Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Tingkatkan Free Float Saham

Jumat, 30 Oktober 2020 | 08:59 WIB
Investor Daily

Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan ketentuan mengenai insentif kepada para emiten agar mau menambah jumlah saham yang beredar di publik atau free float. Tujuan dari ketentuan ini adalah untuk meningkatkan likuiditas pasar saham.

BEI sudah mengajukan usulan insentif itu kepada Kementerian Keuangan dan kini menunggu persetujuan atas usulan tersebut. BEI berharap ada insentif pajak yang bisa diberikan pemerintah kepada emi ten dengan free float di bawah 40%.

Sedangkan emiten yang memiliki free float 40% sudah bisa mendapatkan insentif potongan pajak penghasilan (PPh) badan sebesar 3%. Ketentuan mengenai diskon tarif ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 30 tahun 2020.

Sambil menunggu persetujuan dari Kementerian Keuangan, BEI pun meran cang bentuk-bentuk insentif dari sisi pasar modal. Salah satunya berupa pengurangan biaya pencatatan tahunan atau annual listing fee dan lainnya. BEI sudah memberikan dorongan kepada para emiten yang belum memenuhi batas ketentuan free float 7,5%. Jumlah emiten di kelompok ini diperkirakan tidak lebih dari enam perusahaaan. Mereka pun sudah menyampaikan rencana aksi korporasi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Emiten yang sedang berupaya memenuhi batas minimum free float 7,5% adalah PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN) melalui rights issue dengan target realisasi pa ling lambat akhir tahun ini. Perseroan te lah melakukan persiapan rights issue seperti menunjuk lembaga dan profesi penunjang pasar modal.

Selain itu, ada PT Golden Energy  Mines Tbk (GEMS) yang telah meraih restu pemegang saham sejak Agustus 2020. Namun, perseroan baru berniat melaksanakan rights issue untuk memenuhi ketentuan free float pada semester I-2021. Kalangan pelaku pasar modal menilai sudah saatnya BEI meningkatkan batas minimun free float sebesar 7,5% menjadi sekitar 10-15%.

Pasalnya, saat ini banyak saham emiten dengan fundamental ba gus yang jumlah saham publiknya memenuhi ketentuan, namun punya potensi diminati investor jika free floatnya bertambah.

Contoh aksi penambahan free float yang diminati investor dan menggerak kan pasar saham adalah PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Pada 2015, emiten produsen rokok ini menggelar aksi penerbitan saham baru melalui skema rights issue dengan nilai Rp 20,7 triliun untuk menambah saham beredar dari hanya 1,8% menjadi 7,6%. Ketika itu, saham baru tersebut diserbu oleh investor domestik dan luar negeri.

Di sisi lain, ada juga sejumlah emiten me miliki porsi saham publik yang menjadi minim setelah menggelar aksi korporasi. Misalnya kepemilikan publik atas saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) hanya tersisa sekitar 1,29% setelah Bangkok Bank Pcl mengakuisisi perseroan dan melakukan tender wa jib atas saham perseroan. Setelah penawaran tender wajib, total saham yang dimiliki Bangkok Bank di Bank Per mata menjadi 27,68 miliar saham yang mewakili 98,71% dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Sementara itu, kepemilikan publik atas saham PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS) bakal terdilusi hingga menjadi 4,4% dari saat ini 18,47% setelah aksi penggabungan atau merger dengan Bank Syariah Mandiri dan BNI Syariah. Merger tiga bank syariah BUMN ini dijadwalkan efektif pada 1 Februari 2021.

Bagi emiten, insentif akan menjadi pemanis tambahan dari sejumlah insentif yang sudah dikeluarkan regulator dan otoritas bursa. Sebelumnya, otoritas bursa telah menginisiasi berbagai stimulus dan relaksasi untuk para stakeholder pasar modal seperti relaksasi batas waktu penyampaian laporan keuangan tahunan, kebijakan public expose secara elektronik, buyback saham, pengurangan biaya ILF Pencatatan Awal Saham dan Saham Tambahan di Bursa Efek Indonesia sebesar 50% hingga kebijakan terkait pajak yaitu be rupa penurunan tarif PPh Badan. Free float saham emiten penting bagi investor karena menyajikan data seberapa tinggi peluang fre kuensi tran saksi dan volatilitas saham tersebut.

Peningkatan jumlah saham publik tentunya akan berdampak mendongkrak likuiditas. Jika free float sahamnya rendah maka kecenderungannya saham emiten tersebut kurang likuid atau transaksinya jarang dan volatilitasnya bisa saja ekstrem. Sedangkan saham yang free float-nya banyak maka jumlah frekuensi transaksinya cenderung tinggi namun tidak terlalu volatil. Kita berharap aturan insentif yang disiapkan BEI ini dapat mendorong para emiten untuk meningkatkan free floatnya dari sekadar pemenuhan minimal ke wajiban saat ini.

Namun, rencana otoritas bursa meningkatkan free float akan berhadapan dengan kepentinganpara pemegang saham pengendali emi ten. Biasanya, pemegang saham pengendali sudah puas dengan dividen yang diperoleh setiap tahun. Mereka cen derung kurang peduli terhadap jumlah saham beredar di publik maupun volatilitasnya. Apalagi free float tidak ada kaitannya dengan fundamental suatu emiten. Selain itu, belum tentu yang free float-nya kecil maka sahamnya jelek, begitu juga sebaliknya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN