Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden AS Donald Trump saat berpidato di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pada 21 Januari 2020. ( Foto: JIM WATSON / AFP )

Presiden AS Donald Trump saat berpidato di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pada 21 Januari 2020. ( Foto: JIM WATSON / AFP )

WEF 2020

Investor Daily, Rabu, 22 Januari 2020 | 12:04 WIB

Perhelatan akbar World Economic Forum (WEF) atau Forum Ekonomi Dunia kembali digelar di Davos, Swiss, 21-24 Januari 2020. Pertemuan tahunan ini dihadiri sekitar 3.000 peserta dari hampir 120 negara, 53 kepala Negara dan pemerintahan termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, hampir 1.700 petinggi bisnis, dan sejumlah CEO perusahaan terbesar dunia. Mereka akan terlibat di lebih dari 350 sesi dan loka karya. Tema per temuan WEF yang memasuki tahun emasnya ini adalah ”pemangku kepentingan dunia yang kohesif dan berkelanjutan”.

Pertemuan WEF tahun ini agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selama empat hari para peserta WEF akan mendiskusikan isu panas soal bahaya perubahan iklim terhadap lingkungan, selain perekonomian global. Tema perubahan iklim dipilih karena saat ini dunia sedang bergulat dengan ancaman pemanasan global yang kian parah.

Pertemuan tahunan WEF sering mendapat kritikan karena memproduksi emisi karbon, utamanya yang dihasilkan oleh para pemimpin dunia yang datang dengan jet pribadi. Namun, WEF mengklaim bahwa pertemuan tahun ini akan menjadi salah satu pertemuan tingkat tinggi internasional paling berkelanjutan yang pernah dihelat.

WEF berjanji untuk membeli kredit karbon untuk mengimbangi penerbangan, menyediakan lebih banyak kendaraan listrik, dan menyajikan makanan-makanan lokal.

Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama Founder & Executive Chairman WEF Kalus Schwab. Foto: Fabrice COFFRINI / AFP)
Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama Founder & Executive Chairman WEF Kalus Schwab. Foto: Fabrice COFFRINI / AFP)

Sebanyak 88% kendaraan yang digunakan dalam WEF adalah kendaraan listrik atau hibrida. WEF juga berencana untuk meluncurkan program penanaman 1 triliun pohon dengan skema pendanaan publik maupun pihak swasta. Bahkan, panitia WEF menawarkan para peserta untuk menggunakan shoe grips (alas sepatu dari karet antislip), agar mereka bisa berjalan di jalan bersalju, sebagai pengganti naik mobil.

Perhelatan WEF mengangkat tema perubahan iklim bukan tanpa sebab. Sang pendiri WEF, Klaus Schwab, pun mengakui bahwa dunia sedang menghadapi keadaan darurat. WEF tidak ingin dunia mencapai titik kritis di mana perubahan iklim tidak dapat dihindari. WEF juga tidak ingin generasi berikutnya mewarisi dunia yang menjadi semakin tidak bersahabat dan semakin tidak layak huni, seperti kasus kebakaran hutan di Australia.

Sejalan dengan tema perhelatan WEF tahun ini, sebuah survei risiko tahunan yang diterbitkan oleh forum dunia ini menempatkan iklim dan ancaman lingkungan lainnya di atas risiko yang ditimbulkan oleh ketegangan geopolitik dan serangan siber. Ini adalah pertama kalinya survei menunjukkan bahwa lima risiko jangka panjang teratas adalah soal masalah lingkungan, mulai dari peristiwa cuaca ekstrem hingga pelaku bisnis dan pemerintah yang gagal memitigasi dan beradaptasi dengan perubahan iklim.

Mengutip pernyataan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) António Guterres saat membuka Conference of Parties (COP) ke-25 di Madrid pada 2 Desember tahun lalu, dunia saat ini menghadapi situasi darurat iklim (climate emergency) yang ditandai dengan tingginya suhu permukaan bumi, pemanasan global, dan anomaly cuaca. Menurut Guterres, para pemimpin dunia memiliki dua pilihan, yaitu tetap bertahan pada cara-cara lama yang membiarkan pemanasan global dan dampak perubahan iklim berlangsung kian parah, atau mulai meninggalkan seluruh kegiatan yang membahayakan keberlangsungan bumi.

Sementara itu, laporan tahunan Program Lingkungan PBB (UNEP) menyebutkan, untuk memenuhi target ambang batas kenaikan suhu paling aman yang ditetapkan di Paris Agreement sebesar 1,5 derajat Celcius di atas level suhu era pra-industri, dibutuhkan pengurangan emisi sebesar 7,6% per tahun selama periode 2020-2030.

Adapun untuk membatasi kenaikan suhu agar tidak melebihi 2 derajat Celcius, penurunan emisi karbondioksida (CO2) yang harus dilakukan sebesar 2,7% per tahun. Terkait perubahan iklim, berbagai upaya terus dilakukan oleh pemerintah Indonesia, di antaranya dengan melakukan berbagai inovasi, seperti misalnya penerbitan obligasi penggunaan lahan berkelanjutan pertama di dunia pada 2018, dengan nilai cukup fantastis yaitu US$ 95 juta. Indonesia juga melaksanakan komitmen untuk mengurangi 29% emisi gas rumah kaca (GRK) pada 2030 melalui pengelolaan lahan dan kehutanan, pengembangan dan konservasi energi, dan pengelolaan limbah.

Tidak hanya mempromosikan upaya-upaya dalam memitigasi dampak perubahan iklim, kita berharap para menteri dan pejabat tinggi Indonesia yang hadir di ajang WEF dapat meningkatkan peluang investasi di Tanah Air. Yang juga tidak kalah penting, ajang WEF bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dengan mitra kerja pemerintah maupun pelaku usaha global.

Di sisi lain, para pengusaha nasional papan atas yang juga hadir di ajang WEF diharapkan dapat mengundang mitra bisnisnya meningkatkan investasi mereka di Indonesia. Dengan demikian, ajang WEF tidak sekadar sebuah pertemuan informal, tapi juga benar-benar memberi manfaat bagi perekonomian Indonesia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN