Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sebuah kawasan industri. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

Sebuah kawasan industri. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

Strategi Gaet Investasi

Kamis, 17 September 2020 | 10:27 WIB
Investor Daily

Indonesia masih menjadi Negara tujuan utama para investor yang ingin berekspansi atau membangun pabrik barunya. Daya tarik Indonesia adalah memiliki pasar yang besar dan posisi strategis sebagai pemimpin ekonomi Asean.

Indonesia juga memiliki sumber daya alam yang melimpah dan mampu menjadi pusat manufaktur di kawasan Asean.

Setidaknya ada 143 perusahaan multinasional yang akan merelokasi investasi ke Indonesia. Mereka berasal dari Amerika Serikat (AS), Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, Jepang, dan Tiongkok. Relokasi investasi tersebut berpotensi menyerap tenaga kerja lebih dari 300 ribu orang. Pandemi virus corona atau Covid-19 menjadi per timbangan relokasi investasi perusahaan- perusahaan multinasional.

Pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran berharga bahwa rantai pasok barang (supply chain) tidak bisa terpusat di satu negara. Itu sebabnya, banyak perusahaan multinasional yang mulai relokasi dari Tiongkok ke Negara Asia lain terutama  Asean. Kondisi ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menggantikan posisi Tiongkok sebagai tujuan investasi d a r i hubungan rantai pasok baru di pasar global. Namun, untuk menangkap peluang relokasi invest asi tentu bukan perkara mudah.

Situasi pan demi membuat perekonomi an Indonesia kini menghadapi tekanan baik se cara eksternal maupun internal.

Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi persoalan klasik terkait iklim investasi, persoalan perizinan, serta ketersediaan infrastruktur dan lahan. Semua persoalan klasik ini harus segera dibenahi. Tak hanya itu, Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang berambisi mengundang investor untuk pulih dari krisis. Indonesia harus menghadapi persaingan negara-negara di kawasan yang juga berjuang menarik investasi se banyak-banyaknya.

Di kawasan Asean, Indonesia harus bersaing de ngan Malaysia, Thailand, dan Vietnam, dan bahkan Kamboja dalam upa ya menarik relokasi industri dari Tiongkok.

Tingginya persaingan ini tentunya harus disiasati dengan berbagai strategi kebijakan yang jitu agar Indonesia dapat menjadi tujuan investasi. Pemerintah harus mempersiapkan iklim usaha dan investasi seatraktif mungkin dan seakomodatif mungkin terhadap penciptaan efisiensi dan daya saing usaha di Indonesia.

Jika itu terwujud, Indonesia bisa menjadi basis produksi bagi berbagai industri bernilai tambah yang mampu bersaing secara global. Pemerintah, seperti diutarakan Men teri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam forum diskusi, kemarin, menyiapkan empat strategi dan kebijakan dalam upaya memperbaiki iklim investasi di Indonesia.

Strategi dan kebijakan ini dilakukan karena Indonesia memiliki peluang besar untuk menggantikan posisi Tiongkok sebagai tujuan investasi dari hubungan rantai pasok baru di pasar global.

Strategi pertama yakni segera menyelesaikan pembahasan RUU Cipta Kerja (Ciptaker) dengan DPR RI. Targetnya, RUU ini dapat disahkan pada awal Oktober mendatang.

Dalam RUU Ciptaker terdapat hal-hal yang disasar seperti penciptaan lapangan kerja, peningkatan kompetensi pencari kerja, kesejahteraan pekerja, peningkatan produktivitas kerja serta investasi. Dampak dari kehadiran UU Ciptaker akan terlihat pada tahun depan. Lonjakan investasi yang dipicu UU Ciptaker akan terjadi pada 2021, seiring dengan munculnya berbagai peraturan turunan untuk mengimplementasikan UU tersebut.

Berdasarkan perhitungan BKPM, bila RUU Ciptaker disahkan Oktober, realisasi investasi 2021 akan meningkat 2-3% dibanding kondisi pra- Covid 2019, yang ketika itu mencapai Rp 809,6 triliun. UU Ciptaker yang mendongkrak investasi akan mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi 16,5 juta tenaga kerja. Semenatra itu, BKPM optimistis target realisasi investasi tahun 2020 sebesar Rp 817,2 triliun bisa tercapai.

Dengan investasi sebesar itu, tenaga kerja yang bisa diserap sebanyak 1,2 juta orang. Strategi kedua adalah menyusun daftar prioritas investasi yang tidak hanya dengan pendekatan picking the winners namun juga mencakup bidang-bidang usaha yang akan diberikan fasilitas baik perpajakan maupun nonperpajakan. Kriteria bidang usaha yang akan diberi fasilitas antara lain industri yang berorientasi ekspor, substitusi impor, padat karya, padat modal high-tech dan berbasis digital.

Diharapkan dengan daftar prioritas investasi ini dapat menarik investasi yang bukan hanya besar tapi juga berkualitas dan mampu menciptakan lapangan kerja. Strategi ketiga adalah melakukan pengembangan koridor di sepanjang Pulau Jawa bagian utara dalam rangka penguatan pengembangan industri dan konektivitas transportasi serta logistik.

Koridor Jawa merupakan penyumbang 38,7% dari total produk domestik bruto (PDB) nasional dan 53,56% terhadap total sektor industri nasional. Pengembangan koridor ekonomi di Jawa bagian utara diharapkan dapat mendorong pemanfaatan kawasan industri sebagai pusat pengungkit pertumbuhan ekonomi baru untuk men dukung investasi di sektor industri perdagangan dan jasa.

Tak hanya itu, pengembangan ini juga di harapkan mampu mendongkrak ekspor melalui peningkatan daya saing industri interkoneksi supply chain dan meningkatkan value chain, sekaligus mengintegrasikan kawasan industri dengan sistem pengembangan infrastruktur transportasi dan logistik. Strategi keempat adalah menyusun inisiatif pembangunan superhub sebagai sentra produksi perdagangan teknologi dan keuangan karena saat ini terdapat lima potensi superhub di Indonesia.

Lima potensi superhub ter sebut yakni koridor Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi Utara, Batam- Bintan-Karimun-Tanjung Pinang, kawasan ibu kota negara di Kalimantan Timur, dan kawasan Segitiga Rebana di Jawa Barat. Pengembangan industri berbasis kluster melalui superhub di daerah-daerah tersebut diharapkan bisa meningkatkan pemerataan ekonomi antardaerah.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN