Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Donald Trump.

Donald Trump.

Trump Kembali Tebar Ancaman

Senin, 13 Mei 2019 | 09:00 WIB

Kemajuan teknologi digital telah membuat ancaman datang secepat kilat dan berdampak signifikan. Dengan sekali tweet, Minggu (5/5/2019), Donald Trump merontokkan harga saham di berbagai bursa saham dunia. Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia (BEI) terjungkal. Pasar khawatir, kebijakan presiden AS itu akan memicu perang dagang serius dengan RRT dan dampaknya akan meluas ke berbagai negara, termasuk negara pasar berkembang.

Trump mengancam untuk menaikkan bea masuk (BM) 10% ke 25% bagi produk Tiongkok senilai US$ 200 miliar. Sempat mereda, ancaman itu kembali ditebar melihat derasnya produk impor dari RRT. Selama 2018, AS menderita defisit dalam perdagangan dengan RRT sebesar US$ 419 miliar. Paman Sam hanya mampu mengekspor US$ 120 miliar ke Tiongkok. Sedang negeri Tirai Bambu mampu mengekspor US$ 540 miliar ke AS.

Perlahan tapi pasti, RRT kian kokoh di bidang teknologi. Ekspor utama Tiongkok ke AS adalah komputer dan produk ikutannya, smartphone, baja, dan pakaian. Sedangkan ekspor AS ke Tiongkok adalah kacang kedelai, daging, pesawat, dan otomotif.

Ancaman perang dagang yang ditebar tahun lalu sesungguhnya sudah mereda di awal tahun ini. Trump mengisyaratkan untuk tidak merealisasikan ancaman dan hanya meminta Tiongkok memperhatikan asas resiprositas atau ketimbalbalikan. Hubungan dagang kedua Negara harus saling menguntungkan. Tapi, melihat perkembangan yang tidak menguntungkan AS, Trump kembali menebar ancaman.

Kali ini, ia berencana menaikkan BM dari 5% ke 25% bagi sejumlah mata barang dengan nilai US$ 200 miliar dan BM 35% untuk mata barang lainnya. Cuitan yang hanya terdiri atas 102 kata itu merontokkan harga saham di berbagai bursa dunia hingga US$ 1,3 triliun dalam sepekan.

Akankah Trump segera merealisasikan ancamannya? Bisa jadi, ya. Tapi, banyak pengamat berpendapat, ancaman presiden AS itu adalah bagian dari deal process. Sebagai deal maker, Trump tahu persis cara efektif untuk mencapai kesepakatan dagang yang saling menguntungkan. Impor produk Tiongkok membantu konsumen AS, tapi pada saat yang sama membunuh industri negeri itu.

Cuitan Trump dan dampaknya terhadap pasar saham dunia memadamkan isu positif di dalam negeri. Penurunan angka pengangguran, surplus neraca perdagangan, dan kenaikan surplus neraca pembayaran seakan tidak berarti. Para pelaku pasar khawatir, Trump bakal merealisasikan janjinya.

Ekonomi Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi AS. Pada awal tahun, sentiment pasar positif melihat perkembangan ekonomi Paman Sam. Membaiknya ekonomi AS memaksa bank sentral negeri itu untuk menghentikan penaikan suku bunga acuan, fed fund rate (FFR). Kedua, Trump mengisyaratkan untuk tidak merealisasikan kenaikan tarif BM terhadap produk Tiongkok.

Sebagai bagian dari ekonomi global, Indonesia tak bisa terhindar dari dampak kebijakan ekonomi negara maju, apalagi negara dengan kekuatan ekonomi besar seperti AS. Selama dolar AS menjadi mata uang dunia yang paling banyak digunakan dalam transaksi, kebijakan The Fed masih sangat menentukan. Ketika FFR dinaikkan, investasi akan mengalir ke AS.

AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST
AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST

 

Perang dagang AS vs Tiongkok berdampak langsung terhadap neraca perdagangan dan industri Indonesia. Produk RRT yang tak masuk ke AS akan mengalir deras ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Baja, misalnya, termasuk yang hendak dikenakan BM tinggi oleh AS. Jika 1% saja produk baja RRT dialihkan ke Indonesia, negeri ini akan kewalahan.

Produksi baja RRT tahun 2018 sebanyak 928 juta ton. Satu persen setara 9,3 juta ton, sedang produksi baja Indonesia hanya 5,5 juta ton. Masuknya baja Tiongkok akan membuat PT Krakatau Steel Tbk dan perusahaan sejenis gulung tikar. Dengan jumlah produksi yang besar, Tiongkok berani jual murah baja.

Agar tidak terlalu rentan terhadap kebijakan ekonomi AS dan gejolak ekonomi dunia, Indonesia perlu memperkuat produksi dan pasar dalam negeri. Kampanye “Cinta Produk Dalam Negeri” perlu lebih digencarkan. Semua kementerian dan instansi pemerintah, pusat hingga daerah wajib membeli produk lokal. Tapi, pada saat yang sama, industri lokal wajib meningkatkan kualitasnya.

Perusahaan yang membutuhkan baja, misalnya, harus memprioritaskan pembelian baja yang diproduksi dalam negeri. Dengan jumlah pemesanan yang terus meningkat signfikan, perusahaan baja memiliki cukup dana untuk memperbaiki kualitas. Cara inilah yang ditempuh Jepang, Korsel, dan RRT.

Jika gerakan cinta produk local meluas dan terus meningkat, industri dalam negeri akan bertumbuh sehat. Surplus neraca perdagangan akan membesar, defisit neraca transaksi berjalan akan menurun, dan investasi asing akan mengalir lebih deras ke Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang sudah menembus 265 juta, Indonesia memiliki pasar yang kuat.

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN