Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Impor LPG Naik 10% Per Tahun

Senin, 7 Desember 2015 | 17:17 WIB
Investor (redaksi@investor.id)

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) memperkirakan impor gas minyak cair (liquefied petroleum gas/ LPG) trennya terus naik sampai tahun depan, yang diproyeksikan sebesar sekitar 10%. Kenaikan impor didorong oleh peningkatan konsumsi LPG dalam negeri.


Senior Vice President Non Fuel Marketing Pertamina Taryono menuturkan, konsumsi LPG dalam negeri naik sekitar 10-12% setiap tahunnya, termasuk LPG bersubsidi 3 kilogram (kg) dan nonsubsidi. Peningkatan konsumsi ini mendorong naiknya impor LPG setiap tahunnya. “Impor naik sekitar 8-10% karena konsumsi LPG trennya naik di kisaran 10-12%,” kata dia di Jakarta, Minggu (6/12).


Pada 2014, konsumsi LPG nasional tercatat hanya hanya sebesar 6,1 juta ton, yakni LPG bersubsidi 4,98 juta ton dan nonsubsidi sekitar 1,2 juta ton. Konsumsi LPG ini diproyeksi naik menjadi 6,8 juta ton pada tahun ini, terdiri terdiri dari LPG bersubsidi 5,8 juta ton dan nonsubsidi 1 juta ton.


Konsumsi LPG ini diprediksi naik menjadi 7,8 juta ton pada tahun depan. “Rincinya, LPG PSO (public service obligation/bersubsidi) 6,6 juta ton dan non-PSO 1,2 juta ton,” ujar Taryono.


Kenaikan konsumsi ini didorong oleh peningkatan konsumsi LPG bersubsidi menyusul bertambahnya jumlah paket perdana LPG 3 kg yang dibagikan ke masyarakat. Tahun ini, paket perdana yang dibagikan mencapai 1,2 juta paket. Sejak dimulai pada 2007, hingga kini Pertamina telah membagikan 55,3 juta paket perdana. Sementara konsumsi LPG nonsubsidi cenderung stagnan.


Sayangnya, kenaikan konsumsi ini tidak diikuti dengan peningkatan kapasitas LPG dalam negeri. Taryono mencatat kapasitas produksi LPG domestik baik dari kilang Pertamina, kilang swasta, dan produksi langsung dari sumur gas hanya sekitar 3 juta ton, jauh dari konsumsi tahunan di dalam negeri.


Pada tahun-tahun sebelumnya, porsi impor LPG hanya sekitar 50% dari konsumsi. Namun, porsi LPG yang diimpor setiap tahunnya semakin mendominasi. Dengan konsumsi tahun ini sekitar 6,8 juta ton, maka impor LPG telah mencapai 3,8 juta ton atau sekitar 55% dari konsumsi. Sementara pada tahun depan dengan konsumsi 7,8 juta ton, maka impor menjadi 4,8 juta ton atau menyentuh 61% dari konsumsi.


Taryono mengakui, penambahan produksi LPG dalam negeri pada tahun depan tidak terlalu signfikan. Pada 2016, produksi LPG domestik hanya naik sekitar 450 ribu ton. “Tambahan itu dari RFCC (residual fluid catalytic cracking) Kilang Cilacap yang baru saja beroperasi 1,200 ton per hari dan Lapangan Offshore North West Java 40-50 ton per hari,” jelas dia. (ayu)

Editor :

BAGIKAN