Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petuga medis melakukan tes usap (swab test).  Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

Petuga medis melakukan tes usap (swab test). Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

Utamakan Kesehatan, Gerakkan Ekonomi

Selasa, 15 September 2020 | 09:24 WIB
Investor Daily

Kesehatan merupakan prioritas sekarang. Penanganan pandemic yang baik dan cepat merupakan kunci agar orang bisa kembali beraktivitas dengan aman. Bila jumlah penderita Covid-19 segera bisa diturunkan, masyarakat pun merasa lebih aman dan percaya diri untuk berbelanja maupun investasi, sehingga otomatis mendorong pemulihan ekonomi. Itu sebabnya, semua kebijakan pemerintah harus diprioritaskan untuk upaya maksimal menghentikan pandemi.

Selain memberlakukan kewajiban menjaga jarak dan protokol kesehatan yang lain, pemerintah juga harus mempercepat tes Covid-19 secara massal, tracing, dan isolasi penderita yang tentunya membutuhkan biaya besar.

Tes PCR swab Covid-19 harus dipercepat di Tanah Air, agar ada pemetaan dan penanganan pasien serta isolasi penderita yang lebih baik. Ini agar penularan bisa dicegah dan jumlah korban tidak bertambah.

Dengan sekitar 272,1 juta penduduk,tes di Indonesia baru 1,57 juta orang atau belum sampai 6.000 per 1 juta penduduk kemarin. Ini berarti belum sampai 1% dari total populasi kita.

Sementara itu, tetangga seperti Singapura yang penanganan Co vid-19-nya dini lai lebih bagus mi salnya, sudah lebih dari 172.502 tes per satu juta pen duduk atau 17%.

Demikian pula tracing atau penelusuran penderita Covid-19 di tingkatkan. Ini tentunya juga harus didukung teknologi dan pembuatan aplikasi yang mampu memantau pergerakan penderita positif Covid-19 dan mencegah penularan ke orang lain di sekitar.

Selain itu, pemerintah perlu memberlakukan isolasi penderita Covid-19 di seluruh Indonesia, di tempat khusus yang aman dan layak, termasuk menggunakan hotel bintang satu dan dua yang ditunjuk untuk tempat isolasi yang dibayar pemerintah. Namun, di sisi lain, pasien juga harus diperbolehkan untuk memilih hotel bintang tiga ke atas dengan membayar sendiri, asalkan sesuai dengan standar isolasi. Kapasitas medis juga harus ditingkatkan, dengan merekrut perawat dan dokter-dokter yang baru.

Selain itu kapasitas bed ICU ditingkatkan untuk pengobatan intensif.  Dalam pelaksanaan protokol kesehatan, tentunya, juga tidak cukup hanya menjaga jarak dan menghindari kerumunan, tapi juga harus meningkatkan penggunaan masker dan cuci tangan yang baik. Penggunaan masker setidaknya harus dinaikkan hingga  0% penduduk.

Untuk produksi masker dilakukan dengan melibatkan usaha mikro, dengan dilatih dan dibina oleh Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kesehatan serta dinas terkait, agar bisa sesuai standar nasional Indonesia (SNI). Bahan bakunya juga disediakan pemerintah. Produksi masker untuk 80% penduduk ini tak sampai menghabiskan dana Rp 5 triliun.

Demikian pula untuk produksi hand sanitizer, bahan bakunya seperti alcohol yang dibuat di dalam negeri juga ha rus disediakan oleh pemerintah. Usaha mikro atau ibu-ibu diajarkan ca ra membuatnya sesuai standar kesehatan, sehingga penduduk desa pun bisa membuatnya dan ekonomi daerah bergulir.

Semua upaya itu tentu membutuhkan biaya besar, tapi dananya bisa ambil dari anggaran stimulus penanganan Covid-19 yang masih banyak belum terserap. Realisasi untuk sektor kesehatan ini baru 31,6% (Rp 27,66 triliun) yang terserap dari pagu Rp 87,55 triliun tahun 2020, dari total anggaran stimulus penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional Rp 695,2 t r i l iun dalam APBN 2020.

Selain itu, kecuali untuk bantu an sosial yang memang perlu dikucurkan setiap bulannya, maka dana-dana pemulihan ekono mi nasional yang lain harus dige lontorkan lebih cepat.

Apalagi, meski sudah membaik, dari total anggaran penanganan Covid-19 dan PEN senilai Rp 695,2 triliun da l am APBN 2020, baru 34,1% atau Rp 237 triliun yang diserap hingga mendekati akhir kuartal III ini.

Dari lima sektor yang mendapat stimulus pemulihan ekonomi nasional, hingga kemarin, program untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) realisasinya 91,43% atau senilai Rp 112,87 triliun dari pagu anggaran Rp 123,46 triliun tahun ini.

Untuk perlindungan sosial mencapai 60,81% atau senilai Rp 128 triliun dari pagu anggaran Rp 203,9 triliun, dan untuk pos sektoral yang ada di kementerian/ lembaga dan pemerintah daerah penyerapannya 27,68% atau Rp 29,37 triliun dari pagu anggaran Rp 106,11 triliun.

Sedangkan realisasi anggaran untuk insentif usaha yang sebesar Rp 120,61 triliun dan pembiayaan korporasi yang anggarannya sebesar Rp 53,57 triliun masih banyak yang belum direalisasikan.

Itulah sebabnya, dana pemulihan ekonomi yang lain harus dipercepat percairannya. Dengan demikian, kegiatan usaha rakyat segera bangkit kembali dan ekonomi pulih.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN