Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

2015, Impor LPG Naik Jadi 3,6 Juta Ton

Senin, 2 Maret 2015 | 17:07 WIB
ah (redaksi@investor.id)

JAKARTA – Impor gas minyak cair (liquefied petroleum gas/LPG) pada tahun ini diperkirakan akan mencapai 3,6 juta ton atau lebih tinggi 600 ribu ton dibandingkan realisasi tahun lalu. Kenaikan impor didorong oleh peningkatan konsumsi.

Senior Vice President Non Fuel Marketing PT Pertamina (Persero) Taryono mengatakan, peningkatan konsumsi LPG utamanya terjadi pada jenis LPG 3 kilogram (kg) yang disubsidi pemerintah. Peningkatan konsumsi disebabkan oleh tambahan paket perdana konversi ke LPG yang dibagikan pada tahun ini.

“Kemarin kami impor LPG sebesar 3 juta ton, sekarang ini menjadi 3,6 juta ton,” kata dia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sesuai hasil rapat dengan Komisi VII DPR RI, volume LPG 3 kg ditetapkan sebesar 5,76 juta ton. Angka tersebut lebih besar dari realisasi konsumsi tahun lalu yang tercatat sebesar 4,98 juta ton. Peningkatan volume LPG 3 kg dengan asumsi kenaikan konsumsi 6%, ditambah adanya penyebaran baru paket perdana 2 juta kepala keluarga, dan migrasi dari LPG 12 kg sekitar 20-30%.

Taryono menambahkan, kenaikan konsumsi hanya terjadi pada LPG 3 kg. Penjualan LPG nonsubsidi ukuran 12 kg, 40 kg, dan bulk setiap tahunnya cenderung stagnan pada angka 1,2 juta ton. Sehingga, total konsumsi LPG pada tahun ini diperkirakan mencapai 6,9 juta ton. Dengan angka impor LPG sebesar 600 ribu ton, porsi impor naik sebesar 5%. “Impor sudah mencapai 55%,” ujar dia.

Terkait konsumsi LPG pada tahun mendatang, Taryono memprediksi akan ada peningkatan. Tahun ini memang program konversi dari minyak tanah ke LPG 3 kg akan selesai. Pertamina akan membagikan paket perdana ke beberapa daerah di Kalimantan, Sulawesi, dan sebagian kecil Sumatera Barat. “Namun, tetap akan ada kenaikan konsumsi sedikit karena ada kenaikan ekonomi,” tutur Taryono.

Dia berharap, kenaikan konsumsi ini justru terjadi pada produk LPG nonsubsidi. “Kami harap lari dari LPG 3 kg ke LPG 12 kg plus,” tambah dia.

Setelah terbebas dari kerugian di bisnis LPG 12 kg, menurut Taryono, Pertamina masih terancam merugi dalam penyaluran LPG 3 kg. Saat ini keekonomian LPG sekitar US$ 550 per ton dengan asumsi CP Aramco US$ 480 per ton dan biaya ongkos angkut US$ 70 per ton. (ayu)

Editor :

BAGIKAN