Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Orang-orang mengenakan masker pelindung saat berada di luar stasiun kereta api Beijing, Tiongkok, pada 22 Januari 2020. Tiongkok mengingatkan bahwa virus baru yang telah menewaskan sembilan orang, menginfeksi ratusan orang dan mencapai Amerika Serikat, dapat bermutasi dan menyebar. ( Foto: NICOLAS ASFOURI / AFP )

Orang-orang mengenakan masker pelindung saat berada di luar stasiun kereta api Beijing, Tiongkok, pada 22 Januari 2020. Tiongkok mengingatkan bahwa virus baru yang telah menewaskan sembilan orang, menginfeksi ratusan orang dan mencapai Amerika Serikat, dapat bermutasi dan menyebar. ( Foto: NICOLAS ASFOURI / AFP )

Virus Korona dan Pariwisata

Investor Daily, Selasa, 28 Januari 2020 | 12:04 WIB

Jangan remehkan sebaran Virus Korona yang mematikan dan telah merenggut lebih dari 80 jiwa serta menginfeksi 2.700-an orang di seluruh Tiongkok. Bukan hanya dari sisi kesehatan karena virus ini telah menyebar ke belasan negara, tapi dampak ekonomi yang ditimbulkannya.

Setidaknya enam negara berniat mengevakuasi seluruh warganya yang tinggal di wilayah terjangkit Virus Korona, khususnya di titik awal munculnya patogen berkode 2019- nCoV itu di Wuhan, Provinsi Hubei. Amerika Serikat, Prancis, Jepang, Rusia, Korea Selatan, Sri Lanka sudah mulai memulangkan ribuan warga karena takut terpapar virus.

Bukan cuma itu. Virus ganas ini telah menyebar ke 13 negara dengan korban terinfeksi 50 orang lebih. Negara- negara tersebut adalah Kanada, Jepang, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, Vietnam, Nepal, Prancis, dan Australia.

Pemerintah RRT telah melakukan serangkaian langkah serius, termasuk larangan kunjungan ke berbagai destinasi wisata di Negeri Tirai Bambu itu. Biro-biro perjalanan di Tiongkok telah membatalkan berbagai paket wisata ke luar negeri. Demikian pula hampir seluruh negara juga membatalkan paket wisata ke Tiongkok, tak terkecuali agen perjalanan dan operator wisata di Indonesia. Jika banyak negara sudah membuat berbagai skenario pencegahan agar virus itu tidak masuk ke negaranya, bagaimana dengan Indonesia?

Ratusan calon penumpang mengenakan masker pelindung antre di aula keberangkatan stasiun kereta Kowloon Barat di Hong Kong, Kamis (23/1/2020). Foto: Philip FONG / AFP
Ratusan calon penumpang mengenakan masker pelindung antre di aula keberangkatan stasiun kereta Kowloon Barat di Hong Kong, Kamis (23/1/2020). Foto: Philip FONG / AFP

Sejauh ini, pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan, pengelola bandara, dan pengelola pelabuhan telah melakukan pengawasan dan deteksi di berbagai pintu gerbang kedatangan wisatawan mancanegara (wisman). Pemerintah juga sudah menyerukan ke pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten dan kota untuk mewaspadai penyebaran virus ini.

Namun, langkah-langkah tersebut dirasa belum memadai. Kementerian Kesehatan bersama instansi terkait perlu menjelaskan protokol-protokol pencegahan Virus Korona masuk ke wilayah RI serta penanggulangannya bila virus itu sudah masuk ke negeri ini.

Pemerintah harus segera menyusun dan mensosialisasikan langkah-langkah pencegahan dan penanganan Virus Korona ke pemda- pemda sesuai protokol pencegahan dan penanganan nasional. Khusus Indonesia, perlu kewaspadaan yang ekstra tinggi. Hal ini mengingat Indonesia kini memiliki hubungan kerja sama yang kian erat dengan Tiongkok, terutama dalam hal ekonomi, investasi, serta lalu lintas perdagangan yang tinggi. Nilai perdagangan Indonesia dan RRT terus meningkat.

Kondisi itu tentu dibarengi dengan mobilitas manusia dengan intensitas tinggi antara kedua negara. Artinya, potensi penyebaran virus itu ke Indonesia akan lebih tinggi.

Dampak virus itu bukan semata masalah kesehatan, namun juga dari aspek ekonomi. Pasar saham merupakan korban yang kini ‘terinfeksi’ Virus Korona. Isu Korona telah menimbulkan ketakutan investor, sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Senin (27/1), longsor hingga 110,9 poin atau 1,78% ke level 6.133,3.

Korban kedua adalah industri pariwisata. Dalam jangka pendek, kunjungan wisatawan asal Tiongkok ke Indonesia pasti akan turun drastis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tiongkok menjadi penyumbang kunjungan wisman terbesar kedua di Indonesia. Sepanjang Januari-November 2019, kunjungan wisman dari RRT mencapai 1,92 juta kunjungan atau 12,87% dari total wisman ke Indonesia.

Mayoritas mereka berkunjung ke Bali. Ancaman penurunan kunjungan wisman asal Tiiongkok tentunya tak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi, pariwisata semakin diandalkan sebagai tambang devisa untuk menutup defisit transaksi berjalan kita yang kronis.

Itulah sebabnya, berkurangnya turis RRT harus dikompensas Hal itu antara lain disiasati dengan mengejar perolehan devisa melalui peningkatan kunjungan wisatawan premium yang memiliki spending tinggi.

Wisatawan premium yang sangat potensial selama ini berasal dari Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Rusia. Dengan strategi itu, target devisa US$ 20 miliar devisa pariwisata yang diincar pemerintah tahun ini diharapkan bisa terpenuhi.

Kita optimistis bahwa Indonesia memiliki modal berlimpah untuk mendongkrak sektor pariwisata sebagai lokomotif ekonomi. Bukan hanya alam yang memesona, tapi juga keindahan dan keragaman budaya, keramahan para penduduknya, juga berbagai event yang digelar sehingga mampu menjaring wisatawan.

Namun modal itu perlu dibarengi dengan berbagai pembenahan, antara lain perbaikan dari sisi infrastruktur penunjang pariwisata, baik transportasi, telekomunikasi, energi dan sebagainya. Aspek kebersihan dan ramah lingkungan harus diprioritaskan, karena itu menjadi pusat perhatian wisman.

Selain itu, penguatan sumber daya manusia (SDM) pariwisata sangat mendesak. Paket-paket promosi pariwisata yang kreatif dan atraktif terutama ke mancanegara harus dilakukan lebih agresif. Dengan berbagai strategi tersebut, kita yakin Indonesia mampu mengejar ketertinggalan di sektor pariwisata dengan negara-negara tetangga. Pariwisata yang boleh dikata tak kenal krisis ini akan menjadi penyelamat ekonomi nasional, setidaknya dapat memperbaiki defisit transaksi berjalan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA