Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Tarif Pulsa Bisa Turun

Gora Kunjana, Sabtu, 23 Juli 2016 | 09:51 WIB

Indonesia adalah pasar yang besar bagi industri telekomunikasi seluler. Jumlah pengguna telepon seluler atau ponsel di Indonesia terus bertumbuh. Hingga kuartal pertama 2016, jumlah kartu SIM yang beredar sudah mencapai 333,61 juta atau melebihi jumlah penduduk yang sebanyak 255 juta jiwa. Namun, data yang dirangkum dari enam operator telekomunikasi itu dengan memperhitungkan satu orang bisa memiliki dua nomor kartu SIM, sehingga angka riilnya sekitar 165 juta pengguna.

 

Tidak hanya pengguna untuk layanan percakapan (voice) dan pengiriman pesan singkat (SMS), pengguna ponsel pintar atau smartphone juga tumbuh pesat. Hal ini seiring perkembangan teknologi informasi dan kebutuhan layanan data.

 

Melalui smartphone, pengguna bisa dengan mudah menikmati berbagai layanan berbasis aplikasi, transaksi secara online atau e-commerce, selain internet. Banyaknya kemudahan yang ditawarkan smartphone inilah yang mendorong lembaga riset digital marketing eMarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang.

 

Dengan jumlah sebanyak itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Lalu, berapa jumlah pengguna internet atau netter di Indonesia? eMarketer memperkirakan populasi netter di Tanah Air mencapai 83,7 juta orang pada 2014. Namun, pada 2017, eMarketer memperkirakan netter Indonesia bakal menembus angka 112 juta, mengalahkan Jepang di peringkat ke-5 yang pertumbuhan jumlah pengguna internet-nya lebih lamban.

 

Dengan gambaran angka-angka tersebut, Indonesia bisa dibilang sebagai raksasa teknologi digital Asia yang sedang tertidur. Para produsen ponsel pintar dan penyedia layanan data berlomba-lomba merebut pangsa pasar di Indonesia, baik dengan mendirikan pabrik di sini ataupun hanya memasarkan produk. Mereka pun berkeyakinan masa depan bisnis mereka ada di Indonesia. Namun, di balik potensi pasar yang terus tumbuh, muncul pertanyaan apakah biaya pulsa di Indonesia –baik untuk percakapan (voice), SMS, ataupun data-- sudah termasuk yang termurah dibandingkan negara-negara lain. Juga muncul pertanyaan, apakah biaya pulsa di Indonesia masih bisa diturunkan lagi mengingat jumlah pengguna ponsel yang masih berpotensi meningkat.

 

Terkait pertanyaan-pertanyaan tersebut, para operator ponsel local sepakat bahwa biaya pulsa di Indonesia termasuk yang termurah dibandingkan negara-negara lain. Apa yang dikemukakan para operator ponsel ini tak jauh berbeda dengan data yang pernah disajikan oleh Frost & Sullivan. Lembaga riset ini memasukkan Indonesia sebagai satu dari lima negara dengan tarif percapakan termurah. Empat negara lainnya adalah Swedia, Thailand, Hong Kong, dan India.

Sementara itu, jika dikaitkan dengan pendapatan rata-rata penduduk, International Telecommunications Union (ITU) mencatat, negara dengan tarif layanan ponsel termahal adalah Malawi. Pengguna ponsel di negara Afrika ini harus merogoh kocek rata-rata US$ 12 ribu per bulan atau setara dengan 56,29% dari total pendapatan rata-rata per bulan.

 

Dengan kata lain, pengguna ponsel di negara tersebut menghabiskan lebih dari separuh pendapatannya per bulan untuk membeli pulsa. Di sisi lain, penduduk Makau (Tiongkok) menikmati tarif layanan ponsel termurah, rata-rata 0,11% dari total pendapatan per bulan.

 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan biaya pulsa mahal. Salah satunya adalah sistem roaming yang menyebabkan pengguna ponsel harus membayar untuk setiap panggilan masuk. Selain itu, ketersediaan infrastruktur yang kurang memadai dan jaringan telepon yang tidak bagus juga menjadi penyebab mahalnya biaya pulsa.

 

Mahalnya biaya pulsa juga dipicu oleh masih tingginya tarif interkoneksi atau off-net, yakni beban biaya yang harus dibayarkan oleh satu operator ke operator lain saat pelanggan melakukan sambungan telepon ke nomor lain di jaringan operator berbeda. Karena itu, tidak heran bila pelanggan kurang aktif dalam melakukan komunikasi percakapan ke pelanggan yang menggunakan nomor dari operator berbeda.

 

Sejumlah operator ponsel lokal juga berargumen, harga yang dibayar pengguna ponsel terkandung berbagai beban biaya untuk dapat menyediakan layanan yang bisa dinikmati pelanggan, di antaranya biaya promosi, biaya produksi, biaya distribusi, interkoneksi, dan biaya lainnya. Artinya, penurunan harga pulsa harus mempertimbangkan banyak hal.

 

Para operator boleh-boleh saja berargumen seperti itu, tapi faktanya bahwa jumlah pengguna ponsel di Indonesia masih bertumbuh. Jadi, desakan agar biaya pulsa masih bisa diturunkan dari saat ini, rasanya tidaklah berlebihan. Dengan jumlah pelanggan yang terus bertambah, operator masih bisa meningkatkan volume penjualan. Artinya, operator masih bisa menikmati untung meski tarif pulsa sedikit diturunkan.

 

Kita juga mengingatkan para operator agar bersikap fair ketika menetapkan tarif layanan suara antarjaringan operator (off-net) dan tarif sesama dalam satu jaringan (on-net). Operator jangan menetapkan tarif off-net yang terlalu tinggi atau terlalu mahal dari tarif on-net, karena hal itu akan merugikan konsumen dan juga operator lain. Persaingan sesama operator tidak boleh merugikan konsumen, tapi justru sebaliknya, konsumen mendapatkan keuntungan karena harga yang makin murah dan layanan yang makin prima. (*)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA