampir US$ 8 miliar. Bahkan selama tahun berjalan, Januari-Oktober 2020, surplus mencapai US$ 17,07 miliar atau setara Rp 240 triliun.

Namun, seiring berkilaunya kinerja neraca barang, neraca jasa sebagai komponen transaksi berjalan justru mengalami peningkatan defisit. Hal itu diakibatkan oleh peningkatan defisit jasa perjalanan karena kunjungan wisatawan mancanegara yang masih rendah.

Juga dipicu oleh peningkatan defisit jasa lainnya seperti jasa telekomunikasi, komputer, dan informasi, seiring peningkatan impor jasa untuk kebutuhan penunjang aktivitas masyarakat yang lebih banyak   dilakukan secara daring selama pandemi Covid-19.

Di lain sisi, transaksi modal dan finansial mencatat penurunan surplus menjadi sebesar US$ 1,0 miliar (0,4% terhadap PDB) dari surplus US$ 10,6 miliar (4,3% terhadap PDB) pada kuartal sebelumnya. Investasi portofolio sepanjang kuartal III-2020 mencatatkan net outflows sebesar US$ 1,9 miliar, setelah net inflows sebesar US$ 9,8 miliar pada kuartal sebelumnya.

Adapun aliran masuk investasi langsung (foreign direct investment/FDI) tetap terjaga sejalan dengan ekonomi domestik yang membaik.

Naraca Pembayaran Indonesia (NPI) Tahunan
Naraca Pembayaran Indonesia (NPI) Tahunan

Secara keseluruhan, neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal III-2020 mencatatkan surplus sebesar US$ 2,1 miliar. Sejalan dengan surplus NPI, posisi cadangan devisa pada akhir September 2020 meningkat menjadi sebesar US$ 135,2 miliar, setara dengan pembiayaan 9,1 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah. Ke depan, performa neraca transaksi berjalan maupun NPI diyakini bakal terus membaik.

Ada sejumlah argument yang dapat menguatkan optimism tersebut. Pertama, impor minyak dan gas (migas) yang selama ini memicu defisit neraca perdagangan terus merosot. Hal itu sejalan dengan kenaikan produksi di sejumlah kilang minyak, di samping dukungan kesuksesan program percampuran bahan bakar nabati ke dalam BBM yang kini disebut program B30.

Kedua, ekspor berpotensi meningkat. Harga komoditas sebagai andalan ekspor Indonesia terus meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi sejumlah negara konsumen setelah bangkit mengatasi pandemi Covid. Selain itu, Joe Biden sebagai presiden baru AS lewat beragam kebijakannya diprediksi akan mengurangi tensi perang dagang AS dengan sejumlah mitra dagang, khususnya Tiongkok. Hal itu otomatis akan menaikkan volume perdagangan global.

Ketiga, berbagai perjanjian perdagangan bebas yang telah dan akan diteken dengan mitra dagang penting juga berpotensi mendongkrak ekspor nasional.

Termasuk Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang pekan lalu ditandatangani Presiden Jokowi. Keempat, hilirisasi produk-produk primer yang mulai menampakkan hasil akan menghasilkan produk nilai tambah sehingga turut menaikkan nilai ekspor. Faktor kelima adalah stabilitas pasar finansial global yang akan mendorong dana-dana global mengalir kembali ke negara pasar berkembang (emerging markets). Indonesia merupakan salah satu destinasi investasi portofolio yang atraktif lantaran imbal hasil yang masih tinggi.

Selain faktor-faktor positif tersebut ada komponen yang menjadi ancaman neraca transaksi berjalan, yakni impor bahan baku dan barang modal.

Ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku dan barang modal masih sangat tinggi. Itulah sebabnya, reformasi struktural termasuk perbaikan struktur industri, khususnya di sektor hulu dan industri dasar, sudah sangat mendesak dilakukan.

Atas dasar itu, Indonesia harus mampu menarik investasi langsung sebesar-besarnya. Bukan hanya investasi asing (PMA), tapi juga investasi domestik (PMDN). Disahkannya Undang- Undang Cipta Kerja diharapkan menjadi terobosan penting dalam mengatasi segala bentuk hambatan investasi yang selama ini dikeluhkan investor, terutama menyangkut perizinan.

Sejauh ini, respons investor global dan berbagai lembaga internasional sangat positif terhadap omnibus law pertama tersebut. Tantangannya kini adalah kecepatan pemerintah menelorkan peraturan turunan yang sangat ditunggu, agar UU Cipta Kerja dapat diimplementasikan dengan baik.

Lebih dari itu, birokrasibirokrasi level bawah di kementerian dan lembaga sebagai ujung tombak pelaksanaan UU Cipta Kerja harus mengubah total mental sehingga benar-benar berperilaku ramah terhadap investor.

Dengan berbagai dukungan faktor positif dan berbagai upaya pembenahan di atas, kita optimistis ke depan mampu mengatasi masalah defisit transaksi berjalan, yang berpuluh tahun menghantui perekonomian nasional. Alhasil, fundamental perekonomian kita pun bakal kian solid.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN