Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
IHSG. Foto ilustrasi: IST

IHSG. Foto ilustrasi: IST

Time to Buy

Senin, 20 Mei 2019 | 09:24 WIB

Semuanya sudah terjadi. Harga saham berguguran di berbagai bursa dunia. Kejatuhan harga saham terdalam terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Para investor terperangah. Ibarat pesepak bola yang mati langkah. Mereka hanya bisa melongo melihat harga saham berguguran. Harga saham “nyangkut” di atas. Para investor terlambat melepas sahamnya sebelum harga terjun bebas.

Itulah situasi yang sudah terjadi. Yang tertinggal adalah kecemasan para pemodal. Akankah indeks yang sudah menembus level 6.000 akan terus tergerus hingga 5.500 dan menembus level psikologis baru, 5.000? Pertanyaan ini wajar saja. Karena harga saham mereka sudah “nyangkut” di atas dan jarum jam tak bisa diputar kembali.

Menjual saham pada harga yang sudah turun terlalu tajam sama dengan bunuh diri bagi sebagian pemodal. Untuk menerapkan strategi cost dollar averaging, dana tidak cukup. Mereka hanya pasrah melihat “pisau” yang sedang jatuh, tanpa tahu kapan menghunjam lantai. Para maestro di bidang saham selalu berpesan, “Jangan pernah menangkap pisau yang sedang jatuh jika tak mau tanganmu terluka.”

Bagi yang punya duit, ini adalah momentum atau time to buy. Dengan menerapkan strategi dollar cost averaging, saham-saham berkinerja bagus yang sudah jatuh tersungkur boleh dikoleksi sedikit demi sedikit. Duit di tangan tak perlu dihabiskan sekaligus, tapi dibelanjakan bertahap. Sebab, tak seorang pun tahu persis kapan harga saham mencapai the bottom.

Banyak saham berkinerja bagus dan berprospek cerah kini harganya sudah turun jauh di bawah nilai wajar. Sahamsaham undervalued ini sudah saatnya dikoleksi. Bagi yang punya dana, saat ini adalah time to buy dengan menerapkan strategi dollar cost averaging. Meski kini harga saham terpuruk mengikuti sentimen negatif para investor, prospek ekonomi Indonesia cukup cerah. Emiten yang sahamnya tercatat di BEI umumnya masih meraih laba. Jika pada tahun 2018, laba emiten ratarata naik 8,8%, tahun ini, laba emiten diyakini meningkat di atas 10%.

Salah satu indikator adalah ekspansi kredit perbankan yang diperkirakan melaju di atas 11% tahun ini. Itu berarti banyak sektor usaha yang bertumbuh, di antaranya sektor infrastruktur, telekomunikasi, dan berbagai industry berbasis konsumsi. Bank besar, terutama bank BUKU IV dan sebagian bank BUKU III akan membukukan laba besar. Hingga saat ini, saham perbankan memberikan return tinggi kepada para pemodal.

Pada perdagangan saham di BEI, Jumat (17/5/2019), indeks ditutup di level 5.826, terpangkas 1,168% disbanding sehari sebelumnya. Dihitung dari harga penutupan, Desember 2018, year to date, indeks turun 5,93%. Selama Mei 2019, IHSG terjungkal 9,75%. Namun, jika dihitung dari level tertinggi, 6 Februari 2019, IHSG terkikis 11%. Pada saat itu, indeks mencapai 6.547. Asing lebih banyak menjual daripada membeli.

Sejak Januari, net selling mencapai Rp 2,89 triliun. Data statistik BEI menunjukkan, net buying Rp 52 triliun. Itu lebih disebabkan oleh pembelian saham PT Danamon Tbk sebesar Rp 52 triliun oleh Tokyo Mitsubishi. Jika data pembelian ini tidak dihitung, transaksi asing sudah mencatat net selling.

Di pasar saham Indonesia, pemodal lokal biasanya mengikuti gerak investor asing. Jika asing berbelanja, pemodal lokal itu membeli. Asing menjual, lokal ikut melepas. Ketika trade war dan isu global lainnya yang tidak menguntungkan Indonesia, asing menjual.

Lokal pun ikut menjual. Demikian pula pada saat The Federal Reserve (Fed) menaikkan suku bunga acuan. Lokal ikut menjual saham. Isu negatif tentang kinerja ekonomi Indonesia juga membuat asing hengkang. Laju pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2019 yang hanya 5,07% memaksa asing melepaskan sahamnya. Demikian pula dengan melebarnya defisit neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan serta defisit fiskal.

Tapi, ada juga aktivitas investor lokal yang diikuti oleh asing. Ketika pemodal lokal wait and see untuk masuk pasar karena faktor politik, asing terpaksa mengikuti. Asing ikuti keputusan pemodal lokal dengan asumsi investor domestik lebih paham kondisi bangsa dan negaranya.

Manakah faktor paling dominan yang merontokkan harga saham, global atau domestik? Sebagai orang Indonesia sudah saatnya kita tidak terus-menerus mengkambinghitamkan faktor global. Benar bahwa perkembangan global mempengaruhi ekonomi Indonesia. Juga fakta bahwa trade war –yang dipicu sikap Presiden AS Donald Trump-- dan kebijakan suku bunga bank sentral AS mempengaruhi pasar saham Indonesia Namun, ada faktor domestik yang juga menentukan.

Daripada sibuk menuduh global sebagai bidang kerok, sebaiknya, kita sebagai bangsa melaksanakan pekerjaan rumah kita. Defisit perdagangan dan neraca transaksi berjalan perlu segera ditutup. Industri dalam negeri harus dibangun dengan sistematis. Iklim investasi dibenahi dan laju pertumbuhan ekonomi didongkrak. Politik “bunuh diri” dengan mendelegitimasi KPU dan hasutan untuk melakukan people power harus dihentikan.

Para pemegang otoritas perlu memberikan pernyataan yang menyejukkan dan membangkitkan harapan. Para pemegang otoritas fiskal dan jasa keuangan jangan ikut pesimistis. Meski di bawah target, ekonomi Indonesia bertumbuh. Konsumsi dalam negeri yang cukup besar akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan laba emiten hingga di dua digit. Penurunan harga saham di BEI perlu ditahan dengan mulai membeli saham-saham berkinerja bagus dan berprospek cerah. Harga saham-saham itu sudah cukup murah seperti tercermin pada PER.

Kini time to buy dengan menerapkan dollar cost averaging, membeli sedikit demi sedikit. Saatnya pemodal lokal menyelamatkan pasar modal Indonesia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA